RadarBangkalan.id - Banyak pelari pernah mengalami sensasi mendadak mulas atau kebelet buang air besar (BAB) saat akan memulai maupun ketika sedang mengikuti lomba lari. Kondisi ini sering kali merepotkan, terutama ketika jumlah toilet di area race terbatas.
Ternyata, fenomena tersebut bukan sekadar sugesti. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai runner's trot atau gangguan pencernaan yang dipicu aktivitas lari jarak jauh.
Baca Juga: PSG vs Arsenal Live di SCTV dan Vidio, Simak Jadwal Final Liga Champions 2026
Dokter spesialis olahraga, Antonius Andi Kurniawan, menjelaskan kondisi tersebut secara medis disebut exercise-induced gastrointestinal distress.
"Fenomena yang dialami 30-50 persen pelari jarak jauh, tapi masih kurang dibicarakan terbuka karena dianggap memalukan," kata dr Andi.
Kondisi ini lebih sering terjadi pada pelari yang mengikuti lomba endurance seperti half marathon maupun full marathon.
Baca Juga: PSG vs Arsenal Live di SCTV dan Vidio, Simak Jadwal Final Liga Champions 2026
Penyebab Runner's Trot Saat Lari
Menurut dr Andi, setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan pelari mendadak merasa mulas atau kebelet BAB saat berlari.
1. Splanchnic Ischemia
Saat berlari dengan intensitas tinggi, tubuh akan memprioritaskan aliran darah ke otot dan kulit untuk membantu pelepasan panas.
Akibatnya, aliran darah ke sistem pencernaan dapat berkurang drastis hingga 80 persen.
Baca Juga: Jangan Asal Simpan! Ini Cara Mengawetkan Daging Kurban yang Benar
"Usus yang kekurangan oksigen menjadi lebih sensitif, motilitasnya terganggu, dan permeabilitasnya meningkat," jelasnya.
Kondisi inilah yang kemudian memicu rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.
2. Mechanical Jostling
Faktor berikutnya adalah guncangan berulang yang dialami organ pencernaan selama berlari.
Baca Juga: Main HP sampai Larut Malam Bisa Tingkatkan Risiko Hipertensi dan Stroke
Dalam satu lomba maraton, seorang pelari bisa melakukan lebih dari 40 ribu langkah kaki. Guncangan terus-menerus tersebut memberikan tekanan mekanis pada usus dan saluran cerna.
"Ini merupakan agitasi mekanis yang sangat signifikan untuk usus," kata dr Andi.
3. Perubahan Hormon
Olahraga intensitas tinggi juga memicu lonjakan hormon tertentu dalam tubuh, termasuk adrenalin dan motilin.
Baca Juga: Kisah Aubrey Hasley, Usia 22 Tahun Alami Stroke Diawali Telinga Berdenging
Peningkatan hormon tersebut dapat merangsang kontraksi usus sehingga memunculkan sensasi mulas atau keinginan untuk BAB.
Kapan Pelari Harus Berhenti?
Saat mengalami runner's trot, sebagian pelari memilih tetap melanjutkan lomba, sementara yang lain memutuskan berhenti atau tidak menyelesaikan balapan.
Menurut dr Andi, kedua pilihan tersebut merupakan keputusan pribadi yang sah.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Sarden Kalengan Penyok, Ini Risiko BPA dan Kontaminasi Bakteri
Namun, ada beberapa tanda bahaya atau red flags yang tidak boleh diabaikan dan seharusnya membuat pelari segera menghentikan aktivitasnya.
Tanda-tanda tersebut meliputi:
Baca Juga: Sariawan hingga Bibir Bengkak, Benarkah Kumur Air Garam Bisa Membantu?
- Muncul darah pada tinja, baik berwarna merah segar maupun hitam pekat.
- Nyeri perut hebat yang berbeda dari kram biasa.
- Pusing berat, pandangan berkunang-kunang, atau hampir pingsan.
- Tanda dehidrasi berat seperti urine sangat pekat dan tidak berkeringat meski cuaca panas.
- Demam atau muntah berulang.
Menurut dr Andi, kondisi tersebut dapat mengindikasikan gangguan yang lebih serius, termasuk kemungkinan ischemic colitis yang memerlukan penanganan medis.
"Tanpa red flags ini, dan jika pelari memang siap menanggung konsekuensi, secara medis biasanya tidak sampai membahayakan jiwa. Tapi yang perlu disadari, mengejar podium dengan mengabaikan sinyal tubuh adalah pertaruhan," ujarnya.
Baca Juga: Kulit Sering Gatal dan Badan Linu, Apakah Tanda Imun Tubuh Bermasalah?
Editor : Ubaidillah