News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

BPOM Ungkap Potensi Harga Obat Naik Akibat Rupiah Melemah, Ini Strateginya

Ubaidillah • Rabu, 3 Juni 2026 | 06:31 WIB
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. (Foto: detikHealth/Averus)
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. (Foto: detikHealth/Averus)

 

RadarBangkalan.id - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, mengungkapkan adanya potensi kenaikan harga obat di Indonesia seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Taruna, kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap industri farmasi nasional karena sebagian besar bahan baku obat masih bergantung pada impor dari luar negeri.

Baca Juga: Rahasia Awet Muda Jerry Yan di Usia 49 Tahun, Rajin Olahraga hingga Jarang Main HP

"Industri farmasi agar tetap bisa bertahan tentu akan melakukan penyesuaian harga. Namun kami berharap kenaikannya tidak terlalu tinggi," ujar Taruna saat ditemui di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Ketergantungan Impor Bahan Baku Tekan Industri Farmasi

Taruna menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi biaya produksi obat. Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku impor otomatis meningkat.

Baca Juga: Sering Begadang karena Main HP? Dokter Ingatkan Risiko Stroke Meningkat

Selain faktor kurs, kondisi global seperti konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok internasional juga ikut berdampak pada ketersediaan serta harga bahan baku farmasi.

Akibatnya, produsen obat menghadapi tekanan biaya yang lebih besar sehingga berpotensi melakukan penyesuaian harga produk di pasaran.

Baca Juga: Dadan Hindayana Buka Suara Usai Dicopot dari Kepala BGN, Singgung Hak Prerogatif Presiden

BPOM Siapkan Strategi Menahan Lonjakan Harga Obat

Untuk mengurangi dampak kenaikan biaya produksi, BPOM bersama pemangku kepentingan terkait menyiapkan sejumlah langkah strategis.

Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding

Salah satunya adalah mendorong diversifikasi pemasok bahan baku obat dengan mencari sumber dari negara lain yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Selain itu, industri farmasi juga didorong melakukan efisiensi, termasuk pada aspek kemasan dan distribusi, agar harga jual obat tetap terjangkau bagi masyarakat.

"Suplai bahan baku yang sebelumnya berasal dari satu negara bisa dialihkan ke negara lain yang lebih kompetitif. Dengan kebijakan seperti ini, kami berharap harga obat dapat ditekan atau setidaknya tetap stabil," jelas Taruna.

Baca Juga: Benjolan di Leher Belum Tentu Gondongan, Dokter Jelaskan Bedanya dengan Gondok

Pemerintah Berupaya Menjaga Stabilitas Harga

Meski mengakui adanya tekanan terhadap harga obat, Taruna optimistis berbagai kebijakan yang telah disiapkan mampu meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku akibat penguatan dolar AS dan kondisi ekonomi global memang sulit dihindari. Namun pemerintah berupaya agar penyesuaian harga tidak terjadi secara ekstrem.

Baca Juga: Apakah Nutrisi Susu Hilang Setelah Dipanaskan? Profesor IPB Beri Penjelasan

"Kita tidak bisa menutup mata. Saat dolar naik, konflik global masih berlangsung, dan bahan baku berkurang, harga tentu bisa naik. Yang kami harapkan kenaikannya tidak terlalu signifikan," ujarnya.

BPOM menegaskan akan terus memantau perkembangan industri farmasi nasional guna memastikan ketersediaan obat tetap terjaga dan harga produk kesehatan tetap dapat dijangkau masyarakat.

Editor : Ubaidillah
#harga obat #industri farmasi #bahan baku obat #bpom #nilai tukar rupiah