RadarBangkalan.id - Kisah perjuangan Rolivia Virginia (27), warga Jakarta Pusat, menjalani cuci darah akibat gagal ginjal stadium 5 menjadi perhatian publik setelah dibagikan melalui media sosial.
Melalui akun Instagram pribadinya, Rolivia menceritakan perjalanan panjang menghadapi penyakit ginjal yang dialaminya sejak usia muda. Kisah tersebut juga menjadi pengingat bahwa gagal ginjal tidak hanya menyerang orang lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada kelompok usia produktif.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
Rolivia mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium 5 pada tahun 2020, saat usianya masih 21 tahun.
"Pertama kali gagal ginjal stadium 5 itu diagnosisnya tahun 2020. Penyebabnya karena autoimun lupus," ujar Rolivia.
Lupus Menyerang Organ Tubuh hingga Ginjal
Sebelum mengalami gangguan ginjal, Rolivia telah mengidap penyakit autoimun lupus sejak 2017 ketika masih menjalani masa kuliah.
Baca Juga: Kanker Usus Buntu Meningkat pada Generasi Muda, Risiko Milenial hingga 4 Kali Lipat Lebih Tinggi
Lupus merupakan penyakit autoimun yang membuat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat dalam tubuh. Pada kasus Rolivia, penyakit tersebut tidak hanya berdampak pada satu organ.
Ia mengatakan lupus yang dialaminya sempat menyerang beberapa bagian tubuh, mulai dari saraf otak, kulit, hingga akhirnya menyebabkan kerusakan pada ginjal.
Gejala Gagal Ginjal yang Dialami Rolivia
Saat pertama kali mengalami masalah ginjal, Rolivia merasakan sejumlah gejala yang cukup berat.
Baca Juga: Pelari Marathon Kolaps hingga Cuci Darah, Kenali Bahaya Rhabdomyolysis Akibat Olahraga Ekstrem
Beberapa keluhan yang muncul antara lain:
• Tubuh mengalami pembengkakan.
• Mual.
• Gatal-gatal.
• Sesak napas akibat penumpukan cairan.
• Mengalami kejang hingga harus mendapat perawatan intensif di ruang High Care Unit (HCU).
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Kenali Perbedaan Susu UHT, Susu Bubuk, dan Susu Kental Manis
Salah satu gejala paling berat yang dialaminya adalah pembengkakan akibat cairan yang menumpuk di dalam tubuh.
Rolivia bahkan mengalami kenaikan berat badan hingga sekitar 30 kilogram sebelum menjalani cuci darah.
Baca Juga: Pola Makan Ketat Cristiano Ronaldo Tanpa Cheat Day, Ini Dampak Positif dan Risikonya
Rutin Cuci Darah dan Mengubah Pola Hidup
Sejak mendapatkan diagnosis gagal ginjal stadium 5, Rolivia harus menjalani terapi cuci darah secara rutin hingga saat ini.
Selain menjalani pengobatan medis, ia juga berusaha menjaga kondisi tubuh dengan mengubah pola hidup, terutama dalam mengatur asupan makanan dan minuman.
Salah satu hal yang diperhatikannya adalah membatasi konsumsi makanan tinggi kalium serta mengatur jumlah cairan yang masuk ke tubuh.
"Aku tetap makan buah walaupun porsinya sangat sedikit dan menghindari buah tinggi kalium seperti pisang, belimbing, atau kelapa," ungkapnya.
Menurut Rolivia, tidak semua makanan harus dihindari sepenuhnya. Yang terpenting adalah memahami batas konsumsi sesuai kondisi kesehatan.
Baca Juga: Ciri-Ciri Jamu Asli Vs Oplosan, Kenali Sebelum Dikonsumsi agar Tidak Tertipu
Gagal Ginjal Bisa Terjadi pada Usia Muda
Kasus Rolivia menunjukkan bahwa gagal ginjal dapat terjadi pada usia muda, terutama jika seseorang memiliki penyakit tertentu yang berisiko merusak fungsi ginjal.
Baca Juga: Dapur MBG Bakal Dibagi Kelas A, B, C, Insentif SPPG Tidak Lagi Sama
Selain lupus, beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal antara lain diabetes, tekanan darah tinggi, infeksi tertentu, hingga penggunaan obat tertentu tanpa pengawasan medis.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan tanda-tanda gangguan ginjal, seperti pembengkakan tubuh, perubahan jumlah urine, mudah lelah, mual berkepanjangan, atau sesak akibat penumpukan cairan.
Deteksi dini dan pengobatan yang tepat dapat membantu menjaga fungsi ginjal agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut.
Baca Juga: Aneh tapi Nyata, Pria Ini Punya Otak Sangat Kecil Akibat Hidrosefalus namun Tetap Bisa Bekerja
Editor : Ubaidillah