RadarBangkalan.id - Hari perlombaan atau race day menjadi momen yang paling dinanti oleh banyak pelari. Berbagai persiapan dilakukan jauh-jauh hari, mulai dari latihan, pemilihan sepatu terbaik, hingga menyusun strategi untuk mencetak Personal Best (PB).
Namun, tidak semua pelari bisa menikmati momen tersebut dengan tenang. Sebagian justru mengalami rasa gugup berlebihan yang memicu berbagai keluhan fisik, salah satunya perut mendadak mulas hingga bolak-balik ke toilet sebelum lomba dimulai.
Baca Juga: Gejala Stroke pada Anak Muda Kerap Tak Disadari, Ini Tanda-Tandanya
Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO, kondisi tersebut memang umum terjadi pada pelari dan dikenal sebagai anxiety pre-race atau kecemasan sebelum perlombaan.
Kecemasan Sebelum Lomba Bisa Memengaruhi Pencernaan
dr Andi menjelaskan bahwa rasa gugup sebelum perlombaan dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis bahkan sebelum aba-aba start diberikan.
"Anxiety pre-race mengaktifkan sistem saraf simpatis bahkan sebelum start gun," jelasnya.
Baca Juga: Viral Wanita Kena Kanker Kulit Usai 18 Tahun Pakai UV Nail Lamp, Ini Kata Dokter
Kondisi ini berkaitan dengan gut-brain axis, yaitu hubungan antara otak dan sistem pencernaan yang telah banyak dibuktikan dalam dunia medis.
Saluran cerna memiliki sistem saraf tersendiri yang disebut enteric nervous system. Sistem ini sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional seseorang, termasuk stres dan kecemasan.
Akibatnya, banyak pelari yang merasa ingin buang air besar berulang kali menjelang perlombaan, meskipun sebelumnya sudah ke toilet.
Baca Juga: Kenapa Pelari Sering Kebelet BAB Saat Race? Ini Penjelasan Dokter Olahraga
"Itu sebabnya banyak pelari harus bolak-balik toilet dua sampai tiga kali sebelum start, padahal sudah BAB sebelumnya," ujar dr Andi.
Kurang Tidur Bisa Memperparah Kondisi
Selain faktor kecemasan, kurang tidur pada malam sebelum perlombaan juga dapat memperburuk kondisi pencernaan.
Baca Juga: Jangan Asal Simpan! Ini Cara Mengawetkan Daging Kurban yang Benar
Menurut dr Andi, kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu keseimbangan sistem saraf otonom, meningkatkan kadar hormon stres kortisol, dan membuat saluran cerna lebih sensitif terhadap tekanan fisik maupun mental.
"Kurang tidur mengganggu regulasi otonom, meningkatkan baseline kortisol, dan menurunkan toleransi saluran cerna terhadap stres fisik," jelasnya.
Tak jarang, pelari yang telah menjalani program latihan dengan baik tetap mengalami gangguan pencernaan karena tidak mendapatkan istirahat yang cukup menjelang race day.
Persiapan Mental Sama Pentingnya dengan Latihan Fisik
dr Andi menekankan bahwa keberhasilan menghadapi perlombaan tidak hanya ditentukan oleh latihan fisik, tetapi juga kesiapan mental dan kualitas tidur.
Baca Juga: Main HP sampai Larut Malam Bisa Tingkatkan Risiko Hipertensi dan Stroke
Mengelola stres, menjaga ketenangan menjelang lomba, serta memastikan waktu tidur yang cukup dapat membantu mengurangi risiko gangguan pencernaan saat race day.
Dengan persiapan yang seimbang antara fisik dan mental, pelari memiliki peluang lebih besar untuk tampil optimal dan mencapai target waktu yang diinginkan.
Editor : Ubaidillah