RadarBangkalan.id - Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah turun di bawah batas normal sehingga tubuh kekurangan pasokan glukosa sebagai sumber energi utama. Kondisi ini paling sering dialami oleh penderita diabetes, terutama diabetes tipe 1, tetapi juga dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki diabetes akibat berbagai faktor medis maupun gaya hidup.
Hipoglikemia perlu segera ditangani karena dapat memicu gejala ringan seperti gemetar dan lapar, hingga kondisi serius berupa kejang, kehilangan kesadaran, koma, bahkan mengancam nyawa apabila tidak segera mendapat pertolongan.
Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi seluruh sel tubuh, termasuk otak. Ketika kadar gula darah turun terlalu rendah, fungsi organ dapat terganggu sehingga muncul berbagai gejala yang membutuhkan penanganan cepat.
Menurut Cleveland Clinic, pada penderita diabetes hipoglikemia umumnya terjadi ketika kadar gula darah berada di bawah 70 mg/dL (3,9 mmol/L). Sementara pada orang tanpa diabetes, kondisi ini biasanya didefinisikan ketika kadar gula darah berada di bawah 55 mg/dL (3,1 mmol/L).
Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Jalan Kaki untuk Jantung? Studi Ungkap Pagi hingga Malam Punya Manfaat Berbeda
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Universitas Airlangga, dr. Hermina Novida, SpPD-KEMD, FINASIM, menjelaskan bahwa hipoglikemia tidak hanya terjadi pada pasien diabetes, tetapi juga dapat dipicu aktivitas fisik berlebihan, kurangnya asupan kalori, hingga gangguan metabolisme insulin.
Penyebab Hipoglikemia
Hipoglikemia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, baik medis maupun nonmedis.
Baca Juga: Dokter Jelaskan Perbedaan Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Sakit Jantung Orang Dewasa
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Dokter Tegaskan Main Gadget Tidak Membuat Jantung Anak Lemah
Beberapa penyebab medis meliputi:
Baca Juga: IDAI: 1 dari 3 Remaja di Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kenali Tandanya
- Aktivitas fisik berlebihan yang meningkatkan penggunaan glukosa.
- Puasa terlalu lama.
- Penyakit hati kronis yang mengurangi cadangan glikogen.
- Penyakit ginjal kronis.
- Insulinoma atau tumor penghasil insulin.
- Efek samping obat-obatan tertentu.
- Infeksi berat atau kondisi kritis yang mengganggu asupan nutrisi.
Sementara faktor nonmedis yang dapat memicu hipoglikemia antara lain:
- Pola makan tidak teratur.
- Asupan kalori yang kurang.
- Komposisi makanan yang tidak seimbang.
- Stres berkepanjangan.
- Kurang tidur sehingga menyebabkan seseorang melewatkan waktu makan.
Gejala Hipoglikemia
Gejala gula darah rendah biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat berbeda pada setiap orang.
Baca Juga: Tidak Pernah Menstruasi Sejak Pubertas, Ternyata Remaja Ini Terlahir Tanpa Serviks dan Vagina
Gejala awal meliputi:
- Tubuh gemetar.
- Badan lemas.
- Berkeringat dingin.
- Rasa lapar berlebihan.
- Jantung berdebar.
- Pusing.
- Sulit berkonsentrasi.
- Cemas atau mudah marah.
- Kulit pucat.
- Kesemutan pada bibir, lidah, atau pipi.
Jika kadar gula darah terus menurun, gejala dapat berkembang menjadi:
Baca Juga: Dokter Ungkap Risiko Weightlifting Asal-asalan, Bisa Picu Tulang Geser (Spondylolisthesis)
- Penglihatan kabur.
- Bicara pelo.
- Gerakan tubuh tidak terkoordinasi.
- Disorientasi.
- Kejang.
- Kehilangan kesadaran.
- Koma.
Hipoglikemia berat merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera.
Baca Juga: Prancis Setujui RUU Euthanasia, Pasien Penyakit Terminal Bisa Akhiri Hidup Secara Medis
Gejala Hipoglikemia Saat Tidur
Hipoglikemia juga dapat terjadi saat tidur atau dikenal sebagai hipoglikemia nokturnal.
Baca Juga: Dokter Anjurkan Orang Tua Ajak Anak Bermain Sepak Bola Usai Nonton Piala Dunia, Ini Manfaatnya
Tanda-tandanya antara lain:
- Tidur gelisah.
- Berkeringat hingga pakaian atau seprai basah.
- Berteriak atau berbicara saat tidur.
- Mimpi buruk.
- Bangun dalam kondisi lelah, bingung, atau disorientasi.
Kapan Gejala Hipoglikemia Muncul?
Pada penderita diabetes, gejala biasanya mulai muncul ketika kadar gula darah mencapai sekitar 70 mg/dL atau lebih rendah. Namun, bila penurunan gula darah berlangsung sangat cepat, gejala dapat muncul sebelum angka tersebut tercapai.
Sebaliknya, penderita diabetes yang terbiasa mengalami gula darah tinggi dapat mulai merasakan gejala hipoglikemia meskipun kadar gula darahnya masih berada di atas 70 mg/dL.
Baca Juga: Sering Menyundul Bola Saat Bermain Sepak Bola, Apakah Bisa Merusak Otak?
Apa Itu Hypoglycemia Unawareness?
Sebagian penderita diabetes tidak lagi merasakan tanda-tanda ketika gula darah turun. Kondisi ini disebut hypoglycemia unawareness atau ketidaksadaran terhadap hipoglikemia.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia berat karena penderita tidak menyadari perlunya segera mengonsumsi gula.
Dokter biasanya menyarankan penggunaan Continuous Glucose Monitoring (CGM), pemeriksaan gula darah lebih sering, serta edukasi kepada keluarga agar dapat memberikan pertolongan apabila terjadi kondisi darurat.
Cara Mengatasi Hipoglikemia
Hipoglikemia harus segera ditangani dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula atau karbohidrat cepat serap.
Pada kasus yang berat hingga menyebabkan penurunan kesadaran, pasien memerlukan suntikan glukagon dan harus segera mendapatkan pertolongan medis di rumah sakit.
Cara Mencegah Hipoglikemia
Untuk mengurangi risiko hipoglikemia, beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
- Makan secara teratur dengan gizi seimbang.
- Tidak melewatkan waktu makan.
- Menghindari olahraga berlebihan.
- Mengonsumsi camilan sebelum berolahraga bila diperlukan.
- Memantau kadar gula darah secara rutin bagi penderita diabetes.
- Mengelola stres dan mencukupi waktu istirahat.
Dr. Hermina juga mengingatkan pentingnya edukasi masyarakat mengenai tanda awal hipoglikemia agar pertolongan dapat diberikan lebih cepat sehingga komplikasi serius dapat dicegah.
Memahami penyebab, gejala, dan cara penanganan hipoglikemia menjadi langkah penting untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil serta mencegah kondisi yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Editor : Ubaidillah