News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Fenomena Rojali dan Rohana Mewabah, Tanda Daya Beli Masyarakat Kian Tertekan

Mohammad Sugianto • Kamis, 7 Agustus 2025 | 03:16 WIB
Ilustrasi rojali dan rohana sedang berkeliaran didalam mall
Ilustrasi rojali dan rohana sedang berkeliaran didalam mall

JAKARTA,Radarbangkalan.id – Fenomena "Rojali" (Rombongan Jarang Beli) dan "Rohana" (Rombongan Hanya Nanya) yang ramai muncul di pusat perbelanjaan dan media sosial belakangan ini bukan sekadar candaan semata. Tren ini mencerminkan gejala serius yang sedang dialami perekonomian nasional, terutama dari sisi konsumsi masyarakat.

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Darmadi Durianto, menilai maraknya istilah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat sedang mengalami tekanan hebat. “Fenomena Rojali dan Rohana itu adalah cerminan konkret dari melemahnya konsumsi masyarakat di tengah situasi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya,” ujarnya, Rabu (6/8).

Indikator Ekonomi Mengarah ke Penurunan Konsumsi

Darmadi mengungkapkan sejumlah indikator makro dan mikro ekonomi yang menguatkan analisis tersebut. Salah satunya, lonjakan rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) di sektor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang bahkan kini melampaui masa krisis pandemi Covid-19.

“Semakin banyak masyarakat yang tidak mampu lagi membayar cicilan rumah. Ini bukan gejala ringan, tapi bukti bahwa daya beli menurun drastis,” jelasnya.

Indikator lain adalah angka undisbursed loan atau pinjaman yang sudah disetujui bank namun belum dicairkan, yang kini mencapai Rp 2.350 triliun. Darmadi menjelaskan, banyak pelaku usaha menunda pencairan karena kondisi pasar yang lesu dan minim permintaan.

“Mereka pikir, untuk apa ekspansi kalau masyarakat tidak punya daya beli? Jadi kredit disimpan dulu,” ujarnya.

Keyakinan Konsumen Menurun

Tak hanya itu, indeks keyakinan konsumen juga terus mengalami penurunan. Menurut Darmadi, ini menjadi sinyal tambahan bahwa masyarakat sedang berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, bahkan untuk kebutuhan non-primer.

"Orang ke mall cuma jalan-jalan, tanya-tanya, atau sekadar elus-elus barang tanpa membeli. Itulah Rojali, Rohana, dan sekarang muncul juga istilah baru: Rohalus, Rombongan Hanya Elus-Elus,” sindirnya.

Butuh Respons Nyata Pemerintah

Melihat kondisi ini, Darmadi mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam memulihkan daya beli masyarakat. “Pemerintah tidak bisa anggap enteng fenomena ini. Harus ada kebijakan fiskal dan stimulus ekonomi yang langsung menyentuh konsumsi masyarakat,” tegasnya.

 

Editor : Mohammad Sugianto
#ekonomi lesu #Fenomena Rojali #daya beli turun #Fenomena Rojali dan Rohana #fenomena #Fenomena Rohana