RadarBangkalan.id - Diagnosis gagal ginjal kronis stadium 5 sering dianggap sebagai kondisi yang mengharuskan pasien menjalani dialisis atau cuci darah dalam jangka panjang. Namun, kisah seorang bocah berusia tujuh tahun di India menghadirkan secercah harapan.
Meski didiagnosis mengidap penyakit ginjal kronis stadium akhir, bocah tersebut berhasil menjalani hidup normal tanpa ketergantungan pada mesin dialisis setelah mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Baca Juga: Pria Ini Nekat Buka 'Pabrik Sperma' Ilegal di Media Sosial, Klaim Sudah Punya 180 Anak
Awalnya Dikira Penyakit Biasa
Kisah ini bermula pada Maret 2025 ketika bocah tersebut mengalami berbagai gejala yang tampak seperti penyakit umum. Kondisinya terus memburuk dengan munculnya pembengkakan di seluruh tubuh, penurunan produksi urine, kelelahan ekstrem, hilangnya nafsu makan, serta menurunnya aktivitas sehari-hari secara drastis.
Keluarga kemudian membawanya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Baca Juga: Bocah 7 Tahun Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Awalnya Dikira Penyakit Biasa
Dari hasil evaluasi medis mendalam, dokter menemukan bahwa pasien mengalami Congenital Anomalies of the Kidney and Urinary Tract (CAKUT), yaitu kelainan bawaan yang memengaruhi perkembangan ginjal dan saluran kemih.
Kelainan tersebut menyebabkan kedua ginjal pasien mengalami hipodisplasia, yakni kondisi ketika ginjal berukuran lebih kecil dari normal dan tidak berkembang secara optimal. Akibatnya, kemampuan ginjal untuk menyaring darah terus menurun hingga mencapai stadium lanjut.
Baca Juga: Viral Tren Strava Fridge, Profesor IPB Ungkap Bahaya Sering Buka-Tutup Kulkas Minimarket
Dokter Memilih Terapi Konservatif
Sebelum dirawat di rumah sakit tersebut, pasien sempat menjalani beberapa sesi dialisis.
Namun karena usia pasien yang masih sangat muda, tim dokter memutuskan untuk mengambil pendekatan berbeda. Mereka menghentikan sementara dialisis dan menerapkan terapi konservatif yang bertujuan menjaga fungsi ginjal yang masih tersisa serta memperlambat progresivitas penyakit.
Baca Juga: Minuman Manis Bisa Picu Gagal Ginjal, Kemenkes Soroti Konsumsi Tinggi pada Anak
Selama 7 hingga 10 hari, pasien mendapatkan perawatan intensif yang mencakup:
- Pemberian obat-obatan sesuai kondisi klinis.
- Pemantauan fungsi ginjal secara ketat.
- Pengaturan pola makan khusus.
- Perbaikan gaya hidup dan asupan nutrisi.
- Pengawasan cairan tubuh secara berkala.
Pendekatan ini difokuskan untuk menstabilkan kondisi tubuh dan mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut.
Kondisi Berangsur Membaik
Hasil terapi yang diberikan ternyata menunjukkan perkembangan positif. Tubuh pasien merespons pengobatan dengan baik dan kondisinya semakin stabil dari waktu ke waktu.
Setelah menjalani pemantauan rutin selama satu tahun terakhir, bocah tersebut kini dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan kondisi kesehatan yang stabil tanpa perlu kembali menjalani cuci darah.
Menurut konsultan nefrologi anak dari Rumah Sakit Kailash, Dr Neha V Pandey, kelainan ginjal bawaan menjadi penyebab utama penyakit ginjal kronis pada anak.
Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Kanker Darah di Kulit yang Sering Dianggap Sepele
"Kelainan ginjal bawaan merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis pada anak-anak. Sering kali gejala awal tidak jelas sehingga baru terdeteksi ketika kondisi sudah berkembang lebih lanjut," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat memperlambat perkembangan penyakit secara signifikan.
CAKUT Menyumbang Hampir Separuh Kasus Gagal Ginjal Anak
Dr Pandey menjelaskan bahwa CAKUT menyumbang sekitar 40 hingga 50 persen kasus penyakit ginjal kronis pada anak.
Kelainan ini dapat berupa:
- Ginjal tidak terbentuk sejak lahir (aplasia).
- Ginjal berukuran kecil atau hipodisplastik.
- Penyakit ginjal kistik.
- Gangguan aliran urine.
- Refluks vesikoureterik atau aliran balik urine ke ginjal.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Selain faktor bawaan, penyakit ginjal kronis pada anak juga dapat dipicu oleh infeksi ginjal berulang, glomerulonefritis, penyakit ginjal keturunan, gangguan metabolisme tertentu, hingga penggunaan obat yang dapat merusak ginjal.
Gaya Hidup Modern Ikut Meningkatkan Risiko
Dokter juga menyoroti meningkatnya kasus gangguan ginjal pada anak-anak dalam beberapa tahun terakhir.
Selain faktor genetik dan kelainan bawaan, perubahan pola hidup modern disebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan ginjal sejak usia dini.
Beberapa faktor yang perlu diwaspadai antara lain:
Baca Juga: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka Korupsi Program MBG, Kejagung Ungkap Modusnya
- Konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan.
- Makanan olahan tinggi garam.
- Minuman manis dengan kadar gula tinggi.
- Kurang minum air putih.
- Sembelit kronis.
- Kebiasaan menahan buang air kecil atau buang air besar.
- Kurang tidur.
- Waktu penggunaan gawai dan layar yang berlebihan.
Baca Juga: Sering Begadang karena Main HP? Dokter Ingatkan Risiko Stroke Meningkat
Orang tua dianjurkan untuk memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, serta kebiasaan sehari-hari anak guna menjaga kesehatan ginjal sejak dini.
Editor : Ubaidillah