Radarbangkalan.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran. Informasi tersebut disampaikan seorang pejabat Amerika Serikat dan dilaporkan Al Arabiya pada Jumat (16/1/2026).
Permintaan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran regional terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah apabila Washington melancarkan aksi militer langsung ke Iran.
Baca Juga: Iran Mendadak Sunyi Usai Pembunuhan Massal, Protes Redam dengan Korban Ribuan
Saudi, Qatar, dan Oman Lobi Trump
Seorang pejabat senior Arab Saudi mengatakan kepada AFP bahwa Arab Saudi, Qatar, dan Oman memimpin upaya diplomatik untuk membujuk Trump agar tidak menyerang Iran.
Negara-negara Teluk tersebut khawatir aksi militer AS akan menimbulkan dampak serius dan meluas di kawasan.
Baca Juga: Krisis Iran Memuncak, Nilai Rial Tembus 1,1 Juta per Dolar AS
Upaya de-eskalasi itu memicu kritik dari sejumlah kalangan di Amerika Serikat. Senator Lindsey Graham, tokoh neokonservatif yang selama ini mendukung perubahan rezim di Iran, menilai sikap sekutu Teluk dapat memicu peninjauan ulang hubungan strategis AS dengan negara-negara Arab.
AS Nilai Serangan Skala Besar Berisiko
Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada New York Times bahwa Netanyahu secara langsung meminta Trump untuk menunda rencana serangan tersebut.
Sementara itu, pejabat AS lainnya menyampaikan kepada Wall Street Journal bahwa Trump disarankan menghindari serangan skala besar.
Baca Juga: Klasemen Liga Inggris 18 Januari 2026: Arsenal Masih Tak Tergoyahkan di Puncak
Menurut para pejabat, serangan tersebut kecil kemungkinan menjatuhkan pemerintahan Iran dan justru berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas.
Selain itu, Amerika Serikat dinilai membutuhkan tambahan aset militer di kawasan untuk menghadapi kemungkinan balasan Iran, termasuk ancaman terhadap pasukan AS di Timur Tengah dan Israel.
AS Perkuat Kesiapan Militer
Militer AS saat ini tengah mengerahkan satu kapal induk dari Laut Cina Selatan ke kawasan Timur Tengah, menyusul ketiadaan kapal induk AS di wilayah tersebut.
Baca Juga: BPOM Temukan 26 Produk Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Sebelumnya, AS juga menarik sebagian personelnya dari Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, pangkalan udara terbesar Amerika di kawasan.
Departemen Luar Negeri AS turut mengeluarkan peringatan perjalanan, meminta warga Amerika membatasi perjalanan yang tidak penting ke sejumlah wilayah di Timur Tengah.
Trump: Semua Opsi Tetap Terbuka
Meski belum mengambil keputusan untuk menyerang Iran, pemerintah AS menegaskan bahwa seluruh opsi masih dipertimbangkan.
Baca Juga: Pesawat ATR IAT Hilang Kontak di Maros, 400 Personel SAR Dikerahkan
Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyatakan bahwa Presiden Trump telah menegaskan semua opsi tetap terbuka untuk menghentikan kekerasan di Iran.
Pernyataan tersebut menandakan bahwa meski tekanan diplomatik meningkat, ketegangan antara Washington dan Teheran masih jauh dari mereda.
Baca Juga: Penumpang Diduga Lakukan Aksi Tak Senonoh di Bus Transjakarta, Diserahkan ke Polisi
Editor : Ubaidillah