RadarBangkalan.id - Budaya nongkrong di coffee shop kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama Generasi Z (Gen Z). Mulai dari mengerjakan tugas kuliah, bekerja dari kafe (Work From Cafe/WFC), hingga berkumpul bersama teman, segelas es kopi susu kekinian hampir selalu menjadi pilihan favorit.
Namun di balik popularitasnya, minuman ini ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Konsumsi gula, krimer, dan susu tinggi lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko perlemakan hati atau fatty liver.
Baca Juga: Diwarnai 3 Kartu Merah, Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik diabetes, Dicky Levenus Tahapary, menegaskan bahwa kopi pada dasarnya bukanlah masalah utama. Justru bahan tambahan yang dicampurkan ke dalam kopi menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Menurutnya, kandungan gula, krimer, hingga pemanis tertentu seperti sirup berbasis fruktosa dapat memicu penumpukan lemak di organ hati apabila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.
Bukan Kopi yang Bermasalah, tetapi Pemanisnya
Dr Dicky menjelaskan bahwa kopi hitam tanpa tambahan gula memiliki berbagai manfaat kesehatan dan bahkan dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2.
Namun kondisi tersebut berbeda ketika kopi dikonsumsi dengan tambahan gula berlebih, krimer, susu full cream, maupun sirup pemanis.
Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
Ia mengungkapkan bahwa kelebihan gula akan diubah oleh hati menjadi lemak. Jika proses ini berlangsung terus-menerus, lemak dapat menumpuk di dalam sel hati dan memicu fatty liver.
Selain itu, penggunaan krimer dan susu tinggi lemak jenuh juga dapat menambah beban kerja hati serta memperburuk gangguan metabolisme tubuh.
Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes
Fatty Liver Meningkat pada Usia Produktif
Perlemakan hati kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda dan produktif. Pola makan tinggi gula, minuman manis, kurang aktivitas fisik, serta obesitas menjadi faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus fatty liver.
Kondisi ini sering disebut sebagai silent killer karena pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas. Banyak penderita baru mengetahui adanya gangguan hati saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin atau ketika penyakit telah berkembang menjadi lebih serius.
Baca Juga: Klaim Membengkak, BPJS Kesehatan Butuh Suntikan Dana Rp 20 Triliun
Jangan Terkecoh Label Less Sugar
Menurut dr Dicky, masyarakat juga perlu lebih kritis terhadap label "less sugar" yang sering digunakan pada minuman kekinian.
Meskipun disebut mengandung gula lebih rendah, rasa minuman tersebut dalam banyak kasus masih tergolong sangat manis. Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi setiap hari.
Ia menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada kopi, melainkan pada tambahan gula dan berbagai bahan aditif yang membuat kandungan kalorinya meningkat secara signifikan.
Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Takut Dokter Gigi, Coba Program First Dental Visit dari Medikids
Cara Lebih Sehat Menikmati Kopi
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan seperti fatty liver, para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana:
- Memilih kopi hitam tanpa gula tambahan.
- Mengurangi penggunaan krimer dan sirup pemanis.
- Memilih susu rendah lemak bila diperlukan.
- Membatasi konsumsi minuman kopi manis setiap hari.
- Mengimbangi dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik rutin.
Dengan pengaturan konsumsi yang tepat, kopi tetap dapat dinikmati tanpa harus meningkatkan risiko gangguan kesehatan hati di kemudian hari.
Baca Juga: Anak Usia Berapa Boleh Diberi Susu Formula? Ini Kata Prof Rini Sekartini
Editor : Ubaidillah