Dokter Ungkap 7 Makanan yang Bisa Mengganggu Kesehatan Usus

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 06:09 WIB
Foto: Ilustrasi usus (Getty Images/iStockphoto/Sewcream)
Foto: Ilustrasi usus (Getty Images/iStockphoto/Sewcream)

 

RadarBangkalan.id - Kesibukan di pagi hari sering membuat orang memilih makanan praktis seperti protein bar atau sereal kemasan. Namun, terlalu sering mengonsumsi makanan ultra-proses dan produk dengan banyak bahan tambahan dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan dalam jangka panjang, termasuk kesehatan saluran pencernaan.

Dokter bedah kolorektal dan pakar kesehatan usus, Dr Parameshwara C M, membagikan sejumlah makanan yang ia hindari untuk membantu menjaga kesehatan usus. Beberapa di antaranya mungkin masih sering dikonsumsi sehari-hari karena dianggap praktis atau rendah kalori.

Baca Juga: Jalan 4.000 Langkah Cepat Ternyata Bisa Setara 7.500 Langkah Pelan

 

Berikut tujuh jenis makanan yang disoroti Dr Parameshwara.

1. Camilan dengan Pewarna Buatan

Permen, keripik dengan warna mencolok, dan sejumlah camilan olahan dapat mengandung pewarna makanan berbasis petroleum, seperti Red 40 dan Yellow 5.

Menurut Dr Parameshwara, makanan tersebut tidak memberikan banyak nilai gizi dan berpotensi memicu peradangan pada saluran pencernaan.

Sebagai alternatif, ia menyarankan memilih makanan yang lebih bernutrisi, seperti kacang-kacangan, biji labu, atau buah beri segar.

Baca Juga: Benarkah Minum Susu Bikin Gemuk? Dokter Gizi Ungkap Faktanya

2. Protein Bar

Protein bar memang praktis untuk dikonsumsi ketika seseorang tidak memiliki banyak waktu. Namun, beberapa produk dapat mengandung gula alkohol dan bahan tambahan tertentu.

Menurut Dr Parameshwara, kandungan tersebut dapat menyebabkan kembung hingga gangguan pencernaan yang cukup berat pada sebagian orang.

Baca Juga: Masker Dibasahi untuk Tangkal Abu Vulkanik? Dokter Paru Ungkap Risikonya

Ia menyarankan mendapatkan protein dari makanan utuh, seperti telur, ikan, lentil, atau cottage cheese.

3. Sereal Sarapan Tinggi Gula

Sereal menjadi pilihan sarapan yang praktis. Namun, tidak semua produk memiliki kandungan nutrisi yang sama karena sebagian sereal mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi.

Dr Parameshwara mengatakan konsumsi makanan tinggi gula dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dengan cepat, kemudian diikuti penurunan energi.

Sebagai alternatif, ia menyarankan memilih gandum utuh seperti rolled oats yang dapat ditambahkan biji chia dan buah segar.

4. Pemanis Buatan

Produk rendah kalori, termasuk minuman soda diet, sering menggunakan pemanis buatan seperti sukralosa dan sakarin. Jenis pemanis tersebut juga menjadi salah satu yang dihindari Dr Parameshwara.

"Sejumlah penelitian menunjukkan pemanis buatan dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus yang bermanfaat," tulisnya dalam unggahan Instagram.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Warga Blitar Antre Air Bersih hingga Bawa Jerigen

Sebagai pilihan lain, ia menyarankan air soda dengan tambahan perasan jeruk nipis atau teh herbal tanpa gula.

5. Daging Olahan

Bacon, sosis, dan berbagai jenis daging olahan yang sering digunakan sebagai isian sandwich juga perlu dibatasi.

Baca Juga: Polisi Bongkar Jaringan Uang Palsu Sidoarjo-Karanganyar, 3 Tersangka Ditangkap

Daging olahan termasuk dalam kelompok karsinogen Grup 1 menurut WHO dan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.

Sebagai alternatif, Dr Parameshwara menyarankan sumber protein yang lebih minim proses, seperti telur, ikan, lentil, atau cottage cheese.

6. Saus dengan Kandungan Gula Tinggi

Saus kemasan seperti saus tomat, saus barbeku, dan saus salad siap pakai dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi.

Dr Parameshwara menyebut beberapa produk bahkan dapat mengandung hingga sekitar empat sendok teh gula rafinasi tersembunyi dalam satu porsi.

Untuk memberikan rasa pada makanan, ia menyarankan menggunakan bahan yang lebih sederhana, seperti minyak zaitun, perasan lemon, atau salsa buatan sendiri.

7. Makanan dengan Banyak Pengemulsi

Beberapa produk makanan, termasuk es krim dan makanan panggang komersial, menggunakan pengemulsi seperti polysorbate 80.

Baca Juga: Polresta Sidoarjo Ungkap Modus WNA China Rekrut Admin Binance, Rekening Korban Dikuasai

Bahan tersebut berfungsi membantu mencampurkan minyak dan air sehingga tekstur makanan tetap lembut sekaligus membantu memperpanjang masa simpan.

Baca Juga: Waduk Sumberkepuh Nganjuk Mengering, Warga Manfaatkan Lahannya untuk Bertani

Dr Parameshwara mengatakan zat tersebut dapat mengikis lapisan lendir pelindung usus. Sebagai pilihan yang lebih sederhana, ia menyarankan greek yoghurt tawar yang dapat dikombinasikan dengan madu.

Pilih Makanan yang Lebih Minim Proses

Menjaga kesehatan usus tidak berarti harus menghindari seluruh makanan kemasan. Namun, membatasi makanan ultra-proses dan memilih makanan yang lebih minim proses dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat.

Sumber protein seperti telur dan ikan, gandum utuh, buah, biji-bijian, serta makanan fermentasi dapat menjadi pilihan untuk melengkapi pola makan sehari-hari.

Yang terpenting, perhatikan komposisi makanan dan sesuaikan pilihan dengan kebutuhan serta kondisi tubuh masing-masing.

Baca Juga: Guru di Jombang Dilaporkan Diduga Perkosa Siswi hingga 13 Kali, Korban Trauma Berat

Editor : Ubaidillah
makanan olahan kesehatan usus makanan sehat gangguan pencernaan