News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Gejolak Timur Tengah Guncang Pasar Minyak Dunia Harga Anjlok Akibat Konflik Berkepanjangan

Raditya Mubdi • Selasa, 16 Januari 2024 | 21:45 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia
Ilustrasi Harga Minyak Dunia

RadarBangkalan.id - Pasar minyak dunia tengah berguncang akibat gejolak yang terus berlanjut di Timur Tengah.

Senin atau Selasa pagi waktu Indonesia, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan, dipicu oleh dampak serangkaian konflik yang terjadi di kawasan tersebut.

Kenaikan sebesar 2 persen pada minggu sebelumnya membuat pelaku pasar bergegas mengambil keuntungan, merespons situasi yang semakin tidak pasti.

Mengutip laporan dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent mengalami penurunan sekitar 0,2 persen atau 14 sen, menyentuh angka USD 78,15 per barel.

Di sisi lain, harga acuan West Texas Intermediate AS turun sekitar 0,3 persen atau 18 sen, mencapai USD 72,50 pada pukul 15.13 EST.

Penurunan lebih dari USD 1 per barel terjadi pada awal sesi perdagangan, menciptakan ketegangan tambahan dalam pasar minyak global.

Konflik di Timur Tengah tidak hanya mempengaruhi harga minyak, tetapi juga merasuki sektor perkapalan.

Pemilik kapal tanker berusaha menghindari Laut Merah dan mengubah jalur pelayaran mereka sebagai tanggapan terhadap serangan yang dilancarkan oleh AS dan Inggris terhadap sasaran Houthi di Yaman.

Serangan ini terjadi setelah kelompok yang bersekutu dengan Iran menyerang kapal-kapal sebagai respons terhadap konflik antara Israel dan Hamas di Gaza.

Dampaknya terasa pada setidaknya empat kapal tanker gas alam cair yang melintasi wilayah tersebut.

Tamas Varga dari pialang minyak PVM menyatakan, "Realisasi bahwa pasokan minyak tidak terkena dampak buruk menyebabkan pembeli mengambil keuntungan pada minggu lalu, dan penurunan ini agak diperburuk oleh kekuatan dolar yang sedikit lebih tinggi."

Kepala perunding Houthi Yaman memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal yang menuju Israel akan terus berlanjut, menambah ketegangan dalam situasi regional yang sudah tegang.

Meskipun belum ada laporan kehilangan pasokan minyak, gangguan pengiriman secara tidak langsung memperketat pasar dengan menahan 35 juta barel di laut.

Pengiriman harus menemui rute yang lebih panjang untuk menghindari Laut Merah, menciptakan ketidakpastian lebih lanjut dalam suplai minyak global.

Sementara itu, di Libya, gelombang protes terhadap dugaan korupsi mengancam menutup dua fasilitas minyak dan gas lagi setelah menutup ladang Sharara yang mampu memproduksi 300.000 barel per hari pada 7 Januari.

Di Amerika Serikat dan Kanada, cuaca dingin yang ekstrem menghambat produksi minyak. Produksi minyak Dakota Utara telah merosot sebanyak 400.000-425.000 barel per hari akibat cuaca dingin dan masalah operasional terkait.

"Cuaca dingin berdampak pada produksi, namun (harga) tampaknya turun karena persepsi bahwa cuaca dingin ini akan segera berakhir," ujar Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.

Situasi ini memberikan dinamika tambahan pada pasar minyak dunia yang tengah diliputi ketidakpastian, menandai periode yang sulit bagi pelaku pasar dan produsen minyak di seluruh dunia.***

Editor : Raditya Mubdi
#dunia #minyak #pasar