RadarBangkalan.id - Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa jenis pekerjaan tertentu kemungkinan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium pada perempuan. Meski usia, faktor genetik, dan kondisi kesehatan tetap menjadi penyebab utama, paparan zat tertentu di lingkungan kerja diduga turut berkontribusi terhadap munculnya penyakit ini.
Peneliti mengidentifikasi lima kelompok profesi yang memiliki risiko lebih tinggi, mulai dari penata rambut hingga pekerja konstruksi. Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh lingkungan kerja terhadap kesehatan reproduksi perempuan.
Baca Juga: Tak Perlu Menahan Lapar, Ini 5 Makanan Diet yang Membantu Menurunkan Berat Badan
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine dan dipimpin akademisi dari University of Montreal, Kanada, menganalisis data 491 perempuan penderita kanker ovarium serta membandingkannya dengan 897 perempuan yang tidak mengidap penyakit tersebut.
Para peneliti memanfaatkan Canadian Job-Exposure Matrix untuk mengevaluasi kemungkinan paparan berbagai bahan kimia berdasarkan jenis pekerjaan masing-masing responden. Setelah memperhitungkan sejumlah faktor risiko lain, ditemukan adanya hubungan antara beberapa profesi dengan peningkatan risiko kanker ovarium.
Lima Profesi yang Dikaitkan dengan Risiko Lebih Tinggi
Hasil penelitian menunjukkan beberapa kelompok pekerjaan memiliki risiko lebih besar dibandingkan populasi umum, yaitu:
- Penata rambut, tukang cukur, dan ahli kecantikan memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi terkena kanker ovarium.
- Akuntan yang telah bekerja selama sekitar 10 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengalami kanker ovarium.
- Pekerja sektor konstruksi tercatat memiliki risiko hampir tiga kali lipat.
- Asisten toko dan tenaga penjualan mengalami peningkatan risiko sekitar 45 persen.
- Pekerja yang membuat atau memperbaiki pakaian memiliki risiko sekitar 85 persen lebih tinggi.
Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Cara Diet Sehat di Warteg, Tak Perlu Salad atau Quinoa Mahal
Meski demikian, penelitian ini menunjukkan adanya hubungan (asosiasi), bukan membuktikan bahwa pekerjaan tersebut secara langsung menyebabkan kanker ovarium.
Paparan Zat Kimia Diduga Berperan
Peneliti menemukan bahwa profesi-profesi tersebut memiliki peluang lebih besar terpapar berbagai bahan kimia selama bekerja.
Beberapa zat yang disebut antara lain:
Baca Juga: Sakit Ginjal atau Nyeri Punggung? Kenali 3 Perbedaan Utamanya agar Tak Salah Diagnosis
- Bedak kosmetik
- Amonia
- Hidrogen peroksida
- Debu rambut (hair dust)
- Serat sintetis
- Serat poliester
- Pewarna organik
- Pigmen
- Bahan pemutih
"Kami mengamati adanya hubungan yang menunjukkan bahwa akuntansi, tata rambut, penjualan, menjahit, dan pekerjaan terkait mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko," tulis para peneliti.
Mereka menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian berskala lebih besar untuk memastikan apakah paparan di tempat kerja benar-benar berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker ovarium.
Perempuan Dinilai Masih Kurang Terwakili dalam Penelitian
Dalam editorial yang menyertai publikasi tersebut, akademisi dari National Cancer Institute, Maryland, Amerika Serikat, menilai perempuan masih kurang terwakili dalam penelitian mengenai kanker akibat faktor pekerjaan.
Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah
Mereka menekankan pentingnya memperluas penelitian mengenai risiko kesehatan kerja yang secara khusus dialami perempuan agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih efektif.
Faktor Risiko Kanker Ovarium
Selain faktor pekerjaan, sejumlah kondisi telah lama diketahui meningkatkan risiko kanker ovarium, di antaranya:
- Usia, terutama setelah menopause dan pada perempuan berusia di atas 63 tahun.
- Faktor genetik, seperti mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 atau riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, rahim, maupun kolorektal.
- Kondisi medis, termasuk endometriosis dan obesitas.
- Riwayat kehamilan, seperti belum pernah hamil, memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun, atau tidak pernah menyusui.
- Faktor hormonal, seperti tidak pernah menggunakan pil kontrasepsi atau menjalani terapi penggantian hormon setelah menopause.
Baca Juga: 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan, Salah Satunya Gatal Tak Kunjung Hilang
Para ahli mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak berarti seseorang yang bekerja pada profesi tertentu pasti akan mengalami kanker ovarium. Pemeriksaan kesehatan rutin, mengenali faktor risiko, serta menerapkan gaya hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit tersebut.
Editor : Ubaidillah