RadarBangkalan.id - Mindfulness tengah ramai diperbincangkan di media sosial seiring meningkatnya pembahasan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah derasnya paparan berita buruk. Namun, menerapkan mindfulness bukan berarti seseorang harus menutup mata terhadap penderitaan, bencana, atau berbagai masalah yang terjadi di sekitarnya.
Psikiater RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, dr Lahargo Kembaren, menjelaskan bahwa mindfulness berarti mengakui realitas yang terjadi sekaligus menjaga agar emosi tidak mengambil alih kemampuan untuk berpikir dan bertindak. Menjaga jarak dari berita buruk juga tidak selalu berarti bersikap apatis.
Baca Juga: Ear Seeds untuk Menurunkan Berat Badan, Benarkah Bisa Kurangi Nafsu Makan?
"Paparan berita buruk secara terus-menerus dapat membuat seseorang mengalami stres, kecemasan, kelelahan emosional, bahkan terjebak dalam doomscrolling. Karena itu, membatasi konsumsi berita merupakan bentuk regulasi diri yang sehat," kata dr Lahargo kepada detikcom, Senin (14/9/2026).
Batasi Berita, Bukan Kepedulian
Membatasi paparan informasi perlu dibedakan dari menutup diri terhadap kepedulian sosial. Seseorang tetap dapat mengikuti perkembangan situasi dengan memilih sumber berita terpercaya dan menentukan waktu khusus untuk membaca berita.
Misalnya, seseorang dapat mengecek berita dua kali sehari agar tetap mendapatkan informasi tanpa terus-menerus terpapar kabar buruk. Batas tersebut sebaiknya menjadi bentuk regulasi diri, bukan alasan untuk mengabaikan penderitaan orang lain.
"Menjaga kesehatan mental tidak harus membuat kita kehilangan kepekaan sosial," kata dr Lahargo.
Baca Juga: Makan Wortel Bisa Cegah Mata Minus? Ini Penjelasan Dokter Mata
Cara Tetap Mindful Tanpa Menjadi Apatis
Dr Lahargo membagikan beberapa cara untuk tetap menerapkan mindfulness ketika menghadapi banyak berita buruk.
Baca Juga: Makan Wortel Bisa Cegah Mata Minus? Ini Penjelasan Dokter Mata
1. Tetap Terinformasi, tetapi Beri Batasan
Tetap mengikuti perkembangan berita penting dilakukan, tetapi konsumsi informasi perlu dibatasi agar tidak berubah menjadi doomscrolling.
"Pilih sumber berita terpercaya dan hindari doomscrolling tanpa henti," katanya
Memilih sumber yang kredibel dan menentukan waktu khusus untuk membaca berita dapat membantu seseorang tetap mendapatkan informasi tanpa terus-menerus terpapar konten negatif.
2. Izinkan Emosi Muncul
Sedih, marah, takut, maupun prihatin ketika melihat penderitaan orang lain merupakan respons yang manusiawi. Karena itu, seseorang tidak perlu selalu berusaha menghilangkan emosi negatif secepat mungkin.
Baca Juga: Mata Merah Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius, Dokter Ungkap Gejalanya
"Tidak semua emosi negatif harus segera 'diperbaiki'," tambahnya.
Mengenali dan menerima emosi dapat menjadi bagian dari proses regulasi diri sebelum seseorang menentukan tindakan atau respons terhadap suatu peristiwa.
Baca Juga: BPOM Temukan BKO Pyrimidenafil pada 3 Obat Herbal Klaim Stamina Pria
3. Atur Diri Sebelum Bereaksi
Ketika menghadapi berita yang memicu emosi kuat, seseorang dapat berhenti sejenak sebelum memberikan respons. Tarik napas, kenali perasaan yang muncul, kemudian tentukan tindakan yang ingin dilakukan.
Cara tersebut membantu seseorang tidak langsung bereaksi hanya berdasarkan emosi sesaat.
4. Ubah Awareness Menjadi Aksi
Mindfulness juga dapat diterapkan dengan mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata. Bentuknya dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
"Bila memungkinkan, bantu melalui donasi, dukungan, menyebarkan informasi yang terverifikasi, menjadi relawan, atau sekadar memberikan ruang bagi suara mereka yang terdampak," tutur dr Lahargo.
Baca Juga: Kebakaran Berulang di TNBTS Diselidiki, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana
Dengan cara tersebut, menjaga kesehatan mental tidak harus dilakukan dengan mengabaikan kondisi di sekitar. Seseorang tetap dapat menjaga batas terhadap paparan berita sekaligus menunjukkan kepedulian kepada mereka yang terdampak.
Baca Juga: Dua Kali Tertinggal, Dewa United Paksa Bhayangkara FC Berbagi Poin
5. Perhatikan Dampak Konten di Ruang Publik
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketika membagikan konten mengenai kesehatan mental atau self-care di media sosial. Sebuah pesan yang dibuat dengan tujuan membantu diri sendiri belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain.
Terlebih, masyarakat yang sedang menghadapi kehilangan atau trauma dapat memiliki respons berbeda terhadap konten yang mereka lihat.
"Dalam komunikasi publik, intention penting, tetapi impact juga perlu diperhatikan," ungkapnya.
Baca Juga: Fiorentina Menang 4-2 atas Venezia, Franco Mastantuono Cetak Hattrick
Editor : Ubaidillah