RadarBangkalan.id - Anggapan bahwa pemilik golongan darah O lebih mudah mengalami kolesterol tinggi masih sering terdengar di masyarakat. Sebagian orang percaya bahwa golongan darah tertentu dapat memengaruhi risiko penyakit, termasuk gangguan kadar kolesterol.
Namun, apakah benar golongan darah O membuat seseorang lebih rentan mengalami kolesterol tinggi?
Baca Juga: Tanda Awal Kanker Pankreas Bisa Terlihat dari Feses? Ini Temuan Penelitian Terbaru
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk memastikan golongan darah tertentu memiliki risiko kolesterol tinggi lebih besar dibandingkan golongan darah lainnya.
"Beberapa penelitian memang menemukan adanya kadar kolesterol yang lebih tinggi pada individu bergolongan darah O dibandingkan golongan darah lainnya. Namun, ada pula penelitian yang menunjukkan tidak ada hubungan antara golongan darah ABO dengan kadar kolesterol darah," ujarnya.
Penelitian Soal Golongan Darah dan Kolesterol Masih Beragam
Hubungan antara sistem golongan darah ABO dan kadar kolesterol masih menjadi perdebatan dalam penelitian medis.
Beberapa studi menemukan adanya perbedaan kadar kolesterol pada kelompok golongan darah tertentu. Namun, hasil penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang konsisten.
Baca Juga: 4 Laga Piala Dunia 2026 Hari Ini, Jerman vs Curacao dan Belanda vs Jepang Jadi Sorotan
Karena hasilnya belum seragam, golongan darah belum dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan apakah seseorang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kolesterol tinggi.
Artinya, seseorang dengan golongan darah O tetap bisa memiliki kadar kolesterol normal, sementara orang dengan golongan darah lain juga dapat mengalami kolesterol tinggi.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Gaya Hidup Lebih Menentukan Kadar Kolesterol
Menurut dr Christy, faktor yang jauh lebih berpengaruh terhadap kadar kolesterol adalah kebiasaan hidup sehari-hari.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi antara lain:
- Pola makan tinggi lemak jenuh.
- Kurang aktivitas fisik.
- Berat badan berlebih atau obesitas.
- Kebiasaan merokok.
- Konsumsi alkohol berlebihan.
Makanan tinggi lemak jenuh seperti makanan berminyak, daging berlemak, serta makanan olahan tertentu dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol "jahat".
Selain gaya hidup, beberapa kondisi medis juga dapat memengaruhi kadar kolesterol, seperti:
Baca Juga: BGN Evaluasi Insentif Dapur MBG Rp6 Juta per Hari, Berpotensi Diubah atau Dihentikan
- Diabetes.
- Gangguan ginjal.
- Penyakit hati.
- Gangguan kelenjar tiroid.
Faktor Genetik Juga Berperan
Selain pola hidup, faktor keturunan juga memiliki pengaruh besar terhadap kadar kolesterol seseorang.
Salah satu contohnya adalah familial hypercholesterolemia, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan kadar kolesterol tinggi sejak usia muda.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Kondisi tersebut membuat seseorang dapat mengalami kolesterol tinggi meskipun sudah menerapkan pola hidup sehat.
"Usia dan jenis kelamin juga dapat memengaruhi kadar kolesterol seseorang," jelas dr Christy.
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
Cara Menjaga Kolesterol Tetap Sehat
Karena belum ada bukti kuat mengenai hubungan golongan darah dengan kolesterol tinggi, masyarakat disarankan lebih fokus menjaga pola hidup dibandingkan mengkhawatirkan jenis golongan darah yang dimiliki.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Membatasi makanan tinggi lemak jenuh.
- Mengurangi konsumsi makanan olahan.
- Rutin melakukan aktivitas fisik atau olahraga.
- Menjaga berat badan tetap ideal.
- Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Pemeriksaan kolesterol secara rutin penting dilakukan agar perubahan kadar kolesterol dapat diketahui lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang sesuai.
Kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda
Dengan demikian, bukan golongan darah yang menjadi penentu utama risiko kolesterol tinggi, melainkan kombinasi antara gaya hidup, faktor genetik, usia, dan kondisi kesehatan seseorang.
Editor : Ubaidillah