Singapura Catat 441 Kasus Bunuh Diri pada 2024, Mayoritas Korban adalah Pria

Ubaidillah • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 07:00 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion
Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion

 

RadarBangkalan.id - Singapura mencatat 441 kasus bunuh diri sepanjang 2024 berdasarkan data final yang dirilis otoritas setempat. Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok usia 30 hingga 39 tahun, meski jumlah kasus pada sebagian besar kelompok umur lainnya justru mengalami penurunan.

Data yang dirilis Samaritans of Singapore (SOS) berdasarkan catatan Immigration and Checkpoints Authority (ICA) menunjukkan terdapat 99 kasus bunuh diri pada kelompok usia 30-39 tahun selama 2024. Jumlah itu meningkat 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 66 kasus.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Ngorok Saat Tidur, Dokter Sebut Sleep Apnea Bisa Sebabkan Kematian

 

Lonjakan tersebut menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian nomor dua pada kelompok usia produktif tersebut. Menurut SOS, tekanan hidup yang kompleks menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi kesehatan mental kelompok usia 30-39 tahun.

Tekanan Pekerjaan hingga Isolasi Sosial

SOS menjelaskan bahwa orang dewasa berusia 30-39 tahun umumnya menghadapi berbagai tekanan sekaligus, mulai dari tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, persoalan finansial, hingga perasaan terisolasi secara sosial.

Baca Juga: Fenomena Bediding Bikin Suhu di Jawa Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebab dan Daerah Terparah

Pengamatan dari layanan krisis 24 jam yang dikelola organisasi tersebut menunjukkan banyak individu dalam kelompok usia ini mengalami kesulitan untuk menyeimbangkan berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, data sementara tahun 2025 mencatat 256 kasus bunuh diri di Singapura. Namun angka tersebut masih dapat berubah karena sebagian kasus kematian tidak wajar masih dalam proses investigasi koroner.

Mayoritas Korban adalah Laki-laki

Dari total 441 kasus bunuh diri yang tercatat pada 2024, sebanyak 290 korban atau sekitar 65,8 persen merupakan laki-laki. Sementara itu, perempuan menyumbang 151 kasus atau sekitar 34,2 persen.

Perbedaan tersebut paling mencolok pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Pada kelompok lansia, angka bunuh diri laki-laki tercatat hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk, Hindari Doomscrolling Berlebihan

Menurut SOS, sejumlah penelitian menunjukkan laki-laki cenderung:

Pada kelompok usia lanjut, masalah kesehatan, keterbatasan fisik, kesepian, dan berkurangnya interaksi sosial menjadi faktor yang sering ditemukan.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk, Hindari Doomscrolling Berlebihan

Bunuh Diri Masih Jadi Penyebab Kematian Utama Anak Muda

Selain kelompok usia produktif, bunuh diri juga masih menjadi penyebab kematian utama pada kelompok usia 10 hingga 29 tahun di Singapura.

Permasalahan yang paling sering dihadapi kelompok usia muda meliputi:

Secara keseluruhan, tingkat kematian akibat bunuh diri di Singapura meningkat tipis menjadi 8,23 per 100.000 penduduk pada 2024.

Baca Juga: Hipoglikemia Bisa Terjadi pada Orang Tanpa Diabetes, Ini Penyebab dan Gejalanya

SOS Tangani Lebih dari 55 Ribu Panggilan Krisis

Sepanjang tahun terakhir, SOS menangani lebih dari 55.000 panggilan dan percakapan melalui layanan hotline 24 jam serta platform CareText.

Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih

Organisasi tersebut juga melaporkan berhasil mencegah satu upaya bunuh diri berisiko tinggi setiap 13 jam melalui intervensi krisis yang dilakukan petugas terlatih.

Selain layanan darurat, SOS memberikan pelatihan kepada lebih dari 2.000 orang di sekolah, tempat kerja, dan komunitas agar mampu mengenali tanda-tanda krisis psikologis dan menghubungkan individu yang membutuhkan dengan layanan bantuan profesional.

Lebih dari 1.200 orang juga menerima layanan konseling tatap muka maupun kelompok dukungan selama periode tersebut.

Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Jalan Kaki untuk Jantung? Studi Ungkap Pagi hingga Malam Punya Manfaat Berbeda

Pencegahan Bunuh Diri Perlu Peran Semua Pihak

CEO SOS Terry Siow menegaskan bahwa pencegahan bunuh diri tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan mental atau layanan krisis.

Menurutnya, keluarga, teman, rekan kerja, hingga masyarakat sekitar memiliki peran penting dalam mengenali tanda-tanda seseorang sedang mengalami kesulitan emosional dan membantu mereka mendapatkan dukungan yang tepat.

Baca Juga: Dokter Jelaskan Perbedaan Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Sakit Jantung Orang Dewasa

Para ahli kesehatan mental juga mengingatkan bahwa setiap kasus bunuh diri bukan sekadar angka statistik, melainkan kehilangan besar yang meninggalkan dampak mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekat korban.

Editor : Ubaidillah
usia 30-an angka bunuh diri singapura kesehatan mental bunuh diri