RadarBangkalan.id - Keputusan pemerintah negara bagian Benggala Barat, India, untuk menghapus telur dari menu makan siang gratis di sejumlah sekolah negeri memicu perdebatan luas. Kebijakan tersebut menuai kritik dari ahli gizi, orang tua, hingga kalangan pendidik karena dikhawatirkan berdampak pada asupan protein jutaan anak sekolah.
Penghapusan telur merupakan bagian dari proyek percontohan yang mengganti menu makan siang dengan makanan vegetarian dalam program midday meal programme, yakni program makan siang gratis bagi siswa sekolah negeri dan sekolah penerima bantuan pemerintah.
Baca Juga: Sering Menyundul Bola Saat Bermain Sepak Bola, Apakah Bisa Merusak Otak?
Bagi banyak anak dari keluarga kurang mampu, program tersebut menjadi sumber makanan paling bergizi, bahkan terkadang menjadi satu-satunya makanan utama yang mereka konsumsi setiap hari. Selama bertahun-tahun, program ini dinilai berhasil meningkatkan status gizi, menekan angka kelaparan, dan meningkatkan kehadiran siswa di sekolah.
ISKCON Jadi Penyedia Menu Vegetarian
Kontroversi muncul setelah pemerintah Benggala Barat yang dipimpin Partai Bharatiya Janata Party (BJP) menunjuk International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) melalui Annamitra Foundation sebagai penyedia makanan di sekolah-sekolah yang dikelola Kolkata Municipal Corporation.
Baca Juga: Tanda-Tanda Kematian yang Muncul di Tangan dan Kaki, Ini Penjelasan Ahli
Karena ISKCON hanya menyediakan makanan vegetarian, telur dalam menu makan siang diganti dengan sumber protein nabati dan produk vegetarian lainnya.
Meski kebijakan tersebut masih berupa proyek percontohan dan belum dipastikan diterapkan secara luas, langkah itu kembali memunculkan perdebatan mengenai standar gizi dalam program makan siang sekolah di India.
Baca Juga: BPOM Rilis Daftar 14 Kosmetik Berbahaya 2026, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Partai oposisi All India Trinamool Congress (TMC) menilai kebijakan tersebut merupakan upaya memaksakan pola makan vegetarian kepada siswa sekolah negeri.
Baca Juga: Kasus Kanker di Indonesia Diprediksi Naik 70 Persen, Kenali 7 Gejala Awal yang Tak Boleh Diabaikan
Ahli Gizi: Telur Sulit Digantikan
Ahli gizi dari Sir Ganga Ram Hospital, New Delhi, Fareha Shanam, menegaskan telur merupakan salah satu sumber protein paling murah sekaligus memiliki kandungan nutrisi lengkap.
Menurutnya, telur mengandung sembilan asam amino esensial serta kaya vitamin D dan vitamin B12 yang penting untuk mendukung pertumbuhan anak.
Ia menilai bahan makanan lain seperti paneer atau keju memang dapat menjadi alternatif, tetapi harganya jauh lebih mahal sehingga sulit diterapkan secara konsisten dalam program makan siang pemerintah.
Pendapat serupa disampaikan dokter penyakit dalam dari Gleneagles Aware Hospital, Hyderabad, Dr Vamshi V.
Baca Juga: 7 Makanan Orang Jepang yang Diyakini Bantu Panjang Umur, Ada Matcha hingga Ubi Ungu
Ia mengingatkan bahwa mengganti telur tanpa memastikan kandungan gizinya setara dapat meningkatkan risiko kekurangan protein dan mikronutrien penting.
"Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan, kemampuan belajar, serta daya tahan tubuh anak," ujarnya.
Baca Juga: Studi Ungkap 5 Profesi yang Dikaitkan dengan Risiko Kanker Ovarium Lebih Tinggi
Orang Tua dan Guru Ikut Khawatir
Kebijakan tersebut juga memunculkan kekhawatiran di kalangan orang tua murid.
Salah satunya, Chaitali Mitra, yang mengaku lebih tenang apabila menu makan siang sekolah tetap menyediakan telur karena dapat membantu memenuhi kebutuhan protein anak yang sedang tumbuh.
Guru sekolah negeri juga menilai program makan siang gratis menjadi salah satu faktor utama yang membuat anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bersekolah.
Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Cara Diet Sehat di Warteg, Tak Perlu Salad atau Quinoa Mahal
Banyak siswa datang ke sekolah dalam kondisi lapar dan mengandalkan makan siang gratis sebagai asupan utama setiap harinya.
Solusi Kompromi: Beri Pilihan kepada Siswa
Di tengah polemik, sejumlah politisi, aktivis, dan pendidik mengusulkan agar sekolah menyediakan dua pilihan menu sehingga siswa dapat menentukan sendiri apakah ingin mengonsumsi telur atau makanan vegetarian.
Model tersebut telah diterapkan di beberapa wilayah India, termasuk negara bagian Bihar.
Baca Juga: Diet Mentimun Jepang Diklaim Turunkan 11 Kg dalam 2 Bulan, Ini Fakta dan Risikonya
Di sana, siswa yang mengonsumsi telur tetap mendapatkan telur, sedangkan siswa yang memilih menu vegetarian diberikan alternatif seperti pisang, tanpa ada paksaan memilih salah satu menu.
Hingga kini, pemerintah Benggala Barat masih membahas implementasi proyek tersebut bersama ISKCON dan belum memutuskan apakah kebijakan penghapusan telur akan diperluas ke seluruh sekolah negeri di wilayah tersebut.
Baca Juga: Minum Kopi Bikin Sering Buang Air Kecil? Ini Penjelasan Dokter Urologi
Editor : Ubaidillah