Radarbangkalan.id - Gempa bumi yang terjadi di Gunungkidul pada Senin malam (26/8) telah menimbulkan berbagai spekulasi mengenai aktivitas megathrust,
yakni gempa bumi berskala besar yang kini banyak dibahas. Berikut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Koordinator Tim Observasi Stasiun Geofisika BMKG DIY, Budiarta, menjelaskan bahwa di selatan perairan DIY terdapat zona tumbukan lempeng,
khususnya antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Potensi megathrust di wilayah ini memang ada, dan bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Memang daerah kita atau wilayah kita itu memang dilalui ya (lempeng). Tempat di mana jarak dari pertemuan lempeng sekitar 200 kilometer dari pesisir pantai perlu diwaspadai.
Di situ yang sekarang lagi ngetren adalah megathrust atau patahan naik dengan kekuatan besar," jelasnya saat ditemui di Kantor Stasiun Geofisika BMKG DIY, Gamping, Sleman, Selasa (27/8/2024).
Budi menjelaskan bahwa bentangan pertemuan kedua lempeng benua sangatlah luas, mulai dari Barat Pulau Sumatera hingga perairan Nusa Tenggara Timur,
dan berakhir di kawasan Maluku. Dengan data ini, perairan DIY termasuk dalam daerah tumbukan lempeng, khususnya dari perairan selatan Kulon Progo hingga selatan Gunungkidul.
"Pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia ini sebenarnya memanjang dari barat Pulau Sumatera kemudian ke selatan, sampai ke Selat Sunda, Selat Sunda ke timur sampai ke Bali, Bali ke NTT, dan NTT langsung ke utara daerah Maluku," katanya.
Budi juga menambahkan bahwa tsunami tidak selalu muncul setelah gempa tektonik. Gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami biasanya memerlukan kekuatan di atas magnitudo 7 dan ditandai dengan deformasi patahan di dasar lautan serta surutnya air laut.
"Untuk kejadian karena potensi-potensi yang bergempa yang berpotensi tsunami ini ada beberapa kriteria dengan kekuatan magnitudo di atas 7.
Disusul adanya deformasi bentuk patahan naik atau patahan turun, kemudian kalau secara fisik di laut atau di pesisir pantai ini bisa melihat adanya kecenderungan air laut surut setelah gempa," jelasnya.
Baca Juga: iPhone 16 Pro Max Dilengkapi Layar Bezel Ultra Tipis dengan Teknologi Canggih
Budi juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Pihaknya akan terus memberikan informasi gempa secara real-time, termasuk jika ada potensi tsunami agar masyarakat dapat segera melakukan evakuasi jika ada peringatan darurat.
"Langsung kita share ke masyarakat kurang dari 5 menit. Publikasi dengan 12 moda informasi dengan internet. Melalui aplikasi Info BMKG yang dari Android, Instagram, telepon, dan HT juga," katanya.
Sementara itu, Direktur The Ekliptika Institute, Marufin Sudibyo, mengategorikan gempa Gunungkidul sebagai gempa berkekuatan menengah.
Menurut catatan BMKG, gempa tersebut memiliki magnitudo 5,5 dengan kedalaman 45 kilometer. Zona gempa ini berada di zona megathrust Sunda segmen Jawa Tengah-Timur.
Penyebab gempa ini adalah tumbukan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia, dan tercatat dengan skala kekuatan 4 Modified Mercalli Intensity (MMI),
dirasakan hingga sebagian besar Jawa Tengah. Efeknya mirip seperti truk besar melintas dan menabrak tembok.
"Jadi Gempa Gunungkidul 2024 ini pada dasarnya adalah gempa berkekuatan menengah yang terjadi di zona megathrust,
tepatnya zona megathrust Sunda segmen Jawa Tengah-Timur. Namun, magnitudo gempanya masih jauh lebih kecil dibanding potensi yang terpendam di sini," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Selasa (28/8/2024).
Marufin juga menunjukkan bahwa getaran gempa ini dirasakan oleh 49 juta jiwa, dengan 28 juta jiwa merasakan getaran 4 MMI.
Ini menandakan potensi kerusakan pascagempa tergantung pada kualitas bangunan dan kekuatan gempa.
"Kembali membangkitkan kesadaran bahwa zona megathrust Sunda segmen Jawa Tengah-Timur itu memang ada tapi juga bisa diantisipasi dengan mitigasi yang optimal," katanya.
Sementara itu, BMKG menjelaskan bahwa potensi gempa besar di zona megathrust seperti Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sudah dibahas sejak sebelum gempa dan tsunami Aceh 2004. Namun, istilah 'tinggal tunggu waktu' tidak berarti gempa akan segera terjadi.
"Munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona megathrust saat ini bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar. Tidak demikian," kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono.