RadarBangkalan.id – Dunia fashion selalu berubah. Namun, satu tren yang terus bertahan dan bahkan kian diminati generasi muda adalah baju thrift.
Di Bangkalan, lapak-lapak thrift shop mulai bermunculan, baik offline maupun online. Di media sosial, puluhan akun lokal aktif menawarkan beragam jenis pakaian: mulai dari kaus, kemeja flanel, jaket jins, hingga celana vintage.
Semuanya dijual dengan harga yang jauh lebih terjangkau daripada produk baru di toko resmi.
Baca Juga: Eksistensi Baju Thrift, Gaya Secondhand yang Makin Diminati Kaum Muda
Salah satu alasan utama mengapa banyak orang memilih baju thrift adalah karena harganya yang ramah di kantong.
Cukup dengan Rp 30 ribu–50 ribu, kamu bisa mendapatkan jaket branded yang masih layak pakai.
”Kita bisa tampil keren tanpa harus keluar uang banyak. Yang penting tahu cara mix and match,” ujar Mona, mahasiswa yang aktif berburu baju thrift tiap akhir pekan.
Bagi pelajar dan mahasiswa yang punya dana terbatas, thrift shop menjadi solusi alternatif untuk tetap tampil gaya tanpa harus menguras tabungan.
Baca Juga: 9 Buah Kaya Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh Saat Flu dan Pilek
Tak sedikit pula yang memilih thrifting shop karena ingin tampil unik dan tidak pasaran.
Pakaian yang dijual biasanya tidak dalam jumlah banyak—sering kali hanya satu item untuk satu model. Hal ini membuat pembeli merasa memiliki gaya yang lebih personal dan khas.
Barang-barang seperti jaket vintage, flannel 90-an, hingga kemeja motif ala retro sering kali hanya ada satu varian, menjadikannya incaran para pencinta fashion klasik.
Thrifting juga menjadi bagian dari gerakan sustainable fashion. Industri pakaian jadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia.
Baca Juga: Viral Kisah Nenek Dibuang Anak Kandung, Diminta Tak Usah Dikabari Saat Meninggal
Dengan membeli baju bekas, artinya kita turut mengurangi sampah tekstil dan memperpanjang umur pakaian.
Jangan salah sangka, thrift shop tak melulu menjual baju tanpa merek. Banyak pula yang menyediakan pakaian bermerek seperti Levi’s, Uniqlo, H&M, hingga jaket Nike edisi lama.
Beberapa penjual bahkan secara khusus memilih baju impor dari Jepang, Korea, dan Eropa untuk memenuhi selera pasar yang mencari keunikan.
Tak hanya sebagai pembeli, banyak anak muda yang kini membuka usaha thrift shop sendiri, baik dari rumah maupun secara online.
Modalnya tak perlu besar, cukup pintar memilih barang dan tahu cara memasarkannya. Foto yang menarik dan gaya promosi yang tepat menjadi kunci pemasaran thrifting. (*)