News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kasus Diabetes Anak Melonjak Drastis, IDAI Desak Larangan Makanan dan Minuman Tinggi Gula

Azril Arham • Rabu, 27 November 2024 | 21:54 WIB
Ilustrasi Anak Terkena Penyakit Diabetes
Ilustrasi Anak Terkena Penyakit Diabetes

RadarBangkalan.id - Kasus diabetes pada anak di Indonesia semakin mengkhawatirkan!

Menurut laporan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), jumlah kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat pada tahun 2022 dibandingkan tahun 2010.

Saat ini, sekitar 2 dari 100 ribu anak di Indonesia mengidap diabetes, bahkan pasien termuda yang tercatat berusia 13 tahun.

Kondisi ini dipicu oleh gaya hidup yang kurang sehat, termasuk konsumsi gula yang tinggi dari makanan olahan dan minuman siap saji.

Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), mendesak pemerintah untuk lebih tegas dalam membatasi peredaran produk makanan dan minuman tinggi gula.

Bahaya Gula Setara dengan Rokok?

Dr. Piprim menekankan bahwa pemerintah perlu memperlakukan gula seperti rokok, mengingat bahayanya bagi kesehatan anak-anak.

"Saya kira sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian, sebagaimana pada bahaya rokok, terhadap bahaya gula ini," ujar dr. Piprim dalam konferensi media daring, Selasa (26/11/2024).

Salah satu solusi yang diusulkan adalah memberikan label kandungan gula pada produk makanan dan minuman anak dalam bentuk yang mudah dipahami. Misalnya, dengan menggambarkan kadar gula dalam takaran sendok makan.

"Contohnya, setiap minuman manis bisa diberi label berapa sendok gula pasir yang setara dengan kandungan gulanya," jelas dr. Piprim.

Saat ini, kesadaran masyarakat terhadap bahaya konsumsi gula masih jauh tertinggal dibandingkan dengan bahaya merokok.

"Pada kemasan rokok ada tulisan ‘rokok dapat membunuhmu’. Tapi kalau gula? Hingga kini kita belum melihat peringatan semacam itu pada produk tinggi gula," tambahnya.

Dr. Piprim mengingatkan bahwa banyak makanan dan minuman yang beredar di pasaran mengandung gula tinggi atau pemanis buatan.

Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dampaknya bisa sangat berbahaya bagi anak-anak.

Efeknya tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga mental. Anak-anak yang mengonsumsi gula berlebihan cenderung mengalami:

- Perubahan suasana hati yang drastis.
- Tantrum dan mudah marah.
- Kelaparan yang sering muncul tiba-tiba.
- Ketergantungan pada makanan manis untuk merasa lebih baik.

Kondisi ini bisa menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus. Anak-anak menjadi adiktif terhadap gula, mengalami kelebihan nutrisi dan kalori, yang pada akhirnya dapat memicu penyakit tidak menular (PTM) seperti:

- Diabetes melitus
- Hipertensi
- Penyakit ginjal

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Untuk mengurangi risiko diabetes pada anak, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua:

1. Kurangi konsumsi makanan dan minuman manis di rumah.
2. Baca label nutrisi pada kemasan makanan dan minuman sebelum membelinya.
3. Perkenalkan anak pada camilan sehat seperti buah-buahan segar.
4. Batasi konsumsi minuman kemasan dan ganti dengan air putih atau jus buah tanpa gula.

Peningkatan kasus diabetes pada anak harus menjadi perhatian serius semua pihak.

Dengan langkah tegas dari pemerintah dan kesadaran dari orang tua, diharapkan angka kejadian diabetes pada anak dapat ditekan di masa depan. ***

KOMPAK: Calon Bupati Bambang Pujiyanto kompak bersama keluarga nyoblos di TPS 18 Nglejok, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwododadi.
KOMPAK: Calon Bupati Bambang Pujiyanto kompak bersama keluarga nyoblos di TPS 18 Nglejok, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwododadi.
Editor : Azril Arham
#makanan tinggi gula #minuman tinggi gula #diabetes anak #diabetes #kasus diabetes #idai #ikatan dokter anak indonesia