Sering Makan Daging Merah Olahan Bisa Merusak Ginjal? Ini 5 Alasannya

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:30 WIB
Foto: Ilustrasi ginjal (Getty Images/SewcreamStudio)
Foto: Ilustrasi ginjal (Getty Images/SewcreamStudio)

 

RadarBangkalan.id - Daging merah olahan seperti sosis dan produk sejenisnya memang praktis dan mudah ditemukan. Namun, konsumsi terlalu sering dalam jangka panjang perlu diperhatikan karena sejumlah penelitian mengaitkannya dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit ginjal.

Ahli gizi Annamarie Rodriguez, MS, RDN, mengatakan pola makan merupakan salah satu faktor yang masih dapat dikendalikan untuk membantu menjaga kesehatan ginjal.

Baca Juga: Dokter Ungkap Hubungan Berat Badan dan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi

"Strategi diet atau nutrisi sering kali merupakan faktor-faktor yang bisa dikendalikan," ujar Annamarie.

Beberapa kandungan dalam daging merah olahan, mulai dari lemak jenuh hingga natrium, dapat memberikan tekanan tambahan pada tubuh dan ginjal jika dikonsumsi secara berlebihan.

1. Tinggi Lemak Jenuh

Daging merah olahan termasuk sumber protein yang dapat mengandung lemak jenuh cukup tinggi. Sebagai gambaran, satu buah sosis dapat mengandung sekitar 2 gram lemak jenuh.

Menurut ahli gizi kesehatan ginjal Jessica Clancy-Strawn, MA, konsumsi lemak jenuh berlebihan dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin.

Baca Juga: Cara Menjaga Berat Badan Tetap Stabil Setelah Diet, Dokter Ungkap 4 Kuncinya

Ketika tubuh kurang responsif terhadap insulin, proses peradangan metabolik dapat meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat memberikan tekanan pada sistem pembuluh darah, termasuk bagian ginjal yang bertugas menyaring darah.

Baca Juga: Bayi 1 Tahun Didiagnosis Sembelit, Ternyata Idap Kanker Langka dengan Tumor 30 Cm

Resistensi insulin juga dapat memengaruhi elastisitas pembuluh darah dan pengaturan tekanan darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kerusakan jaringan ginjal.

2. Tinggi Natrium

Rasa asin menjadi salah satu karakteristik makanan olahan, termasuk daging merah olahan. Masalahnya, konsumsi natrium terlalu tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal.

Natrium membantu mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Namun, ketika jumlahnya berlebihan, ginjal perlu bekerja lebih keras untuk mengatur kadar natrium dan cairan.

Jessica menjelaskan, tekanan tersebut dalam jangka panjang dapat memengaruhi kemampuan penyaringan ginjal dan berkontribusi terhadap penurunan eGFR, salah satu indikator fungsi ginjal.

Asupan natrium berlebihan juga dapat meningkatkan tekanan darah. Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempercepat kerusakan ginjal dan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis.

Baca Juga: Sering Alami Iyup Saat Pakai Behel? Dokter Ungkap Penyebab dan Kapan Hilang

Baca Juga: Studi Ungkap Wajah Orang Kaya Bisa Terlihat Berbeda, Ini Penjelasannya

3. Mengandung Nitrat dan Nitrit

Nitrat dan nitrit merupakan bahan yang dapat digunakan dalam proses pengolahan dan pengawetan daging.

Baca Juga: Kolesterol Normal Bukan Jaminan Bebas Serangan Jantung, Ini Faktor Risikonya

Dalam kondisi tertentu, terutama ketika berinteraksi dengan zat besi heme dan proses memasak pada suhu tinggi, senyawa tersebut dapat membentuk nitrosamin.

"(Nitrosamin) diketahui memicu peradangan dan stres oksidatif, dua proses biologis yang sangat terkait dengan kerusakan ginjal dan fibrosis," kata Jessica.

Peradangan dan stres oksidatif yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan dampak buruk terhadap jaringan tubuh, termasuk ginjal.

4. Mengandung Aditif Fosfor

Fosfor sebenarnya merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk menjaga tulang dan sel.

Namun, kondisi berbeda dapat terjadi pada orang yang sudah mengalami gangguan fungsi ginjal. Ketika kemampuan ginjal membuang fosfor menurun, mineral tersebut dapat menumpuk di dalam tubuh.

Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia

Daging merah olahan juga dapat mengandung bahan tambahan fosfor. Jessica menjelaskan bahwa fosfor dari bahan tambahan dalam makanan olahan memiliki bioavailabilitas tinggi sehingga lebih mudah diserap tubuh dibandingkan fosfor alami dari sejumlah makanan utuh.

"Zat tambahan fosfor dalam makanan olahan dan kemasan-terutama daging-memiliki bioavailabilitas tinggi, artinya tubuh menyerapnya jauh lebih mudah daripada fosfor alami yang ditemukan dalam makanan utuh," jelasnya.

5. Dapat Meningkatkan Beban Asam pada Ginjal

Pola makan yang banyak mengandung daging olahan juga dapat meningkatkan beban asam yang harus dikelola tubuh.

Menurut Annamarie, kondisi tersebut terutama perlu diperhatikan pada orang yang fungsi ginjalnya sudah mengalami gangguan.

Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai

"Peningkatan keasaman merupakan penyebab sekaligus konsekuensi dari penyakit ginjal," ujarnya.

Karena itu, membatasi konsumsi daging merah olahan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi faktor risiko yang dapat dikendalikan melalui pola makan.

Bagaimana Menjaga Kesehatan Ginjal?

Mengurangi daging merah olahan bukan berarti harus menghilangkan seluruh sumber protein dari menu harian.

Protein tetap dibutuhkan tubuh, tetapi sumbernya dapat dibuat lebih beragam. Pilih sumber protein nabati maupun sumber protein hewani yang tidak tinggi lemak jenuh dan tidak terlalu banyak diproses.

Selain memperhatikan jenis makanan, kebutuhan cairan juga perlu dipenuhi sesuai kondisi tubuh. Bagi orang yang sudah memiliki penyakit ginjal, kebutuhan cairan dan asupan nutrisi tertentu dapat berbeda sehingga sebaiknya mengikuti anjuran dokter atau ahli gizi.

Pada akhirnya, daging merah olahan tidak harus dianggap sebagai makanan yang langsung menyebabkan penyakit ginjal, tetapi konsumsi berlebihan dan terlalu sering dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pola makan jangka panjang.

Editor : Ubaidillah
risiko penyakit ginjal daging merah olahan pola makan kesehatan ginjal