News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Harum Tradisi di Balik Sepincuk Nasi Sekkol Tono: Menyusuri Jejak Kuliner Pagi dari Romben Guna

Ina Herdiyana • Jumat, 11 Juli 2025 | 13:22 WIB
MAKANAN KHAS: Nasi sekkol tono tersaji dengan daun jati pada pagi hari.
MAKANAN KHAS: Nasi sekkol tono tersaji dengan daun jati pada pagi hari.

SUMENEP, RadarBangkalan.id – Saat mentari belum meninggi dan embun masih setia menyelimuti tanah di Desa Romben Guna, Kecamatan Dungkek, Sumenep, aroma khas kelapa bakar perlahan menyeruak di antara deretan rumah warga.

Aroma itu datang dari sepincuk nase’ sekkol tono (nasi dengan parutan kelapa bakar) –sajian tradisional khas Madura yang tak pernah absen di pagi hari.

Lebih dari sekadar menu sarapan, nase’ sekkol tono adalah bagian dari napas kehidupan masyarakat pesisir timur Sumenep.

Cita rasa nasi hangat yang dibalut parutan kelapa bakar, daun jeruk purut, dan kencur tidak hanya nikmat di lidah, tapi juga mengusik kenangan.

Perpaduan aroma khas pesisir itu seolah mengajak siapa pun kembali ke masa kecil, duduk di beranda rumah, menikmati pagi sambil menyeruput teh hangat.

Yang membuatnya istimewa, nasi ini disajikan dalam balutan daun jati. Bungkus alami ini tidak hanya menjaga hangatnya sajian, tetapi juga menambahkan sentuhan aroma dedaunan yang menambah kelezatan.

Ditambah dengan pilihan lauk sederhana seperti tahu, tempe, telur, dan abon ikan laut, sensasi makan pun semakin lengkap. Nasi ini biasanya tersedia saat pagi hari.

Sutriyani, salah seorang penjual nase’ sekkol tono di Desa Romben Guna, berbagi kisah hangat dari rutinitas paginya.

Setiap Subuh, dagangannya nyaris tak pernah sepi pembeli. ”Kalau sudah dengar azan subuh, warga mulai berdatangan,” ujarnya sambil tersenyum.

Nasi berbungkus daun jati itu kerap menjadi bekal andalan para nelayan sebelum melaut atau dibungkus ibu-ibu untuk anak-anaknya yang hendak berangkat sekolah. Aromanya yang khas seakan menjadi penanda pagi di desa pesisir itu.

Tak perlu merisaukan harga. Cukup dengan Rp 3.000 hingga Rp 5.000, sepincuk nase’ sekkol tono tak hanya memuaskan rasa lapar, tapi juga menyimpan nilai kearifan lokal, kesederhanaan, dan budaya kuliner tradisional yang terus terjaga.

Baca Juga: Nasi Serpang, Kuliner yang Wajib Dicoba Wisatawan bila Berkunjung ke Bangkalan

Di tengah maraknya kuliner modern dan cepat saji, nase’ sekkol tono tetap bertahan sebagai simbol ketahanan kuliner tradisional.

Di tangan masyarakat Romben Guna, sepiring nasi bisa menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering kali tumbuh dari hal-hal paling sederhana. 

Editor : Ina Herdiyana
#pesisir #sumenep #pagi #tradisi #Kecamatan Dungkek #khas #nasi sekkol tono #Desa Romben Guna #kuliner