RadarBangkalan.id - Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengungkapkan dirinya pernah memiliki berat badan hingga 100 kilogram dan tidak menyadari bahwa ia telah mengalami obesitas dengan risiko tinggi terkena penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung. Pengalaman menangani pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat (IGD) menjadi titik balik yang mendorongnya menjalani program penurunan berat badan.
Dalam sebuah talkshow di Kementerian Kesehatan RI, dr Gia Pratama mengatakan dirinya mulai berkomitmen menjalani diet setelah menyelamatkan pasien serangan jantung yang memiliki usia dan tanggal lahir sama dengannya. Momen tersebut membuatnya merenungkan kondisi kesehatannya sendiri dan memutuskan untuk mengubah gaya hidup.
Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Cara Diet Sehat di Warteg, Tak Perlu Salad atau Quinoa Mahal
"Yang mentrigger harus turun berat badan ketika di IGD menerima pasien serangan jantung di depan saya. Umurnya sama, ulang tahunnya sama. Dalam hati saya bertanya, apakah saya berikutnya?" ujar dr Gia.
Ia kemudian menetapkan komitmen menjalani program diet selama enam bulan sebagai langkah awal untuk memperbaiki kesehatannya.
Defisit Kalori Jadi Kunci
Menurut dr Gia, penyebab obesitas sering kali berawal dari kebiasaan makan berlebihan yang tidak disadari. Ia mencontohkan kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi kalori, seperti gorengan, dalam jumlah banyak tanpa memperhatikan total asupan energi harian.
"Nggak sadar diri, ambil satu gorengan, tahu-tahu lima yang habis," katanya.
Baca Juga: Tak Perlu Menahan Lapar, Ini 5 Makanan Diet yang Membantu Menurunkan Berat Badan
Alih-alih mengikuti pola diet tertentu, dr Gia memilih menerapkan prinsip defisit kalori. Ia menekankan bahwa dirinya tidak mengurangi asupan nutrisi penting, melainkan memangkas konsumsi makanan yang tinggi kalori tetapi minim nilai gizi.
"Saya tidak puasa nutrisi, tapi puasa kalori," jelasnya.
Ia menyebut makanan seperti gorengan dan seblak umumnya tinggi kalori, tetapi tidak memberikan vitamin maupun mineral yang cukup bagi tubuh. Karena itu, makanan tersebut menjadi salah satu yang dikurangi dalam pola makannya.
Baca Juga: Sakit Ginjal atau Nyeri Punggung? Kenali 3 Perbedaan Utamanya agar Tak Salah Diagnosis
Penurunan Berat Badan Butuh Proses
Dr Gia juga mengingatkan bahwa proses menurunkan berat badan tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, kenaikan berat badan juga terjadi secara bertahap, sehingga penurunannya pun membutuhkan waktu dan konsistensi.
"Yakin bahwa saya menggemuk tidak dalam sehari, berarti melangsing juga tidak dalam sehari. Jadi butuh proses," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan makan yang lebih sehat dan menjaga keseimbangan antara asupan kalori dengan kebutuhan tubuh agar hasil penurunan berat badan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah
Editor : Ubaidillah