News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Mengenal Tragedi Kanjuruhan, Kenangan Dua Tahun yang Pernah Mengguncang Sepak Bola Indonesia

Ajiv Ibrohim • Selasa, 1 Oktober 2024 | 18:25 WIB
Mengenang memori tragis dua tahun tragedi Kanjuruhan yang melibatkan pemain Persebaya Surabaya sebagai korban. (Persebaya)
Mengenang memori tragis dua tahun tragedi Kanjuruhan yang melibatkan pemain Persebaya Surabaya sebagai korban. (Persebaya)

Radarbangkalan.id - Pada 1 Oktober 2022, sepak bola Indonesia dikejutkan oleh tragedi memilukan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Insiden ini menewaskan ratusan orang akibat kepanikan yang dipicu oleh tembakan gas air mata dari pihak kepolisian ke arah penonton.

Saat itu, pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya berlangsung sengit, Persebaya memenangkan laga dengan skor 3-2, namun kemenangan ini berujung pada kekacauan yang tak terbayangkan.

Setelah peluit panjang dibunyikan, ribuan penonton yang kecewa turun ke lapangan, menciptakan situasi kacau yang merenggut 135 nyawa.

Panitia penyelenggara sebenarnya telah meminta agar pertandingan ditunda demi alasan keamanan, tetapi permintaan ini ditolak oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) dengan alasan komersial.

Akibatnya, pertandingan tetap dilaksanakan pada malam hari, tanpa perhatian yang memadai terhadap aspek keselamatan.

Meskipun jumlah personel keamanan ditingkatkan dari 1.073 menjadi 2.034, kerusuhan tetap terjadi setelah laga.

Pemain Persebaya terpaksa dievakuasi menggunakan kendaraan taktis untuk menghindari amukan penonton yang semakin tak terkendali.

Ketika situasi memanas, pihak kepolisian menembakkan gas air mata ke tribune dan lapangan, yang memicu kepanikan massal.

Penonton berdesakan mencoba keluar dari stadion, namun banyak pintu keluar, termasuk pintu 3, 10, 11, 12, dan 14, terkunci.

Situasi diperparah dengan adanya penghalang fisik di beberapa pintu, mengakibatkan banyak orang terjebak di pintu 13, titik pusat tragedi tersebut.

Kepanikan ini mengakibatkan 135 orang meninggal dan ratusan lainnya terluka, menjadikannya salah satu tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.

Polisi menetapkan enam orang sebagai tersangka, termasuk Direktur Utama PT LIB dan beberapa pejabat kepolisian, karena dianggap lalai dalam menangani situasi tersebut.

Proses hukum tragedi ini diwarnai kejanggalan, seperti pernyataan Kapolda Jawa Timur yang menyebut penggunaan gas air mata sesuai prosedur.

Namun, pernyataan ini bertentangan dengan aturan FIFA yang melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion.

Rekonstruksi kejadian pun dilakukan di luar lokasi kejadian, yang menuai kritik tajam dari berbagai pihak.

Selama proses penyelidikan, keluarga korban dan saksi mengalami intimidasi, dan beberapa rekaman CCTV diduga dihapus.

Proses peradilan juga dibatasi, dengan terdakwa hadir secara daring, dan banyak aktor penting yang seharusnya diadili terlewatkan.

Dua tahun setelah tragedi Kanjuruhan, duka masih menyelimuti komunitas sepak bola Indonesia.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam setiap pertandingan, sepak bola seharusnya menjadi ajang hiburan, bukan tempat kehilangan nyawa.

Pemain Persebaya yang terlibat dalam pertandingan tersebut juga mengalami trauma mendalam. Meskipun berhasil diselamatkan, kenangan pahit itu tetap membekas dalam ingatan mereka.

Tragedi Kanjuruhan mencerminkan masalah manajemen yang lebih dalam dalam sepak bola Indonesia, termasuk perlunya regulasi ketat dan perhatian terhadap keselamatan penonton.

Kini, banyak pihak berharap tragedi ini menjadi pelajaran berharga untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Sepak bola adalah tentang semangat dan persaingan sehat, namun keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama.

Tragedi Kanjuruhan mengingatkan kita bahwa nyawa jauh lebih berharga daripada sekadar skor di papan pertandingan. ***

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Ajiv Ibrohim
#sepak bola indonesia #sepak bola #kanjuruhan #tragedi