RadarBangkalan.id - Sarden kalengan belakangan ramai diperbincangkan di media sosial setelah disebut bukan termasuk ultra processed food (UPF). Banyak orang kemudian menganggap produk ini otomatis lebih sehat dibanding makanan olahan lain.
Padahal, penilaian sehat atau tidaknya suatu makanan tidak hanya dilihat dari tingkat pemrosesan dalam klasifikasi NOVA.
Baca Juga: Viral Istilah UPF, Benarkah Semua Ultra-Processed Food Tidak Sehat?
Ada sejumlah faktor lain yang juga penting diperhatikan, mulai dari kandungan natrium hingga potensi paparan bahan kimia dari kemasan makanan.
Risiko BPA pada Sarden Kalengan
Salah satu sorotan terhadap makanan kaleng termasuk sarden adalah kandungan Bisphenol A (BPA).
Baca Juga: 5 Posisi Seks Minim Suara saat Menginap di Rumah Mertua
BPA merupakan senyawa kimia yang digunakan dalam resin epoksi pelapis bagian dalam kaleng makanan untuk mencegah korosi dan menjaga kualitas produk.
Dalam kondisi tertentu seperti panas ekstrem atau kerusakan kemasan, partikel BPA dapat bermigrasi ke makanan.
Baca Juga: Panu di Wajah dan Leher Susah Hilang? Ini Cara Mengatasinya dengan Benar
Paparan BPA dalam jumlah tinggi dikhawatirkan dapat berdampak pada kesehatan tubuh.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Keteknikan Pertanian tahun 2023 menemukan adanya migrasi BPA pada makanan kaleng, meski kadarnya masih berada di bawah batas aman Tolerable Daily Intake (TDI) sebesar 4 μg/kgBB/hari.
Baca Juga: Dokter Sebut Wajah Sembap Bisa Jadi Gejala Gagal Ginjal Stadium Akhir
Meski masih dianggap aman sesuai regulasi, sebagian ahli tetap mengingatkan kemungkinan akumulasi paparan dalam jangka panjang.
“Kaitannya dengan kontra indikasi kesehatannya adalah jika konsumsi makanan yang tercemar BPA terus menerus bisa mengganggu kesehatan terutama kesehatan metabolik, gangguan hormonal, dan bahkan kanker,” kata Iflan Nauval.
Kandungan Natrium Juga Perlu Diperhatikan
Selain BPA, kandungan natrium dalam makanan kaleng juga menjadi perhatian.
Baca Juga: Heatstroke Bisa Sebabkan Kejang hingga Hilang Kesadaran, IDAI Ungkap Tanda Awalnya
Asupan natrium berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan jantung, dan masalah kesehatan lainnya apabila dikonsumsi terlalu sering.
Karena itu, dokter menilai masyarakat sebaiknya tidak hanya fokus pada label UPF atau non-UPF saat memilih makanan.
Non-UPF Bukan Berarti Otomatis Lebih Sehat
Menurut dr Iflan, sarden kalengan memang lebih tepat dikategorikan sebagai processed food karena umumnya hanya melalui proses pembersihan dan sterilisasi.
Namun, status non-UPF tidak otomatis membuat suatu produk bebas risiko kesehatan.
Faktor lain seperti tambahan aditif, kandungan garam, gula, lemak, hingga kualitas kemasan tetap perlu diperhatikan.
Baca Juga: Viral di Instagram, Wanita Bekasi Derita TB Tulang sampai Harus Cuci Darah
“Namun demikian, apabila pabrikan menambahkan aditif-aditif tertentu yang tidak sesuai RDA-nya, maka bisa dikategorikan sebagai UPF,” jelasnya.
Para ahli mengingatkan bahwa pola makan sehat sebaiknya tetap mengutamakan keseimbangan gizi, variasi makanan, dan konsumsi dalam batas wajar.
Baca Juga: Kurang Tidur Bisa Sebabkan Obesitas? Ini Penjelasan Medisnya
Editor : Ubaidillah