Radarbangkalan.id – Dua minggu setelah insiden peretasan yang melumpuhkan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2, akhirnya muncul kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kelompok ini menyebut diri mereka Brain Chiper, sebuah ransomware gang yang terbilang baru di dunia peretasan.
Pengungkapan ini datang dari perusahaan keamanan siber asal Singapura, Stealthmole.
Melalui unggahan di platformnya, Stealthmole menyebutkan bahwa Brain Chiper berencana untuk memberikan kunci dekripsi secara gratis pada hari Rabu (3/7).
Baca Juga: Tarif Listrik PLN Batam Bakal Alami Kenaikan, Begini Faktanya
Lebih lanjut, Stealthmole juga menyampaikan bahwa Brain Chiper meminta agar keputusan mereka diumumkan secara publik.
Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai motif di balik aksi peretasan ini.
Apakah Brain Chiper hanya ingin mencari keuntungan finansial dengan menuntut tebusan, atau ada agenda tersembunyi lain?
Siapakah Brain Chiper?
Meskipun terbilang baru, Brain Chiper menunjukkan keahliannya dalam melancarkan serangan siber berskala besar. Berikut beberapa informasi yang berhasil dihimpun mengenai kelompok peretas ini:
- Belum Ada Rekam Jejak Jelas: Hingga saat ini, belum ada kelompok lain yang teridentifikasi melakukan aksi peretasan dengan nama Brain Chiper.
- Menggunakan Ransomware LockBit 3.0: Brain Chiper diduga menggunakan ransomware LockBit 3.0, sebuah software peretas yang dirancang untuk mengunci data korban dan menuntut tebusan untuk membukanya.
- Operasi Baru Berdiri: Berdasarkan informasi dari Bleepingcomputer, Brain Chiper memulai operasinya pada awal Juni 2024.
Dalam kurun waktu singkat, mereka telah melancarkan serangan terhadap berbagai organisasi di seluruh dunia. - Modifikasi Ransomware LockBit 3.0: Brain Chiper tidak hanya menggunakan LockBit 3.0 secara langsung, tetapi juga melakukan beberapa perubahan kecil.
Salah satu perubahannya adalah menambahkan enkripsi pada nama file, selain hanya menambahkan ekstensi pada file terenkripsi.
Serangan terhadap PDNS 2 menjadi bukti nyata kemampuan Brain Chiper.
Keberanian mereka dalam menyerang infrastruktur penting milik pemerintah menunjukkan bahaya nyata dari serangan siber di era digital.
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait Brain Chiper, seperti identitas anggotanya, tujuan mereka yang sebenarnya, dan strategi mereka ke depannya.
Kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak, baik individu, organisasi, maupun pemerintah, untuk meningkatkan sistem keamanan siber dan selalu waspada terhadap potensi ancaman di dunia maya. ***
Editor : Ajiv Ibrohim