RadarBangkalan.id - Kejadian tragis menimpa seorang siswa kelas tiga di Subang, Jawa Barat.
Anak berinisial ARO (9 tahun) meninggal dunia setelah diduga menjadi korban bullying oleh kakak kelasnya.
Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak dan menjadi peringatan keras tentang pentingnya pengawasan di lingkungan sekolah maupun di luar. Berikut fakta lengkapnya.
1. Korban Mengalami Kekerasan Fisik Setelah Dipalak
Dugaan bullying bermula saat korban dipalak oleh tiga kakak kelasnya, yakni M, D, dan O, pada jam istirahat.
Karena menolak memberikan uang, korban mengalami penganiayaan. Ia dipukul hingga mengeluhkan sakit kepala, muntah-muntah, dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Pihak keluarga langsung membawa korban ke RSUD Subang. Dokter menemukan adanya luka serius di bagian otak yang mengakibatkan korban koma. Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD Subang, dr. Syamsu Riza, mengungkapkan bahwa korban mengalami pendarahan di otak.
“Korban diketahui mengalami luka berupa pendarahan di otak yang menyebabkan kondisi koma,” jelasnya.
2. Peristiwa Bullying Terjadi di Luar Sekolah
Kepala sekolah korban, Kasim, mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi di luar lingkungan sekolah. Ia mengakui pihaknya baru mengetahui kasus ini setelah korban dirawat di ICU.
“Tidak ada laporan dari anak-anak atau guru soal kejadian ini. Bahkan korban sempat masuk sekolah seperti biasa sebelum akhirnya jatuh sakit,” kata Kasim.
Namun, fakta ini tidak menghilangkan kritik terhadap pihak sekolah yang dinilai kurang mengawasi siswa-siswinya.
3. Korban Mengalami Kondisi Kritis Sebelum Meninggal
Sebelum meninggal, korban sempat mengeluhkan sakit kepala hebat dan muntah-muntah selama dua hari.
Awalnya, keluarga merawatnya di rumah, tetapi kondisi korban semakin memburuk hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Di RSUD Subang, korban langsung dipindahkan ke ICU karena kondisinya sangat kritis.
Kerabat korban juga mengungkapkan bahwa ARO sempat bercerita ia sering dipukul, ditendang, dan dibenturkan ke tembok oleh pelaku.
“Dia muntah terus dan perutnya sakit. Awalnya takut cerita, tapi akhirnya bilang sering dipukul oleh tiga kakak kelasnya,” ungkap kerabat korban.
4. Pihak Sekolah Dianggap Lalai
Pj Bupati Subang, Imran, menilai bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam kejadian ini. Ia menyebut pihak sekolah lalai dalam mengawasi anak-anak didiknya, terutama saat jam istirahat.
“Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi kalau sekolah benar-benar mengawasi siswanya dengan baik,” tegasnya.
Imran juga berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga agar bullying tidak terulang lagi, terlebih sampai menimbulkan korban jiwa.
5. Kepala Sekolah Dinonaktifkan
Sebagai langkah tegas, Pj Bupati Subang memutuskan untuk menonaktifkan Kasim dari jabatannya sebagai kepala sekolah. Jika terbukti bersalah, Kasim bahkan terancam dicopot dari posisinya secara permanen.
“Saya minta kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Seluruh kepala sekolah di Subang juga akan dikumpulkan untuk membahas pengawasan yang lebih baik ke depannya,” kata Imran.
Kasus ini adalah peringatan keras bagi semua pihak sekolah, keluarga, hingga masyarakat umum tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
Pengawasan dan komunikasi yang baik bisa menjadi langkah awal untuk mencegah tragedi serupa terjadi lagi. ***
Editor : Azril Arham