News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Menggali Inspirasi Politik: Kisah MH Said Abdullah dan Buku Pertama yang Mengubah Hidupnya

Ina Herdiyana • Rabu, 25 Juni 2025 | 22:24 WIB

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI MH. Said Abdullah
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI MH. Said Abdullah

RadarBangkalan.id – "Pada akhirnya, setiap orang akan dipandu oleh keyakinannya." Ungkapan sederhana ini telah menjadi pegangan dalam perjalanan politik MH Said Abdullah hingga saat ini.

Politikus PDI Perjuangan asal Sumenep ini sudah menunjukkan ketertarikan di dunia politik sejak muda.

Bahkan, saat duduk di kelas III SMA, ia sudah menjabat sebagai ketua Pemuda Demokrat, yang merupakan sayap PDI pada waktu itu.

Baca Juga: Pengajuan Hak Paten Itik Dabung Terkendala Dokumen Ilmiah, Ini Penjelasan Disnak Bangkalan

Minat politik MH Said Abdullah sebenarnya diwarisi dari ayahnya, Abdullah Syechan Baghraf, yang dikenal sebagai seorang NU-Soekarnois.

Karena itu, tidak mengherankan jika ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai NU dan nasionalisme.

"Abah saya dikenal sebagai NU-Soekarnois dan bekerja di PT Garam. Itulah latar belakangnya," ujarnya.

Sebagai pegawai PT Garam, ayah Said Abdullah sering melakukan perjalanan antar pulau, namun selalu membawa buku saat bertugas.

Baca Juga: BSU 2025 Tahap 1 Sudah Cair! Cek Syarat, Jumlah Penerima, dan Cara Penyalurannya

"Buku-bukunya aneh-aneh, bukan buku yang sesuai untuk usia saya saat itu," kenangnya.

Karena bacaan ayahnya, Said Abdullah mulai merasa penasaran. Pada tahun 1979–1980, dia memutuskan untuk membaca buku milik ayahnya dan buku pertama yang dibacanya adalah Sarinah, saat dia masih di akhir SMP.

Namun, setiap kali dia ingin membaca, ayahnya selalu melarang tanpa memberikan penjelasan. "Intinya, jangan baca buku itu. Justru karena dilarang, saya jadi semakin penasaran," ungkapnya.

Tanpa sepengetahuan ayahnya, Said Abdullah tetap membaca buku Sarinah. Dia bahkan melanjutkan dengan membaca buku lain seperti Bendera Revolusi jilid I dan II, serta karya-karya Bung Karno, termasuk Indonesia Menggugat.

Baca Juga: Penyaluran Bansos Triwulan II 2025 Terkendala, 1,3 Juta Rekening Gagal Salur

"Ketika membaca buku-buku itu, hati kita bergetar dan membuat kita merasa terasing dari lingkungan sekitar. Setelah itu, saya mulai membaca karya Tan Malaka dan lainnya," jelasnya.

Setelah memasuki bangku SMA, Said Abdullah mulai bergabung dengan PDI, sebuah keputusan yang mengejutkan banyak orang, terutama orang tuanya.

"Pada masa itu, keputusan ini sangat ekstrem, karena di kampung saya, yang mayoritas adalah PPP dan Golkar," terangnya. (daf)

Editor : Ina Herdiyana
#inspirasi #MH Said Abdullah #politik #Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) #buku sarinah