RadarBangkalan.id - Stroke yang terjadi saat seseorang tidur dikenal sebagai wake-up stroke. Kondisi ini membuat pasien baru menyadari gejala ketika terbangun, seperti wajah terkulai, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, masalah koordinasi, hingga kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh.
Dokter spesialis saraf di Amerika Serikat, Dr. Baxter Allen, menjelaskan bahwa salah satu tantangan penanganan wake-up stroke adalah pasien sering kali tidak mengetahui kapan tepatnya stroke mulai terjadi. Padahal, waktu munculnya gejala menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan penanganan yang dapat diberikan.
Baca Juga: Kemenkes Ungkap Media Sosial Bisa Picu Kecemasan Anak Muda, Ini Penyebabnya
"Sebagian besar penanganan stroke yang kami lakukan didasarkan pada rentang waktu 4,5 jam sejak seseorang mengalami stroke," kata Dr Baxter Allen, dokter spesialis saraf di Amerika Serikat, dikutip dari NYP Org, Minggu (11/10/2026).
Apa Itu Wake-Up Stroke?
Wake-up stroke merupakan kondisi ketika seseorang mengalami stroke saat tidur dan baru menyadari gejalanya setelah bangun. Menurut sejumlah penelitian, kondisi ini mencakup sekitar satu dari lima kasus stroke iskemik akut.
Gejala wake-up stroke pada dasarnya sama dengan stroke yang terjadi ketika seseorang sedang terjaga. Tanda-tandanya dapat berupa wajah yang tampak tidak simetris, kelemahan pada salah satu lengan, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, serta masalah keseimbangan atau koordinasi tubuh.
Baca Juga: Kerja Seharian Cuma Duduk di Depan Laptop, Berapa Kebutuhan Kalori Harian?
Gejala tersebut perlu diwaspadai, terutama jika muncul secara mendadak setelah seseorang bangun tidur.
Mengapa Penanganan Wake-Up Stroke Menjadi Tantangan?
Penanganan wake-up stroke memiliki tantangan tersendiri karena pasien umumnya tidak mengetahui waktu pasti saat stroke mulai terjadi. Ketidakpastian ini penting karena sejumlah terapi stroke memiliki batas waktu atau kriteria tertentu agar dapat diberikan dengan aman dan efektif.
Baca Juga: Apel vs Pisang untuk Diet, Mana yang Lebih Ampuh Menurunkan Berat Badan?
Pada stroke iskemik, misalnya, terapi untuk membuka kembali aliran darah yang tersumbat dapat dipertimbangkan berdasarkan waktu, hasil pemeriksaan, dan kondisi pasien. Batas 4,5 jam bukan berarti pasien yang datang setelah waktu tersebut tidak dapat ditangani. Dokter dapat mempertimbangkan pilihan penanganan lain berdasarkan evaluasi klinis dan pemeriksaan pencitraan otak.
Karena itu, pasien yang terbangun dengan gejala stroke harus segera mendapatkan pertolongan medis.
"Pasien harus dibawa ke rumah sakit secepat mungkin menggunakan ambulans. Semakin cepat pasien tiba di rumah sakit, semakin cepat pula kami dapat memberikan penanganan yang berpotensi membantu," ungkap dr Allen.
Perbedaan Stroke Iskemik dan Stroke Hemoragik
Sebagian besar kasus stroke merupakan stroke iskemik, termasuk sejumlah kasus wake-up stroke. Stroke iskemik terjadi ketika gumpalan darah atau sumbatan menghalangi aliran darah menuju bagian otak sehingga jaringan otak kekurangan oksigen.
Sementara itu, stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan di dalam atau sekitar otak. Kedua jenis stroke tersebut sama-sama membutuhkan penanganan medis segera, tetapi pendekatan pengobatannya berbeda.
Baca Juga: Dapur MBG di Mojokerto Disuspend, Kepala SPPG Jabon Mojoanyar Dicopot
Peluang Pemulihan Pasien Stroke
Peluang pemulihan pasien stroke dipengaruhi berbagai faktor, termasuk tingkat keparahan gejala, kondisi kesehatan pasien, kecepatan mendapatkan pertolongan, serta kesesuaian pasien dengan terapi yang tersedia.
"Proses pemulihan bergantung pada tingkat keparahan gejala, waktu kedatangan pasien ke rumah sakit, serta apakah pasien memenuhi syarat untuk mendapatkan terapi tertentu," ujar dr Allen.
Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung
"Dokter melihat cukup banyak pasien yang mampu mencapai pemulihan fungsional secara menyeluruh. Pemulihan penuh atau pemulihan fungsional biasanya dinilai tiga bulan setelah gejala mulai muncul," sambungnya.
Jangan Menunggu Gejala Stroke Hilang
Jika seseorang terbangun dengan wajah mencong, lengan melemah, atau kesulitan berbicara, jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya. Segera hubungi layanan darurat medis dan gunakan ambulans untuk membawa pasien ke rumah sakit.
Catat waktu ketika gejala pertama kali diketahui dan, jika memungkinkan, kapan pasien terakhir kali terlihat dalam kondisi normal sebelum tidur. Informasi ini dapat membantu tim medis menentukan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru
Editor : Ubaidillah