Kista Ovarium Makin Banyak Ditemukan pada Usia Muda, Dokter Ungkap Penyebabnya

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 4 Juni 2026 | 06:52 WIB
Foto ilustrasi: Getty Images/Sewcream
Foto ilustrasi: Getty Images/Sewcream

 

RadarBangkalan.id - Kista ovarium menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin sering ditemukan pada perempuan usia muda, bahkan pada remaja. Kondisi ini kerap menimbulkan kekhawatiran karena sering dikaitkan dengan gangguan kesuburan hingga risiko kanker.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Med. Firman Santoso, SpOG, menjelaskan bahwa tidak semua kista ovarium bersifat berbahaya. Secara umum, perempuan memiliki dua jenis kista ovarium, yaitu kista fungsional dan kista disfungsional.

Baca Juga: Minuman Manis Bisa Picu Gagal Ginjal, Kemenkes Soroti Konsumsi Tinggi pada Anak

Kista fungsional merupakan bagian dari proses alami siklus menstruasi. Kista ini terbentuk saat sel telur berkembang di ovarium dan biasanya akan hilang dengan sendirinya.

"Setiap wanita yang masih berada pada masa reproduksi sebelum menopause pasti memiliki kista fungsional atau hormonal. Kista ini muncul dan menghilang secara alami mengikuti siklus menstruasi," jelas dr Firman.

Menurutnya, kista fungsional akan terus terjadi sepanjang masa subur seorang perempuan hingga memasuki menopause.

Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Kanker Darah di Kulit yang Sering Dianggap Sepele

Kista Disfungsional Jadi Masalah yang Perlu Diwaspadai

Berbeda dengan kista fungsional, kista disfungsional terbentuk akibat gangguan pada ovarium dan membutuhkan perhatian medis lebih lanjut.

Baca Juga: Momen Dadan Hindayana Digelandang ke Mobil Tahanan Usai Jadi Tersangka Korupsi BGN

Ada berbagai jenis kista disfungsional yang sering ditemukan, salah satunya adalah kista endometriosis yang cukup umum terjadi pada perempuan usia produktif.

Selain itu, terdapat pula kista dermoid yang merupakan kista bawaan. Kista jenis ini dapat berisi jaringan seperti rambut, gigi, hingga tulang.

Baca Juga: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka Korupsi Program MBG, Kejagung Ungkap Modusnya

"Kista dermoid sering disalahartikan oleh masyarakat karena isinya bisa berupa rambut, gigi, atau tulang. Padahal ini merupakan kondisi medis yang memang bisa terjadi," ujar dr Firman.

Jenis lain yang juga sering ditemukan meliputi mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, hingga fibroma yang memiliki komponen tumor padat.

Gaya Hidup Jadi Faktor Risiko Utama

Dr Firman mengungkapkan bahwa perempuan usia 20 hingga 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kista ovarium disfungsional.

Salah satu faktor yang paling sering ditemukan adalah pola hidup yang kurang sehat. Kebiasaan sehari-hari seperti kurang olahraga, kelebihan berat badan, dan pola makan tidak seimbang dapat meningkatkan risiko terbentuknya kista ovarium.

Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding

"Yang paling sering kami temukan adalah faktor gaya hidup. Misalnya berat badan berlebih, jarang berolahraga, terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi gula, karbohidrat berlebih, dan kurang protein," jelasnya.

Menurut dr Firman, kondisi tersebut dapat memicu munculnya berbagai jenis kista seperti endometriosis, mucinous cystadenoma, maupun serous cystadenoma.

Kista pada Usia Lanjut Perlu Diwaspadai

Sementara itu, kemunculan kista ovarium pada perempuan berusia 60 tahun ke atas perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya, pada kelompok usia ini terdapat risiko yang lebih tinggi terhadap kanker ovarium.

Karena itu, pemeriksaan rutin dan evaluasi medis sangat penting dilakukan apabila ditemukan benjolan atau keluhan yang mengarah pada kista ovarium.

Baca Juga: Rahasia Awet Muda Jerry Yan di Usia 49 Tahun, Rajin Olahraga hingga Jarang Main HP

Penanganan Kista Kini Lebih Modern

Kemajuan teknologi medis membuat penanganan kista ovarium kini jauh lebih efektif dan minim rasa sakit. Banyak kasus dapat ditangani menggunakan metode laparoskopi, yaitu operasi dengan sayatan kecil menggunakan kamera khusus.

Melalui prosedur ini, dokter hanya membuat beberapa lubang kecil berukuran sekitar 5 milimeter pada area perut.

Baca Juga: Sering Begadang karena Main HP? Dokter Ingatkan Risiko Stroke Meningkat

"Bahkan pada beberapa kasus kanker ovarium stadium awal, tindakan laparoskopi bisa menjadi pilihan. Pasien umumnya dapat pulang dalam waktu satu hingga dua hari setelah operasi," kata dr Firman.

Metode ini dinilai lebih nyaman karena proses pemulihan lebih cepat dibandingkan operasi terbuka.

Editor : Ubaidillah
kesehatan reproduksi kista ovarium kesehatan wanita kista disfungsional pengobatan kista