News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

1 Syawal 1447 H Jatuh Tanggal Berapa? Ini Prediksi Lebaran 2026 Versi Pemerintah dan Muhammadiyah

Ubaidillah • Selasa, 17 Maret 2026 | 02:28 WIB
Ilustrasi Lebaran (Foto: Getty Images/Choreograph (Konstantin Yuganov))
Ilustrasi Lebaran (Foto: Getty Images/Choreograph (Konstantin Yuganov))

RadarBangkalan.id - Idul Fitri 2026 atau 1 Syawal 1447 Hijriah tinggal menghitung hari. Pemerintah Indonesia dijadwalkan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal bulan Syawal pada 19 Maret 2026.

Sidang isbat tersebut akan menjadi penentu resmi kapan umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri. Meski sejumlah prediksi telah muncul, masyarakat tetap diimbau untuk menunggu keputusan resmi dari pemerintah.

Baca Juga: Jadwal Sidang Isbat Lebaran 2026 Resmi Kemenag: Tanggal, Lokasi, dan Prediksi 1 Syawal 1447 H

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri mengenai Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026 serta Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, pemerintah memprediksi Lebaran 2026 atau 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026.

Namun demikian, tanggal tersebut masih bersifat perkiraan karena penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri akan ditentukan melalui sidang isbat yang digelar menjelang akhir Ramadan.

Prediksi terkait tanggal Idul Fitri juga disampaikan oleh para peneliti astronomi di Indonesia. Salah satunya datang dari peneliti Pusat Riset Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Baca Juga: Heboh Video Maureen Worth 6 Menit di TikTok dan X, Ini Klarifikasi dan Faktanya

Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, memprediksi bahwa Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026. Prediksi ini didasarkan pada hasil perhitungan astronomi mengenai posisi hilal saat akhir Ramadan.

Thomas menjelaskan bahwa secara astronomi pada Kamis, 19 Maret 2026 saat waktu Magrib di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal diperkirakan belum memenuhi kriteria baru yang ditetapkan oleh MABIMS yang merupakan kerja sama Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Baca Juga: Video Pidato Netanyahu Viral, Publik Curiga Deepfake di Tengah Perang Iran-Israel

"Fakta astronomi, pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, ditunjukkan pada kurva kuning yang melintasi Asia Tengah," kata Thomas kepada wartawan.

Menurut kriteria terbaru MABIMS yang digunakan sejak 2021 atau 2022, awal bulan Hijriah dapat ditetapkan apabila tinggi hilal minimal mencapai 3 derajat dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat.

Baca Juga: Persija Jakarta vs Dewa United 1-1: Gol Maxwell Souza Dibalas Alexis Messidoro

Jika posisi hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka awal bulan Syawal biasanya akan ditentukan dengan metode istikmal, yaitu menyempurnakan bulan Ramadan menjadi 30 hari.

Dengan kondisi hilal yang diperkirakan belum memenuhi kriteria tersebut pada 19 Maret 2026, Thomas memprediksi bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah kemungkinan besar jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

"Maka 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 21 Maret 2026, akan menunggu keputusan sidang isbat," sambungnya.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa hasil tersebut bisa berbeda jika menggunakan kriteria kalender yang lain.

Baca Juga: Liverpool vs Tottenham 1-1: Gol Szoboszlai Dibalas Richarlison, The Reds Gagal Menang

Menurut Thomas, jika menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT, posisi bulan sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk masuk awal bulan Syawal.

"Sedangkan menurut kriteria KHGT (kurva ungu), posisi bulan telah memenuhi kriteria dan ijtima' telah terjadi sebelum fajar di Selandia Baru (ada catatan kecil di peta ini)," ujarnya.

Dengan menggunakan kriteria tersebut, maka kemungkinan 1 Syawal 1447 Hijriah bisa jatuh pada 20 Maret 2026.

"Maka menurut kriteria KHGT 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026," imbuh dia.

Baca Juga: CCTV Rekam Detik-detik Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Sementara itu, organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan tanggal Lebaran 2026.

Berdasarkan Maklumat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 serta perhitungan kalender Hijriah yang digunakan organisasi tersebut, 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri ditetapkan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan tersebut menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang berbasis pada perhitungan astronomi tanpa menunggu hasil pengamatan hilal secara langsung.

Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah antara pemerintah dan Muhammadiyah inilah yang sering memunculkan potensi perbedaan tanggal perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Baca Juga: CCTV Rekam Detik-detik Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Pemerintah menggunakan pendekatan imkanur rukyat yang menggabungkan perhitungan astronomi dengan pengamatan langsung hilal di lapangan. Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan pendekatan hisab yang menitikberatkan pada perhitungan posisi bulan secara matematis.

Meski terdapat potensi perbedaan, masyarakat tetap diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari sidang isbat yang akan digelar pemerintah.

Keputusan sidang isbat nantinya akan menjadi acuan nasional dalam menentukan kapan umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Baca Juga: Chelsea Tumbang 0-1 dari Newcastle, Gagal Masuk Empat Besar Liga Inggris

Editor : Ubaidillah
#1 syawal 1447 h #1 syawal 1447 h tanggal berapa #Idul Fitri 2026 #lebaran 2026