RadarBangkalan.id - Dunia internasional dikejutkan oleh operasi militer kilat yang dilancarkan Amerika Serikat ke jantung pertahanan Venezuela pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari waktu setempat.
Serangan udara besar-besaran yang mengguncang ibu kota Caracas tersebut berujung pada pengumuman dramatis Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim pasukannya berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Baca Juga: Donasi Konser Valen DA7 Kontras, Pamekasan Tembus Rp1,1 Miliar Sumenep Rp71 Juta
Operasi yang berlangsung sebelum fajar pada Sabtu, 3 Januari 2026, melibatkan pemboman sejumlah titik strategis di Caracas.
Tak lama setelah ledakan mereda, Nicolás Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dilaporkan diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela menuju lokasi yang dirahasiakan.
Melalui platform media sosial Truth Social miliknya, Donald Trump mengunggah foto yang disebut sebagai konfirmasi keberhasilan misi tersebut.
"Nicolas Maduro on board the USS Iwo Jima" tulis Trump dalam keterangan foto yang memperlihatkan pemimpin sosialis Venezuela berada di atas kapal perang Amerika Serikat.
Penangkapan Maduro ini disebut sebagai eskalasi militer Amerika Serikat paling berani di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989.
Baca Juga: Akhirnya Terungkap! Purbaya Buka-Bukaan Soal Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026
Jaksa Agung AS, Pam Bondi, menyatakan bahwa Maduro akan segera dihadapkan ke pengadilan di New York atas sejumlah tuduhan serius, termasuk dugaan keterlibatan dalam jaringan terorisme narkotika atau narco-terrorism.
Penangkapan ini disebut bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Langkah tersebut merupakan puncak dari tekanan militer dan ekonomi intensif yang dilakukan Washington sejak Trump kembali menjabat untuk periode keduanya.
Sejak September 2025, Angkatan Laut AS dilaporkan telah mengerahkan armada besar di lepas pantai Venezuela, melakukan pencegatan kapal yang dicurigai membawa narkoba, serta menyita kapal tanker minyak milik pemerintah Caracas.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Sambut Tahun Baru 2026, dari Horor hingga Romantis
Operasi pembersihan jalur perairan Karibia dan Pasifik itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 110 orang.
Meski kelompok hak asasi manusia memperingatkan potensi kejahatan perang, Gedung Putih tetap bersikukuh dengan alasan menjaga stabilitas kawasan dari ancaman kelompok kriminal seperti Tren de Aragua yang telah dicap sebagai organisasi teroris oleh Washington.
Baca Juga: Heboh! Valen Pangeran Dangdut Pulang Kampung, Warga Jatim Tumpah Ruah Menyambut
Ketegangan memuncak pada akhir November 2025 saat Trump mengeluarkan ultimatum agar Maduro melepaskan kekuasaan.
Ultimatum tersebut ditolak keras oleh Maduro yang menuduh Amerika Serikat hanya mengincar kendali atas cadangan minyak Venezuela.
Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago sesaat setelah pengumuman penangkapan, Trump menegaskan Amerika Serikat akan "menjalankan negara" Venezuela hingga terbentuk pemerintahan transisi.
Ia juga menyatakan perusahaan minyak Amerika akan segera masuk untuk mengelola sumber daya energi negara tersebut.
Baca Juga: Ronaldo Cetak 40 Gol di 2025, Hasrat Kembali Bermain di Eropa Masih Menyala
Trump merujuk pada Doktrin Monroe abad ke-19 yang dimodifikasinya menjadi kebijakan baru abad ke-21.
Ia menyebut pendekatan ini sebagai bentuk dominasi penuh Amerika Serikat di belahan bumi barat.
"American dominance in the western hemisphere will never be questioned again." tegas Trump, merujuk pada apa yang ia sebut sebagai Don-Roe Doctrine, dikutip via The Guardian.
Doktrin tersebut mengisyaratkan penggunaan kekuatan militer Amerika Serikat demi menjamin akses terhadap sumber daya energi dan mineral di Amerika Latin serta memastikan kontrol politik dan komersial tetap berada di bawah pengaruh Washington.
Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dengan total sekitar 300 miliar barel.
Baca Juga: Apa Itu Super Flu? Dokter IDAI Jelaskan Fakta Sebenarnya
Meski pemimpin tertingginya telah ditawan, situasi domestik Venezuela masih belum stabil. Menteri Pertahanan Venezuela menyerukan perlawanan nasional dan menyebut operasi Amerika Serikat sebagai bentuk invasi asing. Hingga kini, militer Venezuela dilaporkan masih menguasai sejumlah pangkalan strategis.
Di sisi lain, tokoh oposisi Venezuela María Corina Machado mendesak Amerika Serikat untuk mendukung pemberontakan terhadap pemerintah.
Trump mengisyaratkan bahwa opsi tersebut tengah dipertimbangkan, meski untuk sementara Wakil Presiden Venezuela disebut menjalankan fungsi administratif di bawah pengawasan AS.
Para analis geopolitik memperingatkan bahwa penangkapan pimpinan negara secara langsung berisiko memicu kekacauan berkepanjangan, termasuk potensi konflik bersenjata internal dan gelombang pengungsi besar-besaran.
Baca Juga: Ramalan Shio Paling Beruntung 2026 di Tahun Kuda Api
Hubungan Amerika Serikat dan Venezuela telah memburuk sejak era Hugo Chávez pada 1999 dan mencapai titik nadir di bawah kepemimpinan Maduro sejak 2013.
Washington menilai pemerintahan Maduro tidak sah, terutama setelah sengketa pemilu presiden Juli 2024 yang diklaim dimenangkan kandidat oposisi Edmundo González.
AS bahkan menetapkan hadiah sebesar US$50 juta untuk penangkapan Maduro, yang dituduh sebagai salah satu penyelundup narkoba terbesar di dunia.
Baca Juga: Viral Curhat Guru ASN Pasuruan soal Jarak 57 Km, Berujung Pemecatan
Editor : Ubaidillah