Tidur dengan Kamar Terang Bisa Berdampak pada Jantung, Ini Hasil Studi

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 06:04 WIB
Foto: Getty Images/twinsterphoto
Foto: Getty Images/twinsterphoto

 

RadarBangkalan.id - Tidur dengan kamar yang sedikit terang ternyata berkaitan dengan perubahan struktur dan fungsi otot jantung. Studi terbaru menemukan paparan cahaya saat tidur, bahkan dalam intensitas rendah, dapat berhubungan dengan penebalan dinding otot jantung.

Penelitian yang dipublikasikan dalam European Heart Journal menemukan paparan cahaya lebih dari 3 lux saat tidur berkaitan dengan penebalan dinding otot jantung. Semakin terang kondisi kamar, semakin besar perubahan yang ditemukan dalam penelitian tersebut.

Baca Juga: Ear Seeds untuk Menurunkan Berat Badan, Benarkah Bisa Kurangi Nafsu Makan?

 

 

"Polusi cahaya telah muncul sebagai faktor risiko baru penyakit kardiovaskular," kata penulis senior studi, Dr Lu Qi, profesor sekaligus direktur Tulane University Obesity Research Center di New Orleans, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNN.

Kamar Tidur Sebaiknya Gelap

Para peneliti menyarankan kamar tidur dibuat dalam kondisi sangat gelap. Tingkat pencahayaan maksimal sekitar 1 lux dinilai lebih ideal untuk menciptakan kondisi tidur yang optimal.

Sebagai gambaran, cahaya dengan intensitas sekitar 3 lux kurang lebih setara dengan cahaya bulan atau cahaya yang masuk melalui celah bagian bawah pintu kamar yang tertutup.

Baca Juga: Makan Wortel Bisa Cegah Mata Minus? Ini Penjelasan Dokter Mata

Artinya, meskipun cahaya tersebut tergolong redup, paparan saat tidur tetap menjadi perhatian dalam penelitian terkait kesehatan jantung.

Apa yang Terjadi pada Jantung?

Studi tersebut menganalisis lebih dari 11.000 orang yang tidak memiliki penyakit kardiovaskular. Para peserta merupakan bagian dari UK Biobank, basis data kesehatan dan genetik berskala besar di Inggris.

Peserta menggunakan sensor di pergelangan tangan selama tujuh hari untuk mengukur paparan cahaya pada malam hari. Sekitar tiga tahun kemudian, mereka menjalani pemeriksaan MRI jantung untuk melihat struktur dan fungsi organ tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan orang yang tidur dengan paparan cahaya lebih dari 3 lux mengalami penebalan dinding ventrikel kiri jantung dibandingkan mereka yang tidak terpapar cahaya pada malam hari.

Penebalan tersebut dapat membuat ruang di dalam bilik jantung menjadi lebih sempit. Kemampuan otot jantung untuk mengembang saat berdetak juga mengalami penurunan dan dapat menjadi tanda awal gangguan fungsi jantung.

Perubahan bentuk dan struktur jantung tersebut dikenal sebagai cardiac remodeling.

Baca Juga: Mata Merah Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius, Dokter Ungkap Gejalanya

"Kita tidak ingin otot jantung menebal. Kita tidak ingin otot jantung menjadi kaku. Kita tidak ingin jantung menjadi terlalu besar," kata Dr Andrew Freeman, direktur cardiovascular prevention and wellness di National Jewish Health, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Menurut Freeman, perubahan tersebut dapat terjadi ketika seseorang terpapar cahaya berlebihan dan berpotensi mengalami kualitas tidur yang buruk.

Kurang Tidur Juga Berperan

Peneliti menemukan sekitar 24-49 persen dampak terhadap jantung dalam studi tersebut dapat dijelaskan oleh durasi tidur yang lebih pendek, yakni kurang dari lima atau enam jam.

Lu Qi mengatakan paparan cahaya pada malam hari juga mungkin memengaruhi faktor risiko penyakit kardiovaskular lainnya, termasuk stres, tekanan darah, dan detak jantung.

Baca Juga: BPOM Temukan BKO Pyrimidenafil pada 3 Obat Herbal Klaim Stamina Pria

Dengan demikian, cahaya pada malam hari tidak hanya berpotensi mengganggu kualitas tidur, tetapi juga dapat berkaitan dengan sejumlah perubahan biologis yang berhubungan dengan kesehatan jantung.

Studi Belum Buktikan Hubungan Sebab-Akibat

Meski menemukan adanya hubungan antara paparan cahaya saat tidur dan perubahan struktur jantung, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa cahaya secara langsung menyebabkan perubahan pada jantung.

Karl Lawrence, dosen di Institute of Pharmaceutical Science, King's College London, menilai penelitian tersebut memiliki sejumlah keterbatasan.

Baca Juga: Serda Ahmad Sempat Ditawari Jabatan di Mabes TNI AU Sebelum Tewas

Salah satunya adalah pengukuran paparan cahaya yang hanya dilakukan selama satu minggu. Selain itu, sensor yang dipasang di pergelangan tangan belum tentu menggambarkan jumlah cahaya yang benar-benar diterima oleh mata.

Baca Juga: Polisi Bongkar Jaringan Pengedar Pil Koplo di Nganjuk, 1.459 Butir Double L Disita

Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara paparan cahaya saat tidur dan perubahan struktur jantung.

Editor : Ubaidillah
risiko penyakit jantung masalah jantung tidur sehat kesehatan kardiovaskular kualitas tidur