RadarBangkalan.id - Carok, sebuah pertarungan tradisional yang khas suku Madura, tengah menjadi sorotan kembali akhir-akhir ini setelah tragedi yang menewaskan dua korban jiwa terjadi di daerah Bangkalan.
Prinsip dan ideologi yang dianut oleh suku Madura, "katembheng potea mata, ango’a potea tholang" yang bermakna "daripada putih mata, lebih baik putih tulang," menjadi pendorong utama di balik fenomena carok.
Ideologi ini menggambarkan keberanian untuk menghadapi rasa malu daripada hidup dengan penurunan martabat, dan telah menjadi bagian kuat dari identitas masyarakat Madura.
Tradisi carok, pada dasarnya, merupakan metode penyelesaian masalah yang muncul sebagai respons terhadap isu-isu kehormatan individu dan keluarga.
Konflik yang memicu carok dapat melibatkan perebutan takhta di kalangan bangsawan keraton, skandal perselingkuhan, hingga sengketa tanah.
Meski berakar pada zaman keraton, istilah "carok" diyakini baru muncul pada masa kolonial Belanda (abad ke-17) dan dihubungkan dengan senjata tradisional Madura yang disebut clurit.
Baca Juga : Gemuruh Terdengar dari Sumur Bor, Semburan Api Setinggi 6 Meter di Pamekasan Menimbulkan Kekhawatiran
Pada era kolonial, pulau Madura jatuh di bawah kekuasaan Belanda, yang dikenal dengan kebijakan kekerasan terhadap suku Madura.
Sejarah carok dapat ditelusuri melalui cerita-cerita rakyat yang berkembang dalam masyarakat suku Madura.
Menurut kisah yang beredar, istilah "carok" muncul saat pertarungan antara Sakera dengan Brodin, Markasan, dan Carik Rembang.
Baca Juga : Resmi Dibuka Pendaftaran 500 Dai untuk Dakwah di Wilayah 3T, Ini Link Pendaftarannya
Sakera, seorang mandor petani tebu di pabrik gula Belanda, melawan praktik teror yang dilakukan oleh Carik Rembang atas perintah Belanda.
Carik Rembang, yang bertugas mencari tanah untuk ekspansi pabrik gula Belanda, menggunakan taktik teror untuk mendapatkan tanah dengan harga murah.
Sakera, tidak menerima perlakuan ini, memilih untuk membela rakyat kecil yang menjadi korban teror tersebut.
Baca Juga : Terungkap Motif Carok di Bangkalan yang menewaskan 4 Orang : Sorot Lampu Motor Berujung Maut
Berbagai upaya dilakukan Sakera untuk menggagalkan rencana Carik Rembang dan Belanda. Namun, tindakan ini membuatnya dilaporkan kepada penguasa kolonial.
Sebagai respons, Belanda menyewa seorang jagoan bernama Markasan untuk membunuh Sakera. Markasan menantang Sakera untuk beradu kekuatan (carok) dalam pertarungan di pabrik tebu.
Namun, Belanda sudah mengetahui kelemahan Sakera dan, dengan bantuan Markasan, berhasil melumpuhkannya.
Akhirnya, Sakera dihukum gantung karena dianggap mengganggu kepentingan kolonial Belanda.
Kisah ini menandai awal munculnya istilah "carok" dalam konteks pertarungan tradisional Madura yang memiliki akar sejak era kolonial. ***