RadarBangkalan.id – Buah delima atau pome berasal dari istilah Inggris pomegranate (Punica granatum). Buah ini sering dijuluki sebagai permata alam karena saat dibelah, bagian dalamnya dipenuhi oleh biji-biji kecil berwarna merah menyala yang tampak seperti batu rubi.
Di balik tampilannya yang eksotis, delima menyimpan berbagai keunikan yang membuatnya istimewa sejak ribuan tahun yang lalu.
Bagian yang kita konsumsi dari buah delima disebut aril. Setiap butiran merah tersebut sebenarnya membungkus biji kecil di dalamnya.
Teksturnya yang renyah dan sensasi air buah yang meledak saat digigit memberikan perpaduan rasa manis dan asam yang sangat segar.
Struktur unik ini menjadikan delima salah satu buah yang paling menarik secara visual, baik disajikan sebagai jus maupun taburan penghias hidangan.
Dalam banyak kebudayaan kuno, delima dianggap sebagai lambang kemakmuran dan kesuburan karena jumlah bijinya yang sangat banyak.
Di beberapa tradisi pernikahan, buah delima sering dihadirkan sebagai simbol harapan agar pasangan tersebut dikaruniai keturunan dan rezeki yang melimpah.
Karena daya tahannya yang cukup lama setelah dipetik, buah ini juga sering dianggap sebagai simbol keabadian dan ketangguhan.
Secara fungsional, delima dikenal sebagai salah satu buah dengan kandungan antioksidan paling tinggi, bahkan melampaui teh hijau.
Kandungan polifenol di dalamnya sangat baik untuk membantu menjaga kesehatan jantung dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Inilah yang membuat delima sering dicari oleh mereka yang mulai peduli pada pola hidup sehat dan pencegahan penuaan dini secara alami.
Baca Juga: Kacang Koro: Alternatif Sumber Protein Nabati Lokal
Buah delima memiliki tempat khusus dalam sejarah dunia, mulai dari naskah-naskah kuno hingga mitologi Yunani.
Ia sering dikaitkan dengan kisah Dewi Aphrodite sang dewi cinta dan kecantikan, diyakini sebagai sosok yang pertama kali menanam pohon delima di pulau Siprus, dari sini buah delima menjadi simbol dari cinta kasih, gairah, dan kesuburan.
Selain itu, buah ini juga dikaitkan dengan Dewi Persephone, pasangan Dewa Hades, dimana buah ini menggambarkan siklus pergantian musim di bumi.
Saat diculik oleh Hades ke dunia bawah atau Underworld, Persephone memakan beberapa butir biji delima.
Karena telah memakan makanan dari dunia bawah, ia terikat secara permanen dan harus menghabiskan sebagian waktunya di sana setiap tahun.
Saat Persephone di dunia bawah, bumi mengalami musim dingin karena kesedihan ibunya, saat dia kembali, maka bumi akan mengalami musim semi atau musim panen.
Kehadirannya yang konsisten dalam catatan sejarah dan manfaatnya membuktikan bahwa manusia telah menghargai keindahan dan manfaat buah ini selama berabad-abad. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana