RadarBangkalan.id – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, suasana ibadah umat Islam biasanya terasa semakin khusyuk. Masjid dan musala yang sebelumnya ramai saat salat Tarawih, kini tetap hidup hingga larut malam.
Banyak jemaah memilih berdiam lebih lama untuk berzikir, membaca Al-Qur’an, atau sekadar berdoa dalam sunyi.
Momentum ini dimanfaatkan untuk memburu malam yang diyakini penuh kemuliaan: Lailatulqadar, malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan.
Lailatulqadar dipercaya sebagai malam istimewa yang penuh keberkahan dan ampunan. Dalam ajaran Islam, malam tersebut diyakini sebagai waktu turunnya Al-Qur’an dan menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meraih pahala berlipat.
Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan kerap menjadi masa ketika intensitas ibadah meningkat. Tidak sedikit umat Muslim yang berusaha menghidupkan malam dengan berbagai amalan.
Salah satu amalan yang paling sering dilakukan adalah salat malam atau qiyamul lail. Setelah melaksanakan salat Tarawih, sebagian jemaah melanjutkan dengan salat sunah lainnya hingga mendekati waktu sahur.
Di beberapa masjid, kegiatan ini bahkan berlangsung secara berjemaah sehingga suasana ibadah terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan.
Selain salat malam, membaca Al-Qur’an juga menjadi amalan yang banyak dilakukan. Tadarus yang biasanya dilakukan setelah tarawih sering diperpanjang hingga larut malam.
Bagi sebagian orang, sepuluh malam terakhir menjadi waktu untuk menuntaskan bacaan Al-Qur’an atau memperbanyak tilawah sebagai bentuk refleksi spiritual menjelang berakhirnya Ramadan.
Amalan lain yang juga populer adalah memperbanyak zikir dan doa. Umat Muslim meyakini bahwa malam Lailatulqadar merupakan waktu yang sangat baik untuk memohon ampunan dan memanjatkan harapan.
Karena itu, banyak orang memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa lebih lama, baik secara pribadi maupun bersama jamaah di masjid.
Baca Juga: Journaling dan Kesehatan Mental: Sekadar Tren atau Benar-Benar Bermanfaat?
Sebagian umat Islam juga memilih melakukan iktikaf, yakni berdiam diri di masjid dengan niat beribadah.
Selama iktikaf, waktu diisi dengan salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta merenungi perjalanan hidup.
Tradisi ini membuat suasana masjid terasa berbeda dibanding malam-malam Ramadan sebelumnya karena jemaah tetap berada di dalam masjid hingga waktu sahur tiba.
Di berbagai daerah, suasana sepuluh malam terakhir Ramadan juga terasa lebih hidup. Masjid dan mushala sering mengadakan kegiatan tambahan seperti kajian singkat, tadarus bersama, hingga sahur berjemaah.
Aktivitas ini tidak hanya memperkuat semangat ibadah, tetapi juga mempererat kebersamaan antarwarga.
Meski waktu pasti terjadinya Lailatulqadar tidak diketahui secara pasti, banyak ulama menyebut malam tersebut kemungkinan hadir pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Ketidakpastian inilah yang mendorong umat Islam untuk terus meningkatkan ibadah sepanjang periode tersebut, dengan harapan dapat meraih keberkahan malam seribu bulan.
Bagi banyak orang, Lailatulqadar bukan sekadar malam istimewa yang dinanti, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri.
Penghujung Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan perjalanan spiritual selama sebulan penuh, sekaligus meneguhkan tekad untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah Ramadan berlalu. (*)
Editor : Ina Herdiyana