News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Raksasa NATO Keluarkan Peringatan Serius, Rezim Iran Disebut di Ambang Kejatuhan

Ubaidillah • Rabu, 14 Januari 2026 | 06:32 WIB
Foto: Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)
Foto: Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)

RadarBangkalan.id - Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan bahwa kepemimpinan Iran kemungkinan berada di “hari-hari dan minggu-minggu terakhirnya” seiring meluasnya gelombang protes yang mengguncang Republik Islam tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Merz saat melakukan kunjungan resmi ke India, Selasa (13/1/2026).

Demonstrasi di Iran yang semula dipicu oleh keluhan atas kondisi ekonomi yang terus memburuk kini berkembang menjadi tuntutan terbuka untuk menggulingkan rezim ulama yang telah berkuasa selama puluhan tahun.

Baca Juga: Krisis Iran Memuncak, Nilai Rial Tembus 1,1 Juta per Dolar AS

Dalam situasi tersebut, Merz mempertanyakan legitimasi pemerintah Teheran, terutama di tengah penindakan keras terhadap para demonstran.

“Saya berasumsi bahwa kita sekarang menyaksikan hari-hari dan minggu-minggu terakhir rezim ini,” ujar Merz, seperti dikutip Reuters.

Ia menilai rezim yang hanya mampu mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan pada dasarnya telah kehilangan legitimasi.

“Ketika sebuah rezim hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan, maka rezim tersebut pada dasarnya telah berakhir. Rakyat sekarang bangkit melawan rezim ini,” lanjutnya.

Baca Juga: 5 Fakta Pegawai Pajak Jakarta Utara Kena OTT KPK, Dugaan Suap hingga Barang Bukti

Merz menegaskan bahwa Jerman terus menjalin komunikasi dan koordinasi erat dengan Amerika Serikat serta negara-negara Eropa lainnya untuk memantau perkembangan situasi di Iran.

Ia juga mendesak otoritas Teheran agar segera menghentikan tindakan represif dan kekerasan terhadap warga yang menyuarakan protes.

Meski demikian, Merz tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hubungan dagang antara Jerman dan Iran.

Baca Juga: Hasil Al Hilal vs Al Nassr 3-1: Comeback Dramatis, Ronaldo Tak Cukup

Isu ini menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang tetap melakukan perdagangan dengan Iran akan dikenai tarif sebesar 25 persen dalam hubungan dagangnya dengan AS.

Di tengah berbagai pembatasan internasional, Jerman masih mempertahankan hubungan dagang terbatas dengan Iran dan tercatat sebagai mitra dagang terpenting Teheran di kawasan Uni Eropa.

Baca Juga: Registrasi Akun SNPMB 2026 Dibuka, Ini Jadwal dan Cara Daftarnya

Berdasarkan data kantor statistik federal Jerman, nilai ekspor Jerman ke Iran tercatat turun sekitar 25 persen menjadi kurang dari 871 juta euro atau sekitar Rp14,37 triliun dalam 11 bulan pertama 2025.

Angka tersebut hanya menyumbang kurang dari 0,1 persen dari total ekspor Jerman secara keseluruhan.

Baca Juga: Viral MBG Dibagikan Pakai Plastik, SPPG Pandeglang Beri Klarifikasi

Editor : Ubaidillah
#hubungan dagang #Friedrich Merz #penindakan keras #protes #legitimasi pemerintah #amerika serikat #nato #iran #rezim ulama #situasi politik iran