RadarBangkalan.id - Hipertensi atau tekanan darah tinggi selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Namun, kenyataannya kondisi ini kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda.
Hipertensi terjadi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri berada pada tingkat yang terlalu tinggi. Kondisi tersebut membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Baca Juga: Pelari Pemula Rentan Alami Rhabdomyolysis, Olahraga Berlebihan Bisa Picu Gagal Ginjal
Masalahnya, hipertensi sering tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga kerap disebut sebagai silent killer. Padahal, jika berlangsung lama tanpa pengendalian, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah, jantung, hingga organ vital lainnya.
Angka Hipertensi pada Anak Muda Terus Menjadi Perhatian
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hipertensi tidak hanya ditemukan pada kelompok usia lanjut.
Hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan prevalensi hipertensi pada:
Baca Juga: Ismael Kone Patah Kaki di Piala Dunia 2026, Dokter Jelaskan Kenapa Pemain Tak Langsung Merasa Sakit
- Kelompok usia 18-24 tahun mencapai 10,7 persen.
- Kelompok usia 25-34 tahun mencapai 17,4 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi sudah mulai menjadi perhatian pada kelompok remaja akhir hingga dewasa muda.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
Mengapa Anak Muda Bisa Mengalami Hipertensi?
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Berlian Idriansyah Idris, SpJP, mengatakan meningkatnya kasus hipertensi dan masalah jantung pada usia muda berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup.
Beberapa kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko antara lain:
Baca Juga: Kanker Usus Buntu Meningkat pada Generasi Muda, Risiko Milenial hingga 4 Kali Lipat Lebih Tinggi
- Kurang aktivitas fisik.
- Kebiasaan merokok.
- Pola makan tinggi garam, lemak, dan gula.
- Sering begadang.
- Kurang tidur.
- Tingkat stres yang tinggi.
Gaya hidup modern membuat banyak anak muda lebih sering menghabiskan waktu duduk, mengonsumsi makanan cepat saji, serta memiliki pola istirahat yang tidak teratur.
Bagaimana Hipertensi Merusak Jantung?
Tekanan darah tinggi memberikan beban tambahan bagi jantung. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi jantung.
Menurut dr Vito Damay, SpJP, salah satu dampak hipertensi adalah pembesaran jantung atau kardiomegali.
Baca Juga: Pelari Marathon Kolaps hingga Cuci Darah, Kenali Bahaya Rhabdomyolysis Akibat Olahraga Ekstrem
Jantung yang membesar dapat meningkatkan risiko:
- Gangguan irama jantung.
- Pembentukan gumpalan darah.
- Gangguan fungsi pompa jantung.
Selain itu, hipertensi juga dapat merusak pembuluh darah koroner yang memasok oksigen ke otot jantung.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Kenali Perbedaan Susu UHT, Susu Bubuk, dan Susu Kental Manis
Kerusakan tersebut dapat memicu pembentukan plak. Jika plak pecah dan menyumbat pembuluh darah, seseorang dapat mengalami:
- Serangan jantung.
- Kerusakan permanen otot jantung.
- Henti jantung mendadak.
Faktor Risiko Hipertensi pada Usia Muda
Dikutip dari Mayo Clinic, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi antara lain:
Baca Juga: Pola Makan Ketat Cristiano Ronaldo Tanpa Cheat Day, Ini Dampak Positif dan Risikonya
1. Konsumsi Garam Berlebihan
Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tubuh menahan lebih banyak cairan. Kondisi ini membuat volume darah meningkat sehingga tekanan pada pembuluh darah ikut naik.
2. Stres Berkepanjangan
Stres dapat meningkatkan tekanan darah sementara. Kebiasaan yang sering muncul saat stres seperti makan berlebihan, merokok, atau kurang tidur juga dapat memperburuk kondisi.
3. Kelebihan Berat Badan
Obesitas dapat menyebabkan perubahan pada pembuluh darah dan ginjal yang akhirnya meningkatkan tekanan darah.
Baca Juga: Ciri-Ciri Jamu Asli Vs Oplosan, Kenali Sebelum Dikonsumsi agar Tidak Tertipu
4. Kurang Aktivitas Fisik
Orang yang jarang bergerak lebih berisiko mengalami kenaikan berat badan dan memiliki tekanan darah lebih tinggi dibandingkan mereka yang aktif.
5. Faktor Genetik
Riwayat keluarga juga berperan. Seseorang memiliki risiko lebih besar mengalami hipertensi jika orang tua atau saudara kandungnya memiliki kondisi serupa.
Baca Juga: Dapur MBG Bakal Dibagi Kelas A, B, C, Insentif SPPG Tidak Lagi Sama
6. Kekurangan Kalium
Kalium membantu menjaga keseimbangan kadar garam dalam tubuh. Asupan kalium yang rendah dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Baca Juga: Aneh tapi Nyata, Pria Ini Punya Otak Sangat Kecil Akibat Hidrosefalus namun Tetap Bisa Bekerja
Pentingnya Rutin Cek Tekanan Darah
Karena hipertensi sering tidak menunjukkan gejala, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi kondisi ini sejak dini.
Tekanan darah normal umumnya berada di bawah 120/80 mmHg.
Seseorang dikategorikan mengalami hipertensi apabila tekanan darah mencapai atau melebihi 140/90 mmHg.
Baca Juga: Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari Ternyata Bisa Beri 5 Manfaat Besar untuk Tubuh
Menurut dr Berlian, pemeriksaan rutin juga diperlukan bagi orang yang sudah didiagnosis hipertensi untuk mengetahui apakah penyakit tersebut telah berdampak pada organ lain, terutama jantung dan ginjal.
Cara Mencegah Hipertensi Sejak Muda
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga tekanan darah tetap sehat antara lain:
- Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam.
- Membatasi makanan tinggi gula dan lemak.
- Berolahraga secara rutin.
- Menjaga berat badan ideal.
- Tidur cukup.
- Mengelola stres.
- Tidak merokok.
Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda
Hipertensi bukan lagi masalah kesehatan yang hanya perlu diwaspadai saat usia tua. Dengan perubahan gaya hidup dan pemeriksaan rutin, risiko komplikasi serius akibat tekanan darah tinggi dapat ditekan sejak dini.
Editor : Ubaidillah