Konten Fahira Almira soal RS Penang Disorot, Pakar Minta Kemenkes Lakukan Investigasi

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Unggahan kontroversial soal pengalaman berobat di Penang memantik kontroversi di kalangan medis. Foto: Getty Images/Victoria
Kotlyarchuk
Unggahan kontroversial soal pengalaman berobat di Penang memantik kontroversi di kalangan medis. Foto: Getty Images/Victoria Kotlyarchuk

 

RadarBangkalan.id - Kontroversi konten kreator Fahira Almira yang membandingkan hasil diagnosis usus buntu di sejumlah rumah sakit Indonesia dengan rumah sakit di Penang, Malaysia, terus menjadi perbincangan publik. Polemik tersebut bahkan memicu spekulasi mengenai dugaan promosi atau kampanye komersial terselubung terhadap layanan kesehatan luar negeri.

Perdebatan bermula setelah Fahira Almira mengunggah pengalamannya berobat dan mengaku mendapatkan diagnosis yang berbeda antara beberapa rumah sakit di Indonesia dan rumah sakit di Penang. Unggahan tersebut kemudian viral di media sosial dan memunculkan beragam reaksi dari masyarakat.

Baca Juga: IDI Buka Suara soal Konten Fahira Almira, Tegaskan Kritik Pasien Tidak Perlu Dibawa ke Ranah Hukum

 

Sebagian netizen menilai konten tersebut sebagai bentuk kritik terhadap layanan kesehatan di Indonesia. Namun, tidak sedikit pula yang menduga adanya unsur promosi terselubung yang berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap kualitas layanan kesehatan dalam negeri.

Menanggapi polemik tersebut, dokter sekaligus pakar Global Health Security, dr Dicky Budiman, meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan investigasi secara objektif. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan apakah informasi yang disampaikan benar-benar berdasarkan fakta medis atau memiliki kepentingan komersial tertentu.

"Saran saya, ya, investigasi resmi dari Kemenkes supaya ada langkah proporsional dan tepat untuk memverifikasi apakah ini kritik jujur berbasis fakta medis atau kampanye komersial terselubung," ujar dr Dicky.

Baca Juga: Bansos Dihentikan untuk Rekening Terindikasi Judi Online, Ribuan KPM Dicoret

Ia menegaskan bahwa proses verifikasi harus dilakukan secara transparan dan berbasis bukti. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memeriksa rekam medis resmi pasien apabila terdapat perbedaan diagnosis yang menimbulkan keraguan.

Menurut dr Dicky, klarifikasi berbasis data medis penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem pelayanan kesehatan nasional sekaligus mencegah berkembangnya informasi yang belum terverifikasi.

Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku belum mempelajari secara detail konten yang menjadi perdebatan tersebut. Namun, ia memastikan akan meninjau dan mencari informasi lebih lanjut sebelum memberikan tanggapan resmi.

"Saya belum lihat, tapi nanti saya akan catat, nanti aku cari," kata Menkes Budi saat ditemui wartawan di Jakarta Selatan.

Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan dan profesi dokter di Indonesia. Sejumlah pihak berharap polemik tersebut dapat diselesaikan melalui pemeriksaan fakta dan data medis yang akurat sehingga tidak menimbulkan kesimpulan yang menyesatkan.

Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China

Di tengah maraknya perdebatan di media sosial, para pakar mengingatkan pentingnya masyarakat bersikap kritis terhadap setiap informasi kesehatan yang beredar. Evaluasi berbasis data dinilai menjadi langkah terbaik untuk memastikan kebenaran suatu klaim sebelum menarik kesimpulan yang lebih luas.

Editor : Ubaidillah
viral fahira almira Radang Usus Buntu usus buntu rumah sakit