Radarbangkalan.id - Nama Aditya Gumay kembali menjadi sorotan publik. Setelah lama dikenal sebagai kreator tayangan anak-anak era 90-an, ia kini menuai kritik tajam karena keterlibatannya sebagai sutradara film NIA.
Film tersebut mengangkat tragedi memilukan yang menimpa Nia Kurnia Sari, gadis penjual gorengan asal Padang Pariaman, Sumatera Barat yang menjadi korban rudapaksa dan pembunuhan pada 2024.
Kontroversi mencuat karena dalam penayangan perdana, film ini menampilkan QRIS donasi di layar bioskop.
Publik menilai kisah tragis Nia kembali dikomersialisasi. Selain itu, alur cerita juga dianggap menyimpang dari fakta asli sehingga memicu kemarahan warganet.
Profil Aditya Gumay, Kreator Senior dengan Karier Panjang
Aditya Gumay lahir pada 4 Oktober 1966 dan telah lebih dari tiga dekade berkarya di dunia seni. Ia menyelesaikan pendidikan di IISIP Jakarta dan mengikuti kursus sinematografi di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail.
Pada 1986, Aditya mendirikan Sanggar Ananda serta Teater Kawula Muda, dua pusat seni yang kemudian melahirkan banyak artis Indonesia. Sanggar Ananda kini memiliki lebih dari 3.000 murid dan 15 cabang.
Beberapa artis jebolan sanggar tersebut antara lain Olga Syahputra, Ruben Onsu, Indra Bekti, Okky Lukman, Chika Waode, Dude Harlino, Jessica Mila, hingga Zee Zee Shahab.
Melambung Berkat Lenong Bocah
Popularitas Aditya melejit saat ia menyutradarai program legendaris Lenong Bocah yang tayang di TPI pada tahun 1994.
Program ini meraih 6 Piala Vidia pada Festival Sinetron Indonesia 1994–1996 dan menjadi tontonan favorit keluarga Indonesia era 90-an.
Meniti Karier di Dunia Film
Setelah berkiprah di televisi, Aditya merambah perfilman melalui Tina Toon dan Lenong Bocah (2004). Namanya makin dikenal lewat sejumlah film yang mendapat sambutan positif.
Beberapa film arahan Aditya Gumay:
-
Emak Ingin Naik Haji (2009)
-
Rumah Tanpa Jendela (2011)
-
Taman Lawang (2013)
-
Sayap Kecil Garuda (2013)
-
Ada Surga di Rumahmu (2015)
-
Ummi Aminah
Ia juga pernah menjadi juri Indonesian Movie Awards 2012 bersama Didi Petet dan Leila S Chudori.
Baca Juga: Siarkan Langsung! Link Live Streaming Chelsea vs Barcelona Malam Ini
Dalam kehidupan pribadi, Aditya memiliki empat anak. Salah satunya, Ayu Gumay, pernah membintangi film Rumah Tanpa Jendela.
Pada era 90-an, Aditya juga merilis album musik berjudul Hari Ini Aku Jatuh Cinta bersama AB Utomo.
Kontroversi Film NIA: QRIS Donasi hingga Tuduhan Eksploitasi
Kontroversi film NIA bermula dari video premiere yang viral. Di akhir pemutaran, muncul QRIS donasi, sesuatu yang jarang — bahkan hampir tidak pernah — dilakukan dalam film layar lebar.
Publik menilai hal ini tidak etis, mengingat film tersebut mengangkat tragedi Nia Kurnia Sari, korban kekerasan yang tewas saat bekerja menjajakan gorengan di Kayu Tanam pada 2024.
Baca Juga: Terungkap! Ini Identitas Istri Fiki Naki Setelah Resmi Menikah
Selain QRIS, sinopsis film juga dikritik karena dianggap melenceng dari fakta, bahkan menambah dramatisasi yang tidak terjadi dalam kejadian asli. Warganet pun mengecam keras pembuatan film ini.
Komentar seperti:
"Ini gimana konsepnya? Buat film tapi di post credit scene malah minta sumbangan?"
banyak bermunculan di media sosial, menunjukkan penolakan publik terhadap pendekatan film tersebut.
Dukungan Keluarga dan Pernyataan Aditya Gumay
Aditya menyebut bahwa pengerjaan film dilakukan setelah mendapatkan persetujuan keluarga Nia. Ia mengatakan ingin menghadirkan kisah Nia sebagai bentuk penghormatan dan pengingat tentang kerasnya kehidupan yang dijalani korban.
Baca Juga: Target Perolehan Dana Superbank Saat IPO, Investor Wajib Tahu
Menurut Aditya, kisah Nia penuh pelajaran hidup dan film ini diharapkan dapat membuka mata masyarakat mengenai kerentanan perempuan dan pekerja muda terhadap kekerasan.
Akun X @HistorikaFilm mengutip pernyataannya bahwa film NIA merupakan upaya menghadirkan gerakan kebaikan.
"Aditya Gumay selaku salah satu produser film ini menyatakan, Film NIA bukan sekedar tontonan tetapi Gerakan kebaikan bersama untuk membangun Rumah Tahfiz Quran, pesantren dan gerakan sosial lainnya."
Meski demikian, kritik publik tetap menguat, terutama karena penayangan QRIS yang dianggap tidak pantas untuk film yang mengangkat tragedi kemanusiaan.
Baca Juga: Kemensos Pastikan BLTS Tahap Kedua Segera Cair untuk 12 Juta KPM Pekan Depan