RadarBangkalan.id - Olahraga merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, aktivitas fisik yang dilakukan secara berlebihan ternyata dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan, termasuk meningkatkan risiko kerusakan ginjal.
Kasus ini dialami oleh sejumlah orang yang harus menjalani perawatan rumah sakit setelah mengikuti latihan olahraga dengan intensitas tinggi. Salah satu kondisi yang menjadi perhatian para ahli adalah rhabdomyolysis, gangguan yang terjadi akibat kerusakan otot ekstrem.
Baca Juga: Hidden Sugar Jadi Jebakan Diet, Ahli Ungkap Cara Membaca Label Nutrisi yang Benar
Wanita Masuk Rumah Sakit Usai Kelas Bersepeda Indoor
Seorang wanita di Amerika Serikat, Savanna Stebbins, sempat membagikan pengalamannya melalui media sosial pada Maret 2025. Ia harus dirawat di rumah sakit setelah mengikuti kelas bersepeda indoor dan didiagnosis mengalami rhabdomyolysis akibat latihan yang terlalu intens.
Kasus serupa juga terjadi pada Atrina Lau di Malaysia pada 2021. Setelah mengikuti sesi latihan spinning atau sepeda statis, ia mengalami peningkatan kadar kreatin kinase pada tingkat yang sangat berbahaya.
Tim medis yang menanganinya memperingatkan bahwa tanpa perawatan segera, kondisinya berpotensi berkembang menjadi gagal ginjal.
Baca Juga: Pria Ini Nekat Buka 'Pabrik Sperma' Ilegal di Media Sosial, Klaim Sudah Punya 180 Anak
Apa Itu Rhabdomyolysis?
Rhabdomyolysis merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan berat sehingga melepaskan berbagai zat ke dalam aliran darah, termasuk kreatin kinase (CK) dan mioglobin.
Baca Juga: Bocah 7 Tahun Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Awalnya Dikira Penyakit Biasa
Menurut Profesor Klinis Asosiasi Nefrologi UCLA Health, Dr Niloofar Nobakht, aktivitas fisik yang terlalu berat menjadi salah satu pemicu utama kondisi tersebut.
Ketika otot mengalami kerusakan masif, mioglobin yang dilepaskan ke dalam darah dapat menyumbat dan merusak ginjal. Akibatnya, fungsi penyaringan ginjal terganggu dan dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut jika tidak segera ditangani.
Baca Juga: Viral Tren Strava Fridge, Profesor IPB Ungkap Bahaya Sering Buka-Tutup Kulkas Minimarket
Selain olahraga berat, rhabdomyolysis juga dapat terjadi akibat trauma fisik seperti kecelakaan kendaraan bermotor atau cedera remuk.
Siapa yang Berisiko Mengalami Rhabdomyolysis?
Meski dapat dialami siapa saja, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini, antara lain:
- Atlet profesional.
- Pelari jarak jauh.
- Peserta latihan intensitas tinggi yang belum terbiasa.
- Polisi dan petugas pemadam kebakaran.
- Individu yang kembali berolahraga setelah lama berhenti.
Risiko semakin meningkat apabila seseorang memaksakan tubuh berlatih melebihi kemampuan fisiknya tanpa proses adaptasi yang cukup.
Baca Juga: Minuman Manis Bisa Picu Gagal Ginjal, Kemenkes Soroti Konsumsi Tinggi pada Anak
Gejala Rhabdomyolysis yang Harus Diwaspadai
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejala rhabdomyolysis dapat muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah cedera otot terjadi.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
- Nyeri otot yang jauh lebih berat dari biasanya.
- Kram dan pegal yang tidak wajar.
- Tubuh terasa sangat lemas.
- Tidak mampu menyelesaikan aktivitas atau latihan yang biasanya dapat dilakukan.
- Urine berwarna gelap seperti teh atau cola.
Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Kanker Darah di Kulit yang Sering Dianggap Sepele
Apabila gejala tersebut muncul setelah berolahraga berat, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Pentingnya Memulai Olahraga Secara Bertahap
Praktisi kebugaran dr Anita Suyani, SpKO, mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip "start low, go slow" dalam berolahraga.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Artinya, setiap jenis latihan sebaiknya dimulai dari intensitas rendah terlebih dahulu sebelum ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
Menurutnya, seseorang boleh mencoba meningkatkan kemampuan fisik atau push the limit, tetapi tidak sampai menimbulkan rasa sakit maupun cedera.
Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap beban latihan. Karena itu, orang yang sudah lama tidak berolahraga tidak disarankan langsung kembali ke intensitas latihan yang pernah dilakukan sebelumnya.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Cara Mencegah Kerusakan Ginjal Akibat Olahraga
Untuk mengurangi risiko rhabdomyolysis dan kerusakan ginjal akibat olahraga, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:
- Tingkatkan intensitas latihan secara bertahap.
- Pastikan tubuh terhidrasi dengan baik.
- Hindari olahraga berlebihan saat kondisi tubuh sedang tidak fit.
- Berikan waktu istirahat yang cukup bagi otot untuk pulih.
- Segera periksakan diri jika muncul nyeri otot berlebihan atau urine berubah warna menjadi gelap.
Dengan latihan yang terukur dan sesuai kemampuan tubuh, manfaat olahraga dapat diperoleh secara maksimal tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius seperti rhabdomyolysis dan gagal ginjal.
Baca Juga: Sering Begadang karena Main HP? Dokter Ingatkan Risiko Stroke Meningkat
Editor : Ubaidillah