RadarBangkalan.id - Dalam kunjungannya ke Australia, Presiden Joko Widodo sekaligus melangsungkan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese,
di Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC). Pertemuan kedua pemimpin negara ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan diplomatik yang telah berlangsung selama 75 tahun.
Dari hasil pertemuan tersebut, Presiden Jokowi menekankan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama strategis di kawasan Indo-Pasifik.
"Australia adalah mitra strategis Indonesia dan ASEAN di kawasan Indo-Pasifik, tempat kita berbagi masa depan serta tanggung jawab bersama menjaga stabilitas," ujar Presiden Jokowi.
Jokowi juga menyoroti empat poin utama untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Australia. Pertama, menyambut baik perkembangan kerja sama kedua negara,
termasuk penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tentang Kolaborasi Kendaraan Listrik.
"Saya harap MoU dapat segera diimplementasikan melalui pembentukan joint steering committee dan penyusunan work plan.
Khusus terkait nikel saya mendorong kedua negara dapat lebih mengedepankan kolaborasi daripada berkompetisi," ungkap Jokowi.
Indonesia dan Australia merupakan dua negara penghasil nikel besar di dunia. Bahan baku tersebut saat ini digunakan untuk membuat baterai kendaraan listrik.
Australia memiliki 24 persen cadangan litium dunia, bahkan menyumbang 43 persen dari ekstraksi litium global pada 2022.
Kedatangan Jokowi ke Melbourne, Australia, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-Australia,
disambut hangat oleh sejumlah pejabat tinggi Australia. Jokowi disambut dengan sebuah mobil listrik BMW type iX, menunjukkan komitmen kedua negara terkait penjajakan di bidang energi hijau.