News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Sejarah dan Perkembangan Matahari, Dari Toko Kecil hingga Raksasa Ritel Indonesia

Ajiv Ibrohim • Senin, 2 September 2024 | 19:52 WIB
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) meluncurkan identitas dan citra barunya, Sabtu, 8 Oktober 2022. (Foto: Matahari)
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) meluncurkan identitas dan citra barunya, Sabtu, 8 Oktober 2022. (Foto: Matahari)

Radarbangkalan.id - Siapa yang tidak kenal dengan Matahari? Sebagai salah satu platform ritel terbesar di Indonesia, Matahari telah menjadi tempat belanja yang sangat dikenal oleh masyarakat.

Dengan 155 gerai yang tersebar di 81 kota di seluruh Indonesia, Matahari telah meraih posisi penting dalam dunia ritel nasional.

Matahari berawal dari sebuah toko kecil bernama Micky Mouse yang didirikan oleh Hari Darmawan pada tahun 1960 di Pasar Baru.

Toko ini menawarkan pakaian impor dan produk buatan istri Hari yang dikenal dengan merek MM Fashion.

Dalam lima tahun pertama, Micky Mouse meraih kesuksesan, namun Hari Darmawan merasa iri terhadap kesuksesan toko lain, De Zion, yang selalu ramai pengunjung.

Pada tahun 1968, Hari Darmawan memanfaatkan kesempatan ketika kabar menyebar bahwa pemilik De Zion ingin menjual tokonya.

Dengan dukungan pinjaman sebesar US$ 200 juta dari Citibank, Hari berhasil mengakuisisi dua toko De Zion yang ada di Jakarta dan Bogor.

Nama De Zion pun diubah menjadi "Matahari" untuk mengaitkan dengan arti dalam bahasa Belanda, yang berarti Matahari, seperti yang dijelaskan oleh Hari Darmawan dalam buku *50 Great Business Ideas From Indonesia* (2010).

Dalam mengembangkan Matahari, Hari Darmawan mencontoh strategi dari Sogo Department Store Jepang.

Matahari diubah menjadi tempat belanja yang menyediakan berbagai jenis produk, mulai dari pakaian, perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, peralatan elektronik, mainan, alat tulis, hingga buku.

Strategi ini terbukti sukses dan Matahari mengalami perkembangan pesat antara tahun 1970-1980.

Memasuki tahun 1990-an, Matahari mulai membuka gerai di berbagai kota di Indonesia.

Kesuksesan ini semakin diperkuat dengan pencatatan Matahari di bursa saham pada tahun 1989 dengan kode emiten LPPF.

Meski begitu, Hari Darmawan tetap memiliki ambisi besar untuk mengembangkan Matahari menjadi pusat bisnis ritel utama di Indonesia, dengan target memiliki 1.000 gerai.

James Riady, bankir muda dari Lippo Group, menawarkan pinjaman sebesar Rp 1,6 triliun kepada Hari Darmawan untuk mewujudkan ambisi tersebut.

Namun, James Riady juga memulai bisnis ritel dengan mendirikan WalMart di depan Matahari, persaingan ini menjadi tantangan besar, tetapi Matahari tetap unggul dan terus berkembang.

Namun, pada tahun 1996, Hari Darmawan menerima tawaran dari James Riady untuk menjual Matahari, dengan omzet yang mencapai Rp 2 triliun, Matahari resmi menjadi bagian dari Lippo Group.

Akuisisi ini mengejutkan banyak pihak, mengingat kesuksesan Matahari pada masa itu, sejak saat itu Matahari menjadi milik Lippo Group dan nama Hari Darmawan perlahan mulai memudar dari sorotan publik. ***

Cantik : Nadine Ramadhani, siswa SMPN 1 Tulungagung berdandan Roro Kembang Sore saat pawai budaya tingkat SMP-SMA Se-kabupaten Tulungagung.
Cantik : Nadine Ramadhani, siswa SMPN 1 Tulungagung berdandan Roro Kembang Sore saat pawai budaya tingkat SMP-SMA Se-kabupaten Tulungagung.
SEMPROTKAN AIR: Petugas Damkarmat memadamkan api yang membakar sekam milik PT Haka Artha Cipta Unggul di Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kalipuro, Minggu (1/9).
SEMPROTKAN AIR: Petugas Damkarmat memadamkan api yang membakar sekam milik PT Haka Artha Cipta Unggul di Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kalipuro, Minggu (1/9).
MELELEH: Tiga kapal fiber ikut terbakar dalam peristiwa kebakaran di PT Haka Artha Cipta Unggul, Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kalipuro, Minggu (1/9).
MELELEH: Tiga kapal fiber ikut terbakar dalam peristiwa kebakaran di PT Haka Artha Cipta Unggul, Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kalipuro, Minggu (1/9).
NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
Editor : Ajiv Ibrohim
#ritel #sejarah #perkembangan #toko #matahari #indonesia