RadarBangkalan.id - Paparan berita negatif yang terus-menerus dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental. Kebiasaan membaca kabar buruk secara berulang atau doomscrolling diketahui mampu meningkatkan kecemasan, memicu stres berkepanjangan, hingga mengganggu kesehatan fisik apabila tidak dikendalikan.
Psikolog mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi informasi di era digital. Selain membatasi paparan berita yang memicu kecemasan, masyarakat juga dianjurkan mencari sumber informasi yang kredibel dan menyeimbangkannya dengan konten positif.
Baca Juga: Hipoglikemia Bisa Terjadi pada Orang Tanpa Diabetes, Ini Penyebab dan Gejalanya
Di era digital, arus informasi mengalir tanpa henti melalui media sosial maupun platform berita. Meski memudahkan akses informasi, kondisi tersebut membuat banyak orang terpapar berita konflik, bencana, hingga berbagai isu yang memicu tekanan emosional.
Psikolog klinis Universitas Gadjah Mada (UGM), Pamela Andari Priyudha, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa paparan berita buruk secara terus-menerus dapat memicu ketegangan psikologis yang bersifat kronis dan kolektif.
Menurutnya, seseorang yang merasa tidak berdaya menghadapi berbagai peristiwa negatif berisiko mengalami learned helplessness, yaitu kondisi ketika individu merasa tidak mampu mengubah situasi meskipun sebenarnya masih memiliki peluang untuk bertindak.
"Kondisi ini dapat memicu sikap apatis, frustrasi, hingga depresi secara kolektif apabila terus dibiarkan," jelas Pamela.
Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih
Temuan tersebut juga diperkuat oleh penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports pada Agustus 2024. Studi terhadap sekitar 800 orang dewasa menunjukkan bahwa kebiasaan doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya kecemasan eksistensial, yakni rasa takut atau panik terhadap berbagai ketidakpastian hidup.
Penelitian lain dalam jurnal Computers in Human Behavior pada April 2024 juga menemukan bahwa karyawan yang sering melakukan doomscrolling saat bekerja cenderung mengalami penurunan fokus dan keterlibatan dalam pekerjaannya.
Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Jalan Kaki untuk Jantung? Studi Ungkap Pagi hingga Malam Punya Manfaat Berbeda
Tak hanya memengaruhi kesehatan mental, kebiasaan membaca berita negatif secara berlebihan juga dapat memicu berbagai keluhan fisik. Para ahli dari Harvard Health menyebutkan dampaknya meliputi sakit kepala, nyeri leher dan bahu, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, hingga meningkatnya tekanan darah.
Selain itu, terlalu lama terpaku pada layar saat mengikuti berita juga membuat seseorang menjadi kurang aktif bergerak sehingga memperbesar risiko gangguan kesehatan lainnya.
Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk
Untuk mengurangi dampak negatif paparan informasi, Pamela membagikan beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Hotman Paris Lepas Kuasa Hukum Febrie Adriansyah karena Kondisi Kesehatan Memburuk
1. Batasi Konsumsi Berita Negatif
Kurangi durasi membaca berita yang memicu kecemasan, terutama saat kondisi emosional sedang tidak stabil. Hindari terus-menerus mengikuti isu yang membuat stres apabila tidak berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
2. Cari Informasi dari Berbagai Sumber Kredibel
Jangan langsung mempercayai satu informasi. Biasakan membandingkan berita dari beberapa media terpercaya agar memperoleh sudut pandang yang lebih objektif dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
3. Seimbangkan dengan Konten Positif
Luangkan waktu untuk mengonsumsi konten yang inspiratif, edukatif, atau menghibur. Aktivitas tersebut dapat membantu menjaga suasana hati tetap positif dan mengurangi tekanan akibat paparan berita negatif.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Dokter Tegaskan Main Gadget Tidak Membuat Jantung Anak Lemah
Pamela juga mengingatkan pentingnya membedakan antara hal-hal yang dapat dikendalikan dan yang berada di luar kendali pribadi. Dengan fokus pada tindakan yang bisa dilakukan, seseorang akan lebih mudah menjaga optimisme.
Baca Juga: IDAI: 1 dari 3 Remaja di Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kenali Tandanya
Kelompok yang Lebih Rentan
Menurut Pamela, beberapa kelompok lebih rentan mengalami dampak psikologis akibat paparan berita negatif, antara lain:
- Orang tua dan lansia.
- Remaja serta anak muda yang aktif menggunakan media sosial.
- Masyarakat dengan literasi digital rendah dan akses terbatas terhadap sumber informasi yang kredibel.
Ia menekankan bahwa kemampuan mengelola emosi menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa besar dampak berita negatif terhadap kesehatan mental seseorang.
Karena itu, edukasi mengenai literasi digital dan keterampilan mengelola emosi perlu terus ditingkatkan melalui keluarga, sekolah, maupun komunitas agar masyarakat lebih tangguh menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Baca Juga: Dokter Ungkap Risiko Weightlifting Asal-asalan, Bisa Picu Tulang Geser (Spondylolisthesis)
Editor : Ubaidillah