RadarBangkalan.id - Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Ramadan 1447 Hijriah dipastikan jatuh pada 18 Februari 2025.
Kepastian tanggal ini memberi keistimewaan yang jarang disadari, yaitu kesempatan menyiapkan diri lebih awal tanpa harus menunggu pengumuman di menit terakhir.
Baca Juga: Jadwal Awal Puasa Ramadan 2026, Ini Versi Muhammadiyah dan Kementerian Agama
Dalam ajaran Islam, kesiapan sejak dini bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari sikap hidup seorang Muslim.
Persiapan lebih awal mencerminkan perencanaan matang agar tidak terjebak dalam kebiasaan menunda atau berada dalam kondisi terdesak.
Baca Juga: Warga Tangerang Panik, Sirine Pintu Air Neglasari Tanda Sungai Cisadane Naik
Seorang Muslim visioner tidak hanya hidup untuk hari ini, tetapi selalu membangun fondasi untuk hari esok.
Prinsip Siap Lebih Awal dalam Al-Qur’an
Allah SWT menegaskan pentingnya kesiapan melalui firman-Nya dalam Surat Al-Hasyr ayat 18.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).
Baca Juga: Zul Zivilia Bersyukur Istri Tetap Setia Menanti Selama Jalani Vonis 18 Tahun
Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap Muslim dituntut melakukan evaluasi diri dan perencanaan berkelanjutan. Fakhr al-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa penggunaan kata al-ghad atau “besok” untuk merujuk hari kiamat bertujuan mendekatkan persepsi manusia. Pesannya sederhana, sesuatu yang pasti datang seolah-olah terjadi esok pagi.
Baca Juga: Xiaomi Resmi Rilis Redmi Note 15 Series di Indonesia, Hadirkan 4 Model Tangguh
Dalam konteks Ramadan, kepastian tanggal menjadikan bulan suci bukan tamu yang datang tiba-tiba.
Ramadan adalah “hari esok” yang telah terukur. Maka perintah untuk memperhatikan apa yang dipersiapkan menjadi ajakan melakukan audit kesiapan, baik secara spiritual, fisik, maupun mental.
Baca Juga: Demo Berdarah Iran: Pemerintah Klaim 3.117 Tewas, LSM Sebut Bisa Capai 25 Ribu
Al-Razi juga menekankan penggunaan kata nafs yang bersifat personal. Ini menunjukkan bahwa kesiapan bukan tanggung jawab kolektif semata, melainkan kewajiban individu.
Tanpa menunggu euforia massal, setiap Muslim dapat mulai menata niat, melatih fisik dengan puasa sunnah, serta merencanakan zakat dan sedekah.
Mentalitas Siaga dalam Surat Al-Insyirah
Spirit kesiapan berkelanjutan ditegaskan dalam Surat Al-Insyirah ayat 7.
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain).”
Dalam Tafsir Abu Hafsh An-Nasafi, ayat ini dipahami sebagai ajakan untuk selalu siap memasuki fase berikutnya.
Baca Juga: Sosok Farida Nurhan, YouTuber Kuliner yang Sukses Raup Miliaran Rupiah
Qatadah menekankan bahwa setelah menyelesaikan kewajiban fardu, seorang Muslim dianjurkan segera memperbanyak ibadah sunnah.
Mujahid mengingatkan bahwa setelah urusan dunia selesai, fokus harus kembali pada ibadah kepada Allah.
Pesan utamanya adalah mentalitas transisi yang aktif. Setiap selesai satu kebaikan, segera bersiap menuju kebaikan berikutnya.
Baca Juga: Geger Dugaan Siswa Fiktif Terima MBG di Sampang, Amure Desak Kasus Segera Diusut
Menjelang 18 Februari 2025, waktu yang ada bukan untuk berlalu tanpa arah, tetapi momentum membangun fondasi agar saat Ramadan tiba, kita sudah siap melesat.
Hadis tentang Memanfaatkan Waktu Sebelum Terlambat
Nabi Muhammad SAW mengingatkan pentingnya kesiapan melalui hadis terkenal.
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: waktu mudamu sebelum tua, waktu sehatmu sebelum sakit, masa kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati.”
Baca Juga: BPOM Temukan 26 Produk Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Hadis ini menegaskan sikap proaktif dalam kebaikan. Setiap kondisi ideal adalah modal yang harus segera diinvestasikan sebelum berubah menjadi sulit.
Masa menjelang Ramadan adalah waktu luang yang sangat berharga. Menunda persiapan hingga bulan suci tiba sama dengan menyia-nyiakan kesempatan emas.
Baca Juga: Tertipu Rp30 Juta demi Masuk Batik Air, Khairun Nisa Berujung Jadi Pramugari Gadungan
Kepastian awal Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2025 seharusnya menjadi pemantik kesadaran untuk bersiap lebih awal. Al-Qur’an, tafsir ulama, dan hadis Nabi semuanya mengajarkan satu prinsip bahwa kesiapan adalah kunci keberhasilan ibadah.
Baca Juga: Viral Syifa WNI Jadi Tentara AS, Ini Gaji dan Statusnya di Army National Guard
Seorang Muslim yang siap lebih awal tidak membiarkan waktu mendikte hidupnya. Ia mengelola waktu sebagai sarana menuju tujuan ukhrawi.
Dengan fondasi yang kuat sebelum Ramadan tiba, ibadah di bulan suci akan lebih terarah, khusyuk, dan bermakna.
Editor : Ubaidillah