RadarBangkalan.id - Stres tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga dapat mengubah pola makan seseorang. Sebagian orang kehilangan nafsu makan ketika menghadapi tekanan, sementara sebagian lainnya justru mengalami stress eating atau makan berlebihan sebagai pelampiasan emosi.
Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan berat badan meningkat drastis. Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa kenaikan berat badan hingga puluhan kilogram akibat stress eating perlu menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada kesehatan tubuh.
Baca Juga: Studi Ungkap Wajah Orang Kaya Bisa Terlihat Berbeda, Ini Penjelasannya
Stres Bisa Memicu Berat Badan Naik Drastis
Menurut dr Yaze, makan terus-menerus sebagai respons terhadap stres memang cukup sering terjadi. Namun, kondisi menjadi berbahaya ketika pola tersebut menyebabkan kenaikan berat badan yang sangat cepat.
Kenaikan berat badan hingga sekitar 30 kilogram, baik dalam waktu satu bulan maupun satu tahun, disebut sebagai kondisi yang perlu diwaspadai.
Berat badan yang meningkat secara drastis dapat meningkatkan peradangan atau inflamasi dalam tubuh. Karena itu, stress eating bukan sekadar masalah kebiasaan makan, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Baca Juga: Kolesterol Normal Bukan Jaminan Bebas Serangan Jantung, Ini Faktor Risikonya
Baca Juga: Bukan Sekadar Lucu-lucuan, Lomba Istri Ngomel Suami di Gresik Singgung Perceraian
Ada Peran Memori Sel Lemak
Salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah berat badan melonjak adalah konsep "memori sel lemak".
Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia
Ketika seseorang mengalami kenaikan berat badan, sel-sel lemak dapat membesar. Kondisi tersebut kemudian dapat membuat seseorang lebih sulit mempertahankan hasil diet ketika mulai menurunkan berat badan.
Dr Yaze menjelaskan bahwa sel lemak seolah memiliki "memori" terhadap kondisi tubuh sebelumnya. Ketika asupan makanan tiba-tiba dikurangi, tubuh dapat memberikan dorongan untuk kembali pada pola makan dengan kalori lebih tinggi.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami efek yoyo, yaitu berat badan kembali meningkat setelah berhasil turun.
Sel Lemak yang Membesar Bisa Memengaruhi Jaringan Tubuh
Kenaikan ukuran sel lemak juga dapat memengaruhi kondisi jaringan tubuh. Sel lemak yang membesar dapat membuat sirkulasi oksigen di jaringan menjadi lebih sulit.
Menurut dr Yaze, diperlukan konsistensi dalam menjalankan pola hidup sehat agar tubuh dapat beradaptasi dengan kondisi berat badan yang baru.
Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai
Ia menyebut setidaknya diperlukan waktu sekitar enam bulan menjalani gaya hidup sehat secara konsisten untuk membantu "mengatur ulang" kebiasaan dan respons tubuh setelah mengalami kenaikan berat badan.
Mindful Eating Bisa Membantu Mengatasi Stress Eating
Stres merupakan hal yang wajar dialami setiap orang. Namun, yang penting adalah bagaimana seseorang merespons tekanan tersebut, termasuk ketika muncul keinginan makan berlebihan.
Dr Yaze menyarankan penerapan mindful eating, yaitu makan dengan kesadaran penuh dan memperhatikan pilihan makanan maupun sinyal tubuh.
Baca Juga: Jarang Olahraga Bikin Gampang Baper? Ini Penjelasan Psikolog
Alih-alih langsung memilih gorengan, makanan berbahan tepung, atau makanan tinggi gula ketika stres, seseorang dapat mencoba menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat.
Saat Ingin Makanan Manis
Ketika muncul keinginan mengonsumsi makanan manis, buah segar dapat menjadi alternatif. Buah memberikan rasa manis sekaligus mengandung serat dan berbagai zat gizi.
Saat Ingin Makanan Gurih atau Segar
Untuk keinginan terhadap makanan gurih atau segar, yogurt atau makanan tinggi protein dapat menjadi pilihan. Protein juga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Saat Ingin Makanan Renyah
Jika keinginan makan muncul karena mencari tekstur renyah atau crunchy, bahan makanan yang lebih sehat dapat diolah menggunakan air fryer. Cara tersebut dapat menghasilkan tekstur renyah dengan penggunaan minyak yang lebih sedikit dibandingkan menggoreng dengan banyak minyak.
Baca Juga: Viral di Singapura, Lansia Belajar Parkour untuk Jaga Keseimbangan dan Cegah Cedera
Jangan Biarkan Stres Berujung Makan Berlebihan
Stres memang tidak selalu bisa dihindari, tetapi respons terhadap stres dapat dikelola. Jika tekanan pikiran membuat seseorang terus-menerus makan dan menyebabkan berat badan meningkat secara drastis, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele.
Menerapkan mindful eating, memilih makanan yang lebih bergizi, tetap aktif bergerak, dan menjaga pola hidup sehat dapat membantu mengurangi kebiasaan stress eating.
Jika perubahan berat badan berlangsung sangat cepat atau disertai keluhan kesehatan lainnya, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan penyebab dan strategi penanganan yang sesuai.
Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah
Editor : Ubaidillah