Oleh : Mohammad Sugianto (Wartawan senior Jawa Pos Radar Madura)
Saya tidak mengenal Lukman Hakim, Bupati Bangkalan. Mengenal wabup Bangkalan, Fauzan Jakfar? Iya, kenal. Punya kedekatan pribadi dengan Fauzan Ja’far? Hmmmmmmssss,,,bisa iya, juga bisa tidak. Bilang iya, khawatir dibilang “Sok akrab”. Bilang tidak, nanti dikutuk oleh “Senior”.
Tapi saya mengikuti pergerakan mereka dalam 100 hari terakhir sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bangkalan. Diam-diam saya mengamati. Meskipun bukan pengamat. yah, sebagai pengamat amatiranlah, bisa dibilang begitu.
Mereka sering turun. Itu fakta.
Bahkan terlalu sering-kalau mau dibandingkan dengan kepala daerah lain yang lebih senang duduk nyaman di balik meja, dengan AC dan agenda seremonial.
Saat banjir melanda, Lukman-Fauzan hadir. Saat angin puting beliung merobohkan atap rumah warga, mereka datang. Ketika rumah warga kebakaran, mereka juga tak absen. Ketika bau sampah di pasar Ki Lemah Duwur menyengat, mereka turun langsung. Atau ketika sampah mulai menyumbat parit dan membuat kota tampak kumuh, Lukman tidak menunggu laporan—dia turun langsung. Tanpa peluit. Tanpa drum band. Kadang hanya ditemani ajudan dan rasa muak terhadap ketidakteraturan.
Model pemimpin seperti ini mestinya membuat birokrasi ikut bergerak. Tapi ternyata tidak.
Justru yang terlihat adalah kontras:
Bupatinya lari, OPD-nya jalan santai.
Wabupnya respon cepat, kepala dinasnya menunggu “teguran”.
OPD kita masih punya kebiasaan lama: bekerja kalau ditekan. Bergerak kalau disorot. Sibuk kalau dipanggil.
Kalau tidak? Ya, kembali ke mode diam. Kembali ke mode slow motion. Kembali ke mode “La yamutu wala yahya”, (ta’ mateh ta’ odi’ madura red).
Satu dua kepala dinas mungkin mulai sadar: ini pemimpinnya beda. Tapi banyak yang belum nyetel. Mereka seperti masih bertanya-tanya: ini sungguhan harus kerja beneran?
Padahal ritmenya sudah pernah dibentuk. Saat Pj Bupati Arif M. Edie memimpin Bangkalan, kurang lebih satu tahun lalu. Saat itu semua seperti tersadar. Dinas-dinas yang biasanya lambat, mulai bergerak cepat. Bahkan masalah yang biasanya dibiarkan menumpuk, bisa ditangani. Tidak selesai total, tapi terasa ada yang jalan.
Saya ingat, ada aduan warga soal sampah yang hanya selang sehari langsung direspons. Jalan berlubang yang biasa dibiarkan menunggu musrenbang, tiba-tiba diperbaiki. Bahkan pelayanan publik yang biasanya kaku, mendadak lebih terbuka. Semua seperti tertular satu energi: gercep.
Energi itu bukan datang dari rapat. Bukan juga dari surat edaran. Tapi dari teladan.
Pj Arif saat itu memang tidak banyak bicara. Tapi begitu bergerak, bawahannya ikut sibuk. Bukan karena takut, tapi karena sadar: saat itu tidak bisa main-main.
Itu dulu.
Sekarang?
OPD kembali lambat. Seperti lupa bahwa mereka pernah bisa cepat. Lupa bahwa Bangkalan sempat terasa punya harapan.
Dalam benak saya, ini bukan soal kompetensi semata. Tapi soal nyali. Soal keberanian mengambil keputusan tanpa harus menunggu aba-aba. Soal kepekaan. Dan, yang paling penting: soal loyalitas terhadap perubahan.
Kita semua tahu, perubahan itu melelahkan. Tapi memilih stagnan lebih menyakitkan. Apalagi bagi rakyat yang bosan melihat janji politik tinggal janji.
Lukman dan Fauzan tampaknya sedang lari sendiri di lapangan luas yang penuh birokrasi malas. Mereka menyalakan lampu, tapi banyak yang lebih memilih duduk di bayangannya. Mereka memancing gerak, tapi yang muncul justru tunggu perintah.
Saya khawatir, kalau begini terus, publik akan kehilangan energi awal yang sudah dibangun 100 hari ini. Sayang, kan?
Kalau saya boleh menyarankan—dan saya tahu saya bukan siapa-siapa di Bangkalan—maka satu hal yang harus segera dilakukan Lukman-Fauzan adalah ini: evaluasi OPD secara terbuka.
Cari yang benar-benar bekerja. Singkirkan yang cuma jadi penonton. Kalau perlu, ganti yang tak punya kecepatan.
Karena rakyat tidak sedang menunggu siapa yang pintar menyusun laporan. Mereka menunggu siapa yang berani mengubah keadaan.
100 hari pertama Lukman-Fauzan sudah cukup memberi tanda: mereka tidak ingin jadi pemimpin yang hanya nyaman di kursi.
Tapi kalau OPD tetap berjalan di tempat, perubahan hanya akan menjadi niat baik—yang pelan-pelan layu.
Dan Bangkalan tidak butuh niat.
Bangkalan butuh kerja. Wassalam!!!
Editor : Mohammad Sugianto