Oleh: Mohammad Sugianto
(Wartawan Senior Jawa Pos Radar Madura)
Hari Guru selalu membuat saya berhenti. Bukan berhenti lama—cukup sehela napas.
Lalu parade wajah-wajah itu lewat di kepala saya.
Wajah para guru.
Yang dulu saya pandangi dari bangku paling belakang.
Bangku favorit para pengamat. Dan para pengacau kecil.
Saya dulu heran: kenapa orang memilih jadi guru?
Pekerjaan yang hasilnya tidak kelihatan di awal, tapi sangat terasa di akhir.
Sangat lama. Sangat sunyi.
Seperti menanam pohon yang baru berbuah setelah yang menanam sudah lupa.
Hari ini saya ingat satu guru saya.
Suaranya lembut sekali.
Nilai matematikanya—keras sekali.
Kontras yang indah: petisi kasih sayang dibungkus teror angka.
Saya juga ingat guru lain.
Yang kalau marah, kapur bisa terbang seperti pesawat tempur.
Penghapus pun ikut melayang—lebih berat, lebih menyakitkan.
Saya pernah kena. Tepat di muka.
Mata saya memar. Hati saya apalagi.
Waktu itu saya diam. Tidak seperti sekarang: sedikit goresan bisa langsung lapor polisi. Hehehe.
Belakangan saya sadar: itu semua bukan kekerasan.
Itu alarm.
Alarm yang bunyinya keras agar kami tidak tumbuh jadi anak yang lembek.
Dan ternyata berhasil—meski caranya kini sudah dilarang undang-undang.
Saya pun pernah jadi guru.
Guru sukarelawan.
Guru kelas kecil, sekolah kecil, kecamatan kecil––yang banyak orang bahkan tidak tahu letaknya.
Jika saya berangkat mengajar, perjalanan satu jam.
Kadang lebih lama ketika ban sepeda motor selip di jalan tanah.
Di sana saya belajar satu hal yang tidak ada di buku pedagogi mana pun:
Menjadi guru bukan soal profesi.
Ia soal hati yang tidak bisa diam ketika melihat anak belum mengerti.
Dulu saya bingung kenapa guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa.
Apa pahlawannya?
Apa jasanya?
Kok tanpa tanda?
Sekarang saya paham:
Jasa guru itu terlalu besar untuk ditandai.
Tidak ada medali yang cukup.
Tidak ada piagam yang mampu memuat efeknya sampai puluhan tahun ke depan.
Kita mengingat guru bukan karena rumusnya.
Tapi karena caranya membuat kita percaya diri pada saat kita paling ragu.
Atau caranya memarahi kita pada saat kita paling butuh ditegur.
Saya teringat humor kecil.
Ada murid bertanya,
“Pak, jadi guru itu capek tidak?”
Saya jawab,
“Capeknya belakangan. Senangnya dulu.”
Ia tidak mengerti.
Memang begitu. Hal-hal besar baru dipahami setelah kita dewasa—dan terlambat mengucapkan terima kasih.
Hari Guru bukan sekadar perayaan profesi.
Ia cermin panjang.
Yang memantulkan siapa kita hari ini.
Dan siapa saja yang membentuk kita dulu.
Karena semua orang pernah jadi murid.
Dan sebagian dari kita—meski sebentar—pernah juga jadi guru.
Kesimpulan saya sederhana:
Guru bukan hanya orang yang mengajar.
Guru adalah orang yang membuat kita tidak berhenti belajar.
Salam Haru Guru Nasional!
Editor : Mohammad Sugianto