RadarBangkalan.id - Gangguan kesehatan mental di lingkungan kerja menjadi perhatian serius seiring meningkatnya tekanan pekerjaan dan penggunaan teknologi digital. Survei nasional di Malaysia mengungkap sebanyak 16,91 persen pekerja mengalami gangguan psikososial yang dipicu oleh berbagai faktor di tempat kerja, termasuk fenomena baru yang dikenal sebagai teknostres.
Data tersebut berasal dari Program Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Nasional yang dilaksanakan sepanjang 2023 hingga 2025. Survei melibatkan sekitar 100.000 pekerja dari tujuh sektor industri untuk mengevaluasi berbagai risiko psikososial di lingkungan kerja.
Baca Juga: Tak Perlu Menahan Lapar, Ini 5 Makanan Diet yang Membantu Menurunkan Berat Badan
Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia, R Ramanan, mengatakan hasil survei menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan untuk meningkatkan kesehatan mental pekerja.
Beban Kerja Tinggi Jadi Pemicu Utama
Berdasarkan hasil survei, terdapat beberapa faktor yang paling sering memicu gangguan psikososial di tempat kerja, yaitu:
- Beban kerja yang terlalu tinggi (high workload).
- Ritme kerja yang terlalu cepat.
- Tekanan tenggat waktu (time-based pressure).
Ketiga faktor tersebut dinilai meningkatkan risiko stres berkepanjangan, kecemasan, hingga penurunan kesejahteraan mental pekerja apabila tidak dikelola dengan baik.
Teknostres Jadi Ancaman Baru
Selain tekanan pekerjaan konvensional, survei juga menyoroti munculnya teknostres, yaitu kondisi stres akibat penggunaan teknologi digital secara berlebihan di lingkungan kerja.
Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Cara Diet Sehat di Warteg, Tak Perlu Salad atau Quinoa Mahal
Teknostres dapat muncul karena tingginya ketergantungan terhadap perangkat digital, tuntutan untuk selalu terhubung, serta kesulitan pekerja beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Menurut Ramanan, temuan ini memberikan gambaran nyata mengenai kondisi kesehatan mental pekerja dan akan dimanfaatkan pemerintah untuk menyusun strategi pencegahan yang lebih efektif.
"Temuan dari studi ini memberikan data empiris penting bagi kementerian mengenai status kesehatan mental para pekerja, yang nantinya akan digunakan untuk merumuskan strategi pencegahan yang jauh lebih efektif," ujarnya seperti dikutip dari Free Malaysia Today.
Baca Juga: Sakit Ginjal atau Nyeri Punggung? Kenali 3 Perbedaan Utamanya agar Tak Salah Diagnosis
Produktivitas Ikut Terdampak
Isu kesehatan mental pekerja juga menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap produktivitas perusahaan maupun perekonomian. Tingginya angka kecemasan, stres, dan gangguan psikososial dapat meningkatkan risiko penurunan kinerja, absensi, hingga kelelahan kerja (burnout).
Karena itu, para ahli menilai perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang lebih sehat melalui pengelolaan beban kerja, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), serta dukungan terhadap kesehatan mental karyawan.
Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah
Editor : Ubaidillah