RadarBangkalan.id - Tren olahraga lari marathon terus meningkat karena dianggap menjadi simbol gaya hidup sehat dan aktif. Namun, di balik manfaatnya, olahraga dengan intensitas tinggi juga memiliki risiko serius apabila dilakukan tanpa persiapan dan pemahaman terhadap kemampuan tubuh.
Kasus seorang pelari yang mengalami kolaps hingga harus menjalani cuci darah akibat gangguan fungsi ginjal menjadi pengingat bahwa olahraga ekstrem tidak boleh dilakukan dengan memaksakan kondisi fisik.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Kenali Perbedaan Susu UHT, Susu Bubuk, dan Susu Kental Manis
Sejumlah pakar mengaitkan kondisi tersebut dengan rhabdomyolysis, yaitu kerusakan jaringan otot yang dapat melepaskan zat berbahaya ke dalam darah dan membebani kerja ginjal.
Kelelahan Akut Jadi Sinyal Bahaya
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa risiko rhabdomyolysis sebenarnya dapat dicegah apabila seseorang mampu mengenali batas kemampuan tubuh.
Menurutnya, salah satu tanda yang harus menjadi perhatian adalah munculnya kelelahan akut saat berolahraga.
Baca Juga: Pola Makan Ketat Cristiano Ronaldo Tanpa Cheat Day, Ini Dampak Positif dan Risikonya
"Kelelahan. Dipaksakan kok itu, sudah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," ujar dr Tunggul.
Ia menegaskan bahwa rasa lelah berlebihan bukan kondisi yang boleh diabaikan, terutama ketika seseorang tetap memaksa tubuh melanjutkan aktivitas berat seperti marathon.
Apa Itu Rhabdomyolysis?
Rhabdomyolysis merupakan kondisi medis serius yang terjadi ketika jaringan otot rangka mengalami kerusakan secara cepat.
Baca Juga: Ciri-Ciri Jamu Asli Vs Oplosan, Kenali Sebelum Dikonsumsi agar Tidak Tertipu
Saat sel otot mengalami kerusakan, berbagai zat di dalamnya seperti mioglobin dan elektrolit dapat masuk ke aliran darah. Dalam jumlah tertentu, mioglobin dapat memberikan beban berat pada ginjal dan meningkatkan risiko gangguan ginjal akut atau Acute Kidney Injury (AKI).
Kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:
- Aktivitas fisik yang terlalu berat.
- Trauma atau cedera otot.
- Dehidrasi berat.
- Faktor obat tertentu.
Olahraga ekstrem dengan durasi panjang seperti marathon menjadi salah satu aktivitas yang perlu diwaspadai apabila dilakukan tanpa persiapan fisik yang memadai.
Baca Juga: Dapur MBG Bakal Dibagi Kelas A, B, C, Insentif SPPG Tidak Lagi Sama
Gejala Rhabdomyolysis yang Perlu Diwaspadai
Gejala rhabdomyolysis dapat muncul dalam waktu satu hingga tiga hari setelah terjadi kerusakan otot. Tingkat keparahannya bisa berbeda pada setiap orang.
Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
- Nyeri atau kelemahan otot yang berat.
- Kelelahan ekstrem.
- Dehidrasi.
- Buang air kecil lebih jarang dari biasanya.
- Urine berwarna gelap.
- Mual.
- Penurunan kesadaran pada kondisi berat.
Tidak semua penderita mengalami gejala yang sama. Karena itu, perubahan kondisi tubuh setelah olahraga berat perlu diperhatikan.
Baca Juga: Aneh tapi Nyata, Pria Ini Punya Otak Sangat Kecil Akibat Hidrosefalus namun Tetap Bisa Bekerja
Gangguan Ginjal Akut Akibat Rhabdomyolysis Bisa Pulih
Meski dapat menyebabkan gangguan ginjal serius, rhabdomyolysis bukan berarti selalu menyebabkan kerusakan ginjal permanen.
dr Tunggul menjelaskan bahwa Acute Kidney Injury (AKI) memiliki beberapa tingkat keparahan. Pada tingkat awal, kondisi tersebut masih dapat pulih tanpa memerlukan cuci darah.
"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa pulih) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," jelasnya.
Baca Juga: Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari Ternyata Bisa Beri 5 Manfaat Besar untuk Tubuh
Menurutnya, semakin cepat kondisi tersebut ditangani sesuai indikasi medis, peluang pemulihan juga semakin besar.
Jangan Abaikan Sinyal Tubuh Saat Berlari
Marathon membutuhkan persiapan fisik, latihan bertahap, asupan cairan yang cukup, serta kemampuan mengenali batas tubuh.
Memaksakan diri ketika tubuh sudah menunjukkan tanda kelelahan berat justru dapat meningkatkan risiko cedera serius hingga gangguan organ.
Baca Juga: Kenali Tahapan Kanker Usus Besar dari Stadium 0 hingga 4, Ini Perubahan Feses yang Perlu Diwaspadai
Bagi pelari, kemampuan berhenti atau menurunkan intensitas ketika kondisi tidak memungkinkan merupakan bagian penting dari menjaga keselamatan selama berolahraga.
Editor : Ubaidillah