News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kearifan Lokal dalam Sepotong Tempe: Evolusi Kuliner Berbasis Fermentasi dalam Sejarah Kebudayaan Jawa

Ina Herdiyana • Senin, 9 Maret 2026 | 23:38 WIB

Asal mula pembuatan tempe. Sumber foto: Cookidoo
Asal mula pembuatan tempe. Sumber foto: Cookidoo

RadarBangkalan.id – Tempe merupakan salah satu makanan kebanggaan Indonesia yang memiliki sejarah sangat panjang.

Berbeda dengan tahu yang asalnya dipengaruhi oleh budaya Tiongkok, tempe murni lahir dari kreativitas masyarakat Jawa.

Bukti tertua mengenai keberadaan tempe tercatat dalam naskah kuno Serat Centhini yang ditulis sekitar abad ke-19.

Dalam naskah tersebut, diceritakan bahwa tempe sudah disajikan sebagai hidangan jamuan, yang menandakan bahwa makanan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu.

Awal mula terciptanya tempe diyakini terjadi secara tidak sengaja. Pada masa lalu, masyarakat sering membungkus kedelai rebus menggunakan daun pisang atau daun jati.

Ternyata, pada permukaan daun-daun tersebut terdapat jamur alami bernama jamur raizopus yang memicu proses fermentasi.

Jamur putih ini perlahan menyelimuti biji kedelai dan mengubah teksturnya menjadi padat serta empuk.

Penemuan sederhana ini kemudian dikembangkan secara turun-temurun, hingga masyarakat menemukan teknik ragi yang tepat untuk menghasilkan tempe dengan rasa yang lezat dan aroma yang khas.

Adapun tragedi yang cukup kelam tentang sejarah tempe yaitu tragedi tempe bongkrek. Tempe bongkrek tidak terbuat dari kedelai, melainkan dari ampas kelapa.

Tragedi ini terjadi ketika proses fermentasi ampas kelapa gagal dan justru memicu pertumbuhan bakteri berbahaya bernama Burkholderia gladioli pathovar cocovenenans.

Bakteri ini menghasilkan dua jenis racun yang sangat kuat, yaitu asam bongkrek dan toksoflavin.

Baca Juga: Pelaku UMKM Manfaatkan Bazar Takjil Ramadan untuk Tingkatkan Pendapatan

Racun asam bongkrek bekerja dengan cara menyerang sistem metabolisme sel tubuh secara sangat cepat sehingga korban yang mengonsumsinya sering kali mengalami kegagalan organ dalam waktu singkat setelah gejala awal seperti mual dan pusing muncul.

Tercatat banyak kasus keracunan massal yang merenggut ratusan nyawa di daerah pedesaan.

Karena sifat racunnya yang tidak hilang meski makanan telah dimasak, digoreng, atau direbus, tempe bongkrek menjadi ancaman yang sangat ditakuti.

Hal ini memicu pemerintah Indonesia untuk secara resmi melarang produksi dan penjualan tempe bongkrek sejak tahun 1980-an demi melindungi keselamatan masyarakat.

Pelarangan ini bertujuan untuk memutus rantai tragedi yang terus berulang akibat teknik pembuatan tradisional yang sulit dikontrol higienitasnya.

Meskipun sempat dianggap sebagai makanan rakyat dan simbol kemiskinan, posisi tempe kini telah naik kelas.

Banyak peneliti kesehatan dari berbagai negara mulai mengakui tempe sebagai superfood karena kandungan protein dan gizinya yang sangat tinggi, bahkan setara dengan daging.

Sejarah tempe mengajarkan kita bagaimana sebuah inovasi dari dapur tradisional bisa bertahan melintasi zaman dan bahkan diakui oleh dunia internasional.

Menikmati sepotong tempe bukan sekadar urusan perut, melainkan cara kita menghargai warisan budaya dan kecerdasan nenek moyang dalam mengolah bahan alam menjadi hidangan yang luar biasa. (Athoya Hanin)

 

Editor : Ina Herdiyana
#kebudayaan #tahu #jawa #Fermentasi #kearifan lokal #tempe #kuliner